A Good Revenge
October 16, 2011, by YOTCA. read: 1,397
Lisa Vinatalia – YOT CA Universitas Pelita Harapan
Mungkin beberapa orang pernah ngerasa kesel berat, terus saking keselnya sampe dendam kesumat. Contoh konkritnya deh, misalnya diselingkuhin pacar, dikhianatin temen, dibuli-buli dan hal-hal yang gak mengenakkan lainnya. Gak jarang pelampiasan dendamnya dengan cara bunuh orang, bunuh diri, pelet, nyumpahin yang enggak-enggak, dll. Yang bikin saya bingung kenapa ya mereka gak gunain cara dendam yang paling aman dan paling mujarab? Apa itu? Jadi orang sukses. Sukses yang saya maksud dalam arti yang positif lho
. Padahal kalo dipikir-pikir, ini cara yang paling efektif+aman+mujarab untuk bales dendam kesumat. Gimana enggak? Kalo sukses, sang pengkhianat akan ngerasa nyesel, sang mantan pacar akan ngiri, dan terlebih lagi orang yang suka ngebuli-buli langsung mingkem. Sayang masih banyak orang yang gak mau gunain cara yang paling modern ini yang worth dan lebih memilih cara tradisional yang gak worth untuk bales dendamnya.
Terinspirasi quote dari Peter Medalla “success is a good revenge” membuat saya berpikir lebih dalam mengenai mengapa dendam seperti ini jarang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seakan-akan nasib yang begitu buruk dijadikan alasan untuk berpikiran pesimis. Hanya beberapa orang saja yang termotivasi dari pengalamannya yang pahit itu. Kalo dipikir-pikir, terlalu berharga kalo hidup kita dikacauin sama hal-hal yang gak penting kayak gitu, terlebih lagi ketika pikiran negatif menguasai dan mengacaukan segalanya. Beda dengan orang-orang yang berpikiran positif, yang berpikir bahwa justru karena hal pahit itulah yang mendorong mereka untuk berusaha lebih agar membuktikan bahwa mereka bukan yang orang lain pikirkan.
No related posts.


