A Lesson to Learn
January 16, 2012, by YOTCA. read: 1,391
Halo, perkenalkan nama saya Risca Andalina, YOT CA dari Universitas Pelita Harapan. Selamat tahun baru semua pembaca artikel YOT. Tahun baru, resolusi baru, semangat yang diperbarui lagi untuk menjadi diri kita lebih baik lagi dari tahun lalu.
Senang sekali memang kita masih bisa berada disini, membaca artikel saya, dimanapun kalian berada. Itu pertanda bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita di tahun ini untuk memperbaiki diri kita, atau untuk meraih kembali mimpi-mimpi yang belum sempat diraih. Atau mungkin tahun ini menjadi kesempatan untuk kita lebih peduli dan membahagiakan orang-orang yang telah tulus mencintai kita. Tentunya saya sendiri sungguh sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menghirup oksigen hingga detik ini.
Setiap tahun berganti, saya selalu percaya ada hal yang pasti saya pelajari. Saat memasuki tahun 2012, ada hal kecil yang sering saya abaikan namun akhirnya dapat saya mengerti pelajarannya. Dalam artikel ini, saya akan sedikit sharing mengenai IKHLAS.
Ikhlas itu adalah satu kata yang hanya terdiri dari 6 huruf, namun saat mengaplikasikannya dalam dunia nyata, ternyata tidak semudah mengucapkannya. Apa lagi bagi seseorang yang perfectionist dan merasa tidak tenang jika ada sesuatu hal tidak berjalan dengan semestinya atau yang diharapkan.
Di tahun 2011, saya membuat banyak rencana, namun ada beberapa yang berhasil dijalankan dan sebagiannya lagi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan atau diharpkan. Rasanya hati dan kepala cenat-cenut, ketika ada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan.
Namun dari situlah saya belajar sesuatu. Saya mempelajari sesuatu hal yang sebenarnya sering diingatkan orang, namun saya malah seringkali mengabaikannya. Saya lupa untuk Ikhlas jika ada sesuatu hal yang tidak berjalan seperti apa yang saya inginkan. Saya lupa untuk lebih flexible terhadap rencana-rencana yang saya punya dan malah terus memaksakan sesuatu hal sesuai dengan yang saya mau. Sehingga ujung-ujungnya, tetap mengecawakan. (Saya tidak bisa menceritakan detailnya, tapi gambarannya kurang lebih seperti itu ;P)
Akhirnya, pengalaman dalam kehidupanlah yang mengajari saya dengan keras untuk belajar IKHLAS. Jika kehilangan sesuatu, harus ikhlas. Jika rencana awal gagal, harus ikhlas. Jika hal yang diinginkan tidak terjadi, harus ikhlas. Jika harus lama menunggu, harus ikhlas. Demikianlah yang saya pelajari di tahun 2011, dan saya berjanji tidak boleh melupakan bagaimana caranya ‘Let it go’ dan mengikhlaskannya.
Ikhlas dan Sabar, bagi saya juga tidak bisa dipisahkan jauh-jauh. Ketika saya sudah ikhlas, pasti saya akan jauh lebih sabar. Ketika saya sudah ikhlas dan sabar, akhirnya otak jernih saya bisa mengerti bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan, hingga akhirnya membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Jika kamu sedang sedih karena sedang gagal mencapai apa yang diinginkan, ditolak cintanya, abis patah hati, terlalu lama menunggu apapun itu, kehilangan sesuatu yang dicintai, dikhianati, dibohongi, tidak dimaafkan, saran saya adalah terima semua situasi yang sedang kamu hadapi itu sekarang. Ikhlaskan apapun yang terjadi padamu, sabar dan berserah diri pada mahluk yang menciptakanmu, yaitu Tuhanmu. Tidak ada yang abadi didunia ini, termasuk kesedihanmu, kekesalanmu, atau kegelisahanmu. Selalu ada jalan keluar bagi mereka yang ikhlas menghadapi situasi yang ada didepan matamu.
Saya sampaikan salam semangat buat semua orang di Indonesia yang membaca artikel ini. Kita pasti bisa!
Related posts:
- Lesson In High School (Winners)
- Learn and Earn
- LEARN TO APPRECIATE & RESPECT OTHERS
- What We Can Learn From Steve Jobs
- Learn New Things? Why Wait?


