Agama & Marital Status TIDAK PERLU Dicantumkan di CV
September 12, 2010, by billyboen. read: 7,927
Terinspirasi dari insiden yang terjadi beberapa waktu lalu, dan yang terjadi kembali hari ini (meski insiden hari ini belum diketahui siapa pelakunya dan apa motifnya)…tadi siang saya me-tweet di @BillyBoen :
- Interesting fact: Do U know Indonesia satu2nya (atau klpun ada yg lain, hanya segelintir negara) yg menuliskan agama di ID (KTP)?
- Agama, salah satu dr bbrp info pribadi yg TIDAK sy lihat ketika mensortir CV/Resume. Agama TIDAK PERLU dicantumkan dalam CV/Resume
- KTP dulu dpaksa ada agama sbg ‘prsyaratan’ km bkn PKI. Skg kbiasaan nulis agama d CV bs djadikan sumber diskriminasi oleh oknum2 interviewer
- Di CV saya, TIDAK PERNAH ADA agama & TIDAK PERNAH ADA marital status. Saya TIDAK PERNAH ada problem dptin kerjaan yg sy ingini
4 tweet yg otomatis terposting di wall facebook.com/billyboen mendapatkan 32 total comments. Ada yang ‘nerima’ ada juga yang ngga setuju dengan pendapat-pendapat saya itu. Beberapa kali saya coba untuk memberikan pemikiran saya lebih dalam daripada 140 characters yang bisa saya tulis di twitter dan beberapa paragraph di comment FB. Susah rasanya, and that’s why saya tulis artikel ini.
Di ‘akhir masa’ diskusi, saya mendapatkan 1 tweet yang ditujukan ke saya: “@BillyBoen yg td mnrt sy bukn diskusi,krn kalo sy prhatikan smua pndpt tmn2 dibabad hbs sama mas@BillyBoen..just coment. :)”
Jujur, bukan maksud ‘membabad habis’ pendapat teman-teman. Seperti yang saya bilang di atas, saya hanya mencoba berargumentasi dengan mereka yang tidak setuju dengan pemikiran saya. I respect their thoughts, and I would expect the same from them. Ingat tentang chapter “Open Minded” dan “Respect” di buku “Young On Top”?
Anyway, balik ke topik artikel ini. Apa yang saya mau sampaikan di sini begini…
Saya sudah mereview ribuan CV,membuang ribuan CV, dan meloloskan ratusan CV untuk ke proses selanjutnya, yaitu interview. Perlu digarisbawahi bahwa ketika saya membuang ribuan CV, dengan saya sadari, saya berusaha 1,000% untuk tidak melakukannya dengan mempertimbangan agama dan marital status mereka.
Yes, hampir rata-rata semua menuliskan agama dan marital status bersama dengan informasi personal mereka: nama, alamat, umur, nomor hp, dan alamat email. Seperti di salah satu tweet saya, saya tidak melihat agama dan marital status sebagai suatu pertimbangan dalam proses penyeleksian untuk kelanjutan proses berikutnya.
Sekadar untuk meluruskan apa yang sering menjadi salah persepsi yang ada di benak kebanyakan orang di Indonesia: CV itu BUKAN untuk mendapatkan pekerjaan tapi CV itu untuk mendapatkan kesempatan dipanggil interview. Interviewlah (dan dibeberapa perusahaan psikotes juga) yang akan menentukan apakah kamu akan mendapatkan pekerjaan tersebut atau tidak.
Dengan demikian, apapun yang kamu tulis di CV, BUKAN untuk mendapatkan pekerjaan, tapi untuk mendapatkan kesempatan dipanggil interview. Beberapa komentar di facebook saya pada intinya bilang bahwa informasi agama dan marital status dibutuhkan untuk supaya perusahaan bisa menentukan THR, tunjangan kesehatan individual/keluarga, dan sebagainya. Menurut saya, agama dan marital status sah dan sangat wajar ditanyakan oleh HRD kepada karyawan yang TELAH SUKSES melewati semua tahap perekrutan. Kenapa ini seharusnya tidak perlu dicantumkan di CV? Karena kedua hal ini (dan juga tanggal lahir) bisa dijadikan sumber diskriminasi oleh oknum-oknum yang in charge diproses penyeleksian awal.
Ingat, kalaupun kamu menjadi korban diskriminasi oleh oknum-oknum ini, kamu tidak akan pernah tahu. Yang kamu tahu, kamu tidak dipanggil interview! Tapi, inipun tidak bisa kamu pastikan karena mungkin juga kamu tidak dipanggil interview karena kualifikasi kamu yang tidak mencukupi. Jadi, dengan kata lain, kalau kamu mencantumkan kedua hal ini, kamu telah memberikan kesempatan dirimu untuk menjadi korban diskriminasi tanpa kamu akan pernah ketahui. Menyedihkan? Yes!
Saya tidak pernah menulis agama, marital status, dan tanggal lahir di CV saya, dan saya tidak pernah mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan kesempatan interview bahkan sampai ke pekerjaan yang saya ingini. Kenapa kamu tidak mencoba saran saya untuk tidak menuliskan kedua (atau ketiga) hal ini? Dengan kata lain, perbesar kesempatanmu untuk dipanggil interview. Kalau kamu dipanggil interview, berarti kamu sudah satu langkah lebih dekat ke yang namanya menjadi seorang karyawan alias tidak jobless.
Kalau ketika diinterview ditanyakan apa agama dan marital statusmu (saya pernah), jawablah dengan sopan, “Maaf Pak/Ibu, apakah jawaban saya akan mempengaruhi hasil interview ini?” atau “Maaf Pak/Ibu, apakah yang ditanyakan ini berhubungan dengan posisi yang saya lamar?” Yes, saya pernah ditanya seperti ini, dan kedua pertanyaan inilah yang saya tanyakan balik ke yang menginterview saya. Hey, kalau sampai kamu tidak mendapatkan pekerjaan karena kamu menanyakan kedua pertanyaan ini ke si interviewer, saya rasa kamu tidak perlu kecewa dan sedih…kamu harusnya senang untuk tidak bekerja di perusahaan yang diskriminatif terhadap agama dan marital status seperti itu!
Masih di facebook saya, ada yang berpendapat…boleh-boleh saja idealis dengan tidak mencantumkan agama dan marital status di CV, tapi kita harus ingat bahwa ini Indonesia, bukan Amerika. Saya selalu respect pendapat orang lain, meski pendapatnya berseberangan dengan pendapat saya. Namun, saya jujur sedih kalau ada yang berpendapat seperti demikian.
Sama halnya seperti ON TIME, mau sampai kapan Bangsa ini bilang, “Aaaaah ngga usah idealis, on time itu perlu tapi inikan Indonesia, bukan Amerika?” Pertanyaan saya simple, ”Mau sampai kapan kita terus menerus ‘membenarkan’ semua tindakan kita yang salah dan menyalahkan Bangsa kita?” Kalau pendapat tentang menulis agama dan marital status di CV masih ngga apa-apa karena ini Indonesia dan seperti inilah yang ada di Indonesia sekarang ini, silahkan jawab list pertanyaan-pertanyaan saya berikut:
- Kita ngga usah on time, karena kultur di Indonesia orang-orangnya ngga pada on time?
- Kita boleh buang sampah sembarangan, yang buat kali kita jorok dan kota kita banjir, inikan Indonesia?
- Ngga apa-apa terobos lampu merah karena inikan Indonesia?
- Ngga apa-apa korupsi, inikan Indonesia bukan Amerika?
- Ngga apa-apa umat beragama saling bunuh, ini kan Indonesia?
… masih ada ribuan pertanyaan yang bisa saya tulis disini.
Please baca tulisan ini dengan “Open Minded”. Ingat, wherever you stand on this issue, I respect you.
Akhir kata, jangan biarkan dirimu dijadikan korban diskriminasi oleh oknum-oknum tertentu (tanpa kamu ketahui).
Thanks,
BB
PS: Di dalam memberikan contoh, saya selalu memberikan contoh yang ekstrim, tujuannya supaya mudah dicerna…supaya yang membaca bilang dalam hatinya, “O iya ya…”
No related posts.



setuju sama statement ini bro…. mnurut sy jg gak ngaruh apa2 mengenai agama dan marital status ditulis di CV. kemungkinan untuk timbul kesempatan perbuatan diskriminatif jg terbuka.
tulislah sebanyak2nya prestasi dan pengalaman. sy rasa itu lebih berpengaruh.
Couldn’t be more agree atas pernyataan mas Billy. Honestly, I’m still 19th years old,but I already know about this kind of discrimination. SMA saya itu sangat diskriminatif mas, terutama soal agama. Saya selalu berpikir apakah ada yang berpikir seperti saya, bahwa menurut saya agama itu tidak penting dalam urusan CV karena itu baru tahap awal. Setelah saya membaca artikel ini saya jd smakin yakin mas, akan pandangan saya bahwa kita harus jadi org yg open minded. Well, talking about America, saya punya perumpamaan mas, kalau orang indonesia berkata bahwa orang amerika itu individualis, saya lebih memilih menjadi orang yang individualis (walau saya sangat senang menjadi org yang kolektivis)dan saya dapat menghargai agama lain instead of being collectivist but destroying other religion which is minority. Karena jika menyangkut masalah agama itu hal yang sensitif dan TIDAK SEHARUSNYA disangkutpautkan kepada hal-hal lain ( kecuali pekerjaan yang berhubungan). Nice to read this mr. Billy! God Bless you
[...] This post was mentioned on Twitter by revy prameshizta, Billy Boen. Billy Boen said: Just done writing an article about 'issue penulisan agama & marital status di CV' on my web, read it here: http://bit.ly/cHFl0V [...]
saya punya pertanyaan: bagaimana dgn foto, pak Billy? apakah kita perlu mencantumkan foto, karena ada kemungkinan foto menunjukkan ras, dan kemungkinan pihak HRD lebih menguntungkan pelamar yg rasnya sama dgn dirinya
Mas Billy, saya cuma ingin menambah sedikit yang juga sudah menjadi gerutuan hati mengenai beberapa point tentang Inikan Indonesia, bukan Amerika.
Saya melihat bahwa masih banyak individu yang masih suka membenarkan perbuatan-perbuatan yang kurang benar dengan 1001 alasan. Seringnya selalu memakai alasan “Semua orang juga melakukannya”.
Kita pikirkan saja kenapa angkutan bis hampir di seluruh di Indonesia mayoritasnya bobrok? Kenapa banyak fasilitas umum yang rusak dalam kurun waktu yang sangat pendek? Apakah karena ini Indonesia?
Bayangkan negara ini adalah rumah kita, dan ketika kedatangan tamu apakah kita tidak malu apabila rumah kita dalam keadaan berantakan? Ingat bahwa bagaimana keadaan rumah kita mencerminkan bagaimana diri kita dalam kehidupan ini. Jangan sampai kita meludah muka kita sendiri dengan kebodohan yang datang dari pikiran dangkal mengenai disiplin, repect, dan toleransi. Kenapa mesti menunggu orang lain berubah dulu baru kita ikut berubah? Apakah kita hanya sebuah robot yang menjadi pengikut yang tidak memiliki akal, tidak tahu apa yang baik dan apa yang buruk?
Korea Selatan pada tahun 1987 keadaan ekonominya hampir sama dengan Indonesia, masih penuh dengan korupsi dan lain hal sebagainya. Kenapa sekarang bisa menjadi salah satu powerhorse dalam ekonomi Asia dengan melahirkan begitu banyaknya brand international seperti Samsung, LG, Kia, Hyundai? Itu semua datangnya dari disiplin dan kesadaran untuk menjadi lebih baik. Bahkan Samsung sekarang menjadi salah satu supplier LCD terbesar di dunia, belum lagi mencoba menyaingi Apple iPad dengan mengeluarkan Samsung Galaxy Tab. Bahkan kita sendiri banyak yang tergila-gila dengan serial drama Korea (bahkan ada beberapa sinetron lokal yang skenarionya dibeli dari sinetron Korea, kalau tidak diplagiat). Kita warga negara Indonesia tidak lebih bodoh dari mereka. Kenapa mereka bisa go global tetapi kita tidak? Saya yakin salah satu kuncinya adalah disiplin yang tinggi dan nasionalisme yang tinggi untuk memperbaiki negaranya.
Terus terang, saya setuju bahwa ini semua bukan mengenai apakah ini Indonesia atau Amerika. Sepatutnya kita bisa memakai akal budi kita untuk memilah-milah apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang buruk untuk dihindari tanpa memandang apakah ini Amerika atau Indonesia.
Mengenai KTP saya sangat setuju bahwa agama seharusnya bukan bagian dari KTP karena hak beragama itu adalah hal yang sangat pribadi antara individu dengan Yang Maha Kuasa.
Kalau foto saya rasa itu justfikasinya sangat sulit karena karena ada posisi tertentu yang agak diskriminatif secara fisik. Sad but true.
saya sangat setuju, jujur saat ini indonesia sudah sangat bobrok sekali,orang- orang sibuk merebutkan kekuasaan..
sementara pendidikan sudah sangat memperihatinkan…
Marital status di perusahaan dimasukkan karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan budaya kita dan budaya kerja kita. Follow up saya terhadap informasi marital biasanya adalah:
-bila single: apakah anda ada rencana menikah dlm waktu dekat? (persiapan pernikahan biasanya memakan energi yg tidak sedikit di indonesia, dan merupakan perubahan besar dlm hidup seseorang—hence dpt mempengaruhi kinerja)
-bila baru menikah (terutama kpd wanita): apakah anda berencana memiliki anak dlm waktu dekat. Di amerika mungkin pregnancy break bisa berlangsung cepat dan ringkas, tapi di indonesia karena budaya maka required time to stay home bisa lebih lama
-either way (menikah/single/f/m): apakah pasangan anda keberatan bila pekerjaan anda kebetulan mengharusjan anda utk bekerja di luar jam kerja/h ii
Contoh diatas bukan bentuk diskriminasi tetapi bentuk kompensasi terhadap budaya kita. Dari pertanyaan diatas kadang bisa tersaring hambatan yg mungkin muncul seperti:
-ortu/suami/isrtri/mertua sayatidak membolehkan saya pulang malam karena xxxxxxxxx
-(same people)mengharapkan saya segera punya anak/berhentibekerja saat hamil etc (just because, w/omedical diagnosis)
Halini penting sehingga atasan bisa membagi/rencanakan workload dgn baik, dan compensatehal2 tersebut
Another example soal religi misalnya. Sayaada rapatygpanjang setiap jumat. Sebelum rapat dimulaibiasanya akan ada pertanyaan siapa yg mau solat jumat,sehingga jadwal bahasan bisa ditentukan dgn mengakomodasi kebutuhan religi org tsb. Demikian pulamisalnya bila ada ritual keagamaan lainnya.
bagaimana jika nama saja sudah menunjukan agamanya, misalkan di indonesia banyak orang yang memiliki nama yang berawalan Muhammad atau Ahmad, jadi 80% dapat dipastikan orang yang memiliki nama tersebut adalah beragama islam. jika dengan nama saja sudah mengidentifikasikan agama?
Thanks Billy for reminded me,,,
Like what u said.. ‘out of the box’
we need it n we hav to..
Setidaknya saya punya jawaban ketika di interview mengapa saya tidak mencantumkan agama dan status marital di dalam CV.
Yaitu , “Maaf Pak/Ibu, apakah jawaban saya akan mempengaruhi hasil interview ini?” atau “Maaf Pak/Ibu, apakah yang ditanyakan ini berhubungan dengan posisi yang saya lamar?”
setuju..!!
bersyukur lah untuk anda-anda yg bekerja pada perusahaan yg yg tidak mendiskrit-kan agama.
setuju banget dng bro billy boen:)
trims masukannya, kebetulan sy mau melamar kerjaan…
Brilian….setuju bro
nice sharing bro..
setuju dengan pendapat anda,
saya juga tidak pernah mencantumkan agama dalam cv saya..
hingga saat ini tidak ada masalah dengan pekerjaan biarpun di kantor cuma saya sendri yang beda agama dengan teman kantor..
intinya bekerjalah dengan professional dan bisa menghargai rekan rekan kantor..:)
thanks
bener bgt pak billy.. saya setuju dgn anda… dan saya jg menangkap mksd pak billy terutama mengenai diskriminasi tsb… maju terus pak billy!
justru demi menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-undang Dasar, kalau kita mau mencantumkan Agama, dan Marital Status tidak ada yang boleh mendiskriminasikannya, kebebasan memiliki agama, dan mengekpresikannya adalah salah satu HAM yang terpenting.
Agama dan Marital Status ada identitas diri, jangan mentang2 ad oknum tolol macam itu, jadi kita yang harus menutup2i sebagian identitas diri …. logika anda sangat aneh bung!!!
Posting ini mencerminkan dukungan anda untuk menutup2i sebagian identitas diri, dan menyunat secara halus hak asasi pribadi!!!
Agama dan marital status dicantumkan didalam CV dan ataupun KTP bukan untuk jadi bahan diskriminasi, tetapi untuk menjadi bahan pertimbangan, segala macam pertimbangan, tetapi pertimbangan tersebut harus diberitahukan juga kpd ybs, sehingga ybs masi bisa untuk memberikan argumentasi lebih lanjut.
Dari argumentasi lebih lanjut ini, seharusnya pihak pewawancara bisa menilai kepribadian yang sedang diwawancara.
Ada berbagai situasi dimana kedua status tersebut terbukti sangat berguna, baik di dunia kerja, maupun diluarnya.
apa amerika sedemokrasi itu?
bukannya kelompok minoritas di america masih mendapat diskriminasi??
“kalau kamu mencantumkan kedua hal ini, kamu telah memberikan kesempatan dirimu untuk menjadi korban diskriminasi tanpa kamu akan pernah ketahui. Menyedihkan? Yes!”…
jujur bila saya ngalamin itu saya ga sedih… knp? saya ga mau memalsukan agama saya hanya untuk kerja. toh kerjaan ga cuma di situ aja kan.
bagi saya sama saja. apa saya harus ganti nama jadi
“rifki” saja yang awalnya muhammad rifki? dengan saya tidak menyebutkan agama pun sudah pasti dia tahu kepercayan saya apa.. boleh ngasih saran ngga? tulis lagi dong artikel
“Yang menyeleksi interview jangan norak bawa2 ras dan sara apalagi agama”
kenapa perlu juga artikel itu? saya pernah waktu wawancara di bilang “jarang-jarang orang betawi kerja di bank” gila kan padahal kaka saya pangkatnya jauh lebih tinggi dari dia di salah satu bank swasta…wtf
ralat :”saya ga mau memalsukan atau merahasiakan agama “… feels like hell kerja tapi harus merahasiakan agama..
terkadang bukan si pelamar yg menjerumuskan dirinya tuk jadi korban diskriminasi. walaupun kita g cantumin di CV toh saat wawancara itu udah jadi pertanyaan mutlak (sepertinya) para pewawancara. paling tidak status pernikahan selalu dipertanyakan oleh pihak HRD. Saya setuju sm mockie,,seharusnya ada juga artikel untuk pihak HRD yang selalu menanyakan pertanyaan yang norak2 dan kadang g relevan dgn kemampuan kita. banyak perusahaan yg memilih untuk menerima pegawai yg asal-usulnya sama dgn mayoritas penghuni perusahaannya. dan kalaupun kitalolos interview dan berhasil masuk di perusahaan tersebut,,,masih banyak perlakuan diskriminatif lain yg bakal terjadi,,lebih baik tersisih dari awal dari pada harus menjalankan pekerjaan penuh dengan diskriminatif,,,dan akhirnya kita lebih memilih untuk mencari pekrjaan di tempat lain,,,menyedihkan,,,
bener mas.. saya setuju bgt.. mau cerita nih pengalaman saya
pertama… kejadian 3 tahun lalu..
saya pernah magang di salah satu departemen IT kampus saya waktu itu sebagai syarat kelulusan, dan setelah lulus saya ditawari kontrak kerja menjadi pegawai tetap di departemen itu, nah saat ini ada temen magang saya yg ingin melanjutkan jd staff tetap juga, senior yg in-charge thd kami (kami=anak magang) setuju krn teman saya ini terbilang sangat pintar dan juga projek yg kami kerjakan belum sepenuhnya rampung dan siap pakai, lalu beliau menanyakan ke HRD, ternyata teman saya tsb ditolak gara2 agama, padahal teman saya itu juga merupakan mahasiswa unversitas ini (WTF!?) senior tadi memberitahu hal ini ke saya, dan bilang supaya jgn kasih tahu teman saya itu.. tanpa banyak pertimbangan saya pun menolak kesempatan kerja tsb, btw universitas saya ini adalah salah satu universitas terkemuka di indonesia loh
kedua baru2 ini di kantor saya
di tempat saya bekerja salah satu bos saya kesulitan mencari tenaga kerja yang langka misal “xx IT personnel” (maaf kl saya sebut lgs ketahuan), nah kebetulan ada sumber out source (vendor) yang bekerja freelance, dan sering menerima projek freelance dari kami, kami para xx IT personnel di company tsb bilang “pak, kenapa ga dia aja (dia=si freelancer tadi)”, sang atasan dengan keceplosannya bilang “iya sih, kita juga pengennya gitu, tetapi dia sudah berkeluarga, kl masih single pasti kita tawarin”
sekian deh..
ups.. sori mo nambahin.. intinya both of them (temen saya dan si tenaga kerja langka) is very-very qualified untuk pekerjaan2 yg saya sebut tadi di atas, tetapi mereka tidak mendapatkan pekerjaan tersebut karena diskriminasi
Mungkin ini yang bisa dipertimbangkan penyertaan marital status dan agama
1. untuk status : ini menjadi penting ketika pekerjaan yang akan diberikan nanti menuntut single status seperti pekerjaan yang sangat mobile.., hingga mengharuskan pekerjanya tidak pulang kampung selama 6 bulan lebih.
2. Untuk agama : ini juga menjadi penting ketika posisi kerjaan mengharuskan standby setiap hari. artinya ketika hari besar agama2 dimana sebagian orang ingin berjumpa dengan sanak saudara ada teman back to back yang bersedia menggantikannya..
Setuju banget…
Saya uda tidak menggunakan marital status dan agama, bahkan tanggal lahir juga tidak….hehe….
Menurutku si tu semua ga penting di CV, kalo perusahaannya tertarik pasti nanti dipanggil untuk interview
Pernah ada kejadian kalo CV nya uda lolos dan akan tes TOIEC di fasa selanjutnya, karna di tes TOIEC butuh tanggal lahir, HRD perusahaan tersebuh malah menelepon dan menanyakan tanggal lahir saya.
My point are, yang terpenting di CV adalah email dan no HP sebagai penhubung kalo HRD perusahaannya butuh informasi tambahan (misal agama, status,dan tanggal lahir untuk keperluan tertentu), si applicant bisa dihubungi.
Benar.. Indonesia ini aneh sekali sampai agama ditulis.. Yg kasian adalah mereka yg beragama selain 5 agama yg disediakan di form KTP..
Selain itu juga buat jadi pemicu diskriminasi..
Tapi untuk martial status.. bukannya ini juga bisa menjadi pedoman kira2 berapa lama dia akan bekerja? contohnya kalau ini wanita yg sudah menikah, berarti ada kemungkinan dia akan mengambil cuti hamil atau sewaktu2 ikut suami pindah keluar kota? Tentunya hal itu akan sangat disayangkan jika karyawan ini merupakan karyawan yang baik..
Yah yang pasti diskriminasi ini seharusnya tidak ada dalam dunia kerja.. terlebih masalah suku.. aghh.. sulit sekali..
saya tertarik dengan apa yg anda tulis,tp kok setelah saya baca rasanya kok ada yang mengganjal di pikiran saya dengan kutipan dari tulisan anda “Hey, kalau sampai kamu tidak mendapatkan pekerjaan karena kamu menanyakan kedua pertanyaan ini ke si interviewer, saya rasa kamu tidak perlu kecewa dan sedih…kamu harusnya senang untuk tidak bekerja di perusahaan yang diskriminatif terhadap agama dan marital status seperti itu!”.
menurut argumentasi saya sie ngapain kita capek2 datang ke interview klo memang sebenarnya perusahaan itu mempunyai agama dan marital status sbg syarat mereka dan kita tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan mereka?
thanks
saya setuju dgn komen mas Billy Dan mas /mbak yudha
membangun iklim professional Dan non diskriminatif butuh perjuangan besar Dan panjang karena sama dengan membangun mental bangsa
saya bias mengerti pertanyaan perusahaan ttg hal pribadi seperti agama, marital status, karena pertanyaan ini diajukan sebagai bentuk adaptasi perusahaan terhadap terhadap issue seperti
- karyawan menolak mengerjakan project qyg berhub. dgn alcohol
- karyawan tidak di perbolehkan suami pulang lembur
- karyawan tidak diperbolehkan pasangan searing keluar kota
setiap saya menginterview team member baru, dengan berat hati saya tanyakan pertanyaan diatas, karena pekerjaan membutuhkan individual yg open minded, terbuka terhadap perbedaan Dan
saya sender kit saya dull di interview saya dengan teas tidal mau mengerjakan project untuk perusahaan rokok dal am bentuk apa pun
saya beruntung boss Dan company punya philosophy yg sama
hemat saya ini berpulang kepada buddy Dan mental bangs kit Dan perubahan harus di mulla dare individual.
saya setuju dgn komen mas Billy Dan mas /mbak yudha
membangun iklim professional Dan non diskriminatif butuh perjuangan besar Dan panjang karena sama dengan membangun mental bangsa
saya bias mengerti pertanyaan perusahaan ttg hal pribadi seperti agama, marital status, karena pertanyaan ini diajukan sebagai bentuk adaptasi perusahaan terhadap terhadap issue seperti
- karyawan menolak mengerjakan project qyg berhub. dgn alcohol
- karyawan tidak di perbolehkan suami pulang lembur
- karyawan tidak diperbolehkan pasangan searing keluar kota
setiap saya menginterview team member baru, dengan berat hati saya tanyakan pertanyaan diatas, karena pekerjaan membutuhkan individual yg open minded, terbuka terhadap perbedaan Dan
saya sender kit saya dull di interview saya dengan teas tidal mau mengerjakan project untuk perusahaan rokok dal am bentuk apa pun
saya beruntung boss Dan company punya philosophy yg sama
hemat saya ini berpulang kepada buddy Dan mental bangs kit Dan perubahan harus di mulla dare individual.
Dan satu lagi perusahaan bisa terkesan diskriminatif, tapi bila kita telusuri penyebabnya bisa karena stereotyping Dan karena pengalaman buruk masa lalu
contoh : karyawan yg sudah berkeluarga mengingkan waktu kerja fleksibel bisa dikerjakan dirumah, tetapi jennies pekerjaan tidak memungkinkan Dan karena butuh pula interaksi dgn pegawai lain
atau karyawan baru , kebetulan baru menikah,, belum 6 bulan sudah resign karena sudah mengandung Dan dilarang bekerja oleh suami
satu Hal yg bisa kita lakukan adalah tetap berjuang menjadi professional dgn demikian semoga dap at ditularkan ke orang lain Dan lambast laun meskipun tidak mudah budaya tidak maju dari perusahaan maupun karyawan bisa terkikis
salam
kalo status cerai gmn??? di CV kalo cerai dicantumin gak sih katanya HRD biasanya anggap kalo janda tu genit, why????
sedih bgtt Gw….
ternyata jd seorang profesional itu susah jg yah??? hahahaha
It’s exhausting to find educated people on this matter, however you sound like you understand what you’re speaking about! Thanks
there’s no doubt that the,The most recent study show that a good number of young boys and girls currently have annoying marriages due to preparation.
setuju sekali
ijin sedot om billy…nice share!
agama adalah way of life, sebenernya tidak perlu dicantumkan dalam tulisan karena adanya di hati yang harus direfleksikan kedalam kegiatan sehari hari kehidupan seseorang sesuai tuntunan dan ajarannya, itu adalah konsekwensi dari sebuah pilihan hidup yang paling esensi bahkan termasuk kedalam kebutuhan.
didalam agama kita bisa menemukan tuntunan hidup dan berkehidupan dengan sangat baik dari segala sisi, baik motivasi hidup yang sesungguhnya maupun tuntunan dalam menjalaninya.
dalam hal pencantuman dan menyikapi tulisan status agama seseorang dalam id, semua dikembalikan kepada kepada siapa yang membacanya.
setuju dengan pendapat anda pak billy, berbanggalah jika anda di tolak karena perbedaan beragama..
tumbuhkan kebanggaan dalam menyandang agama yang anda anut, jalani dengan baik, karena kamu akan mendapatkan kesuksesan yang sebenernya dan tidak dapat dihitung atau dinilai dengan segala nilai yang ada didunia…
semakin anda dekat kepada TUHAN yang anda yakini, maka anda akan semakin jadi lebih baik…
wallahualam
Hmmm….. saya mendukung ditiadakan diskriminasi dan kesempatan bekerja dalam konteks “marital status” dan “agama”, saya juga setuju jika tidak mencantumkan marital status dan agama dalam cv sebagai pertimbangan dalam melamar pekerjaan, tetapi saya juga tidak mempermasalahkan untuk rekan-rekan yang mencantumkannya (marital status dan agamanya karena :
1. Memudahkan perusahaan / HRD Dept untuk mendapatkan gambaran utuh (kesan yang akan dipersiapkan tentang orang tersebut ketika akan bertemu pada sesi interview).
2. Seharusnya memang marital status dan agama juga tidak menjadi pertimbangan untuk melamar pekerjaan. Tetapi pada pekerjaan khusus tertentu mungkin akan perlu pertimbangan tersebut : contoh, pekerjaan yang membutuhkan berpergian dalam jangka waktu tertentu (tenaga ahli tambang, tenaga ahli survey lahan dan GIS, tenaga ahli untuk project kontraktor dan pekeerjaan lain yang membuat lokasi pekerjaanya jauh dari domisili si pekerja); contoh lain pekerjaan yang beresiko tinggi seperti pekerjaan yang berhubungan dengan keamanan di daerah konflik, pekerjaan mediator sengketa lahan di daerah pedalaman dan lain-lain. Pekerjaan ini akan membutuhkan informasi penting tentang “marital status” dan “agama”
3. Dengan penuh kerendahan hati saya setuju dengan ide bahwa harus ada persamaan hak dalam mencari pekerjaan tapi tak bisa dipungkiri ‘terkadang’ ada sisi lain dalam perekrutan yang membuat kita harus memilih orang dengan marital status dan agama tertentu agar bisa cocok dengan tim yang sudah dibentuk. Dan dalam kasus ini saya bilang bahwa sebaik apapun sistem perekrutan, toh yang merekrut juga seorang manusia biasa yang hatinya cenderung dan condong pada satu sisi dan berusaha menjauh pada sisi yang lain….
4. Mau dicantumin atau nggak (marital status dan agama) dalam CV, tetep aja kalo sudah rejekinya, maka pasti kita dapat pekerjaan tersebut. dan atau sebaliknya……