Apel – Palmira Vidya Mumpuni, UI
November 21, 2011, by YOTCA. read: 1,427
Palmira Vidya Mumpuni – November – FKG Universitas Indonesia
Cerita ini terinspirasi dari adik saya, Guinandra Luthfan Jatikusumo, nerkali kali Ia menceritakan ini kepada saya, bahwa wanita harus punya harga diri.
Menurut adik saya, hubungan manusia itu seperti apel dan yang memetik.
Berikut ceritanya. Di sebuah pohon apel, tentu ada apel yang terlewat matang atau gagal matang; ia terkapar di tanah. Ada juga apel yang indah dan matang; ia tergantung di bagian teratas pohon apel itu.
Nah, asumsikan yang menjadi pengambil apel itu adalah pria. Di planet itu, pekerjaan mengambil apel itu dibanggakan. Ada dua tipe pengambil apel.
Pengambil apel pertama, yang mengambil sebuah apel tak perduli bagaimana apelnya: walau apelnya terkapar ditanah, kalau masih terlihat indah, ambil saja, toh masih apel dan tidak terlalu tersayat-sayat rupanya. Pengambil apel ini mengambil apel dengan kondisi apapun, untuk menjaga statusnya sebagai pengambil apel yang notabene sangat dihargai oleh pria lainnya.
Pengambil apel kedua mencoba menunggu sampai apel siap dipetik. Ia mencoba untuk menunggu apel yang mulus diluar, crunchy didalam, dan umumnya apel seperti itu terletak di bagian tertinggi pohon apel. Sering dicemooh, sepertinya, pengambil apel ini. Terkadang, ia sering diejek sebagai pemetik jeruk, karena terus berusaha mengambil apel yang diatas sana, dan mencoba menghindari godaan untuk mengambil apel yang tepat ada di kakinya. Pengambil apel ini berusaha untuk mengambil satu apel terbaik.
Kembali ke apel.
Di suatu musim tertentu, ada beberapa apel yang menjatuhkan diri ke tanah karena melihat pengambil apel yang ia sukai. Ada juga yang di tanah karena sudah di tanah. Lalu, diambillah apel itu oleh pengambil apel tipe pertama. Tidak perduli ia apa kata teman-temannya, yang penting, dia sudah diambil oleh si pengambil apel, berstatus. Terkadang apel ini rela dijual belikan begitu saja di pasar buah. Beda pedagang setiap hari, atau setiap bulan, atau setiap 3 bulan.
Diwaktu yang sama, apel yang terletak dibagian atas, bingung. Setahu dirinya dia indah, luar dalam. Apa yang salah? Mengapa para pengambil apel memilih yang sudah jatuh dibawah? Apel yang ini lalu mencoba mengubah dirinya. Tapi,
sadarlah, Apel yang diatas sana, kalau dirimu itu berbeda dalam sudut pandang positif. Tidak ada yang perlu diubah. Tinggal menunggu pengambil apel tipe kedua, yang rela dicemooh dan diejek si pemetik jeruk. Jika suatu hari kalian bertemu, kalian pasti akan bersama. Tetap jaga harga buahmu.
Menginspirasi sekali kan? Cerita selengkapnya bisa dibaca di guinandra.com
Related posts:
- Mengasah kapak -Palmira Vidya Mumpuni, UI
- Sepotong kue -Palmira Vidya Mumpuni, UI
- Coz Everyone is Special – Palmira Vidya Mumpuni
- Pidato anak 12tahun di ruang sidang PBB -Palmira Vidya Mumpuni, UI
- Yakin ingin mati? Palmira Vidya Mumpuni, UI



My programmer is trying to convince me to move to .net from PHP. I have always disliked the idea because of the costs. But he’s tryiong none the less. I’ve been using WordPress on various websites for about a year and am concerned about switching to another platform. I have heard good things about blogengine.net. Is there a way I can import all my wordpress posts into it? Any help would be greatly appreciated!