billy boen

Bahagia itu sederhana

January 17, 2012, by YOTCA. read: 1,656

Tiarni Putri Fau_YOT CA UNPAD_Artikel Januari

“We can throw stones, complain about them, stumble on them, climb over them, or build with them.” William Arthur Ward

Apa yang kamu lakukan ketika kamu tidak merasa bahagia dengan hidup kamu?
Apakah kamu pergi shopping dan membeli semua barang yang kamu mau? Atau kamu marah-marah ke teman kamu dan bercerita betapa suramnya hidup kamu sekarang? Atau jangan-jangan kamu memilih untuk mengakhiri hidup kamu dengan loncat dari gedung tinggi?

Sebelum kamu menjawab, ada suatu kisah yang ingin saya share ke kalian :

Nick Vujicic – No Arms, No Legs, No Worries

Penulis : Team Andriewongso.com

Inilah cerita dari seorang pria tampan dan cerdas, serta bersuara indah, yang dilahirkan tanpa kedua lengan dan kedua kaki. Namun ia tetap bersemangat dan bahagia dalam menjalani hidupnya. Ia jago main golf, berselancar, dan berenang. Terlebih, ia juga sukses dalam karirnya. Nick Vujicic (26 tahun), pria Serbia kelahiran Australia itu, memang luar biasa!!

Nick lahir di sebuah rumah sakit di Kota Melbourne pada tanggal 4 Desember 1982. Orangtuanya sangat terkejut ketika melihat keadaan putra mereka yang lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut dokter yang menanganginya, Nick terkena penyakit Tetra-amelia yang sangat langka. Kondisi ini kontan membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer komputer) dan ibu Nick (seorang perawat) bertanya-tanya dalam hati, kesalahan besar apa yang telah mereka perbuat hingga putranya terlahir tanpa anggota-anggota tubuh. Tak jarang, mereka menyalahkan diri sendiri atas keadaan Nick.

Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Ayah dan ibu Nick melihat putranya, biarpun cacat tubuh, tetap tumbuh kuat, sehat, dan ceria – sama seperti anak-anak lainnya. Dan, Nick kecil terlihat begitu tampan serta menggemaskan! Matanya pun sangat indah dan menawan. Maka, mereka mulai bisa menerima keadaan putranya, mensyukuri keberadaannya, dan segera mengajarinya untuk hidup mandiri.

Nick memiliki sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Sang ayah membimbingnya untuk berdiri, menyeimbangkan tubuh, dan berenang sejak Nick berusia 18 bulan. Kemudian, dengan tekun dan sabar, sejak usia 6 tahun, Nick belajar menggunakan jari-jari kakinya untuk menulis, mengambil barang, dan mengetik. Kini, Nick menyebut telapak kakinya yang berharga itu sebagai “my chicken drumstick.”

Agar bisa hidup lebih mandiri, kuat secara mental, dan bisa bergaul dengan luwes, ibu Nick memasukkan putranya ke sekolah biasa. Segera saja, Nick menyadari bahwa keadaannya sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia juga mengalami berbagai penolakan, ejekan, dan gertakan dari teman-teman sekolahnya. Hal ini membuatnya merasa begitu sedih dan putus asa. Pada usia 8 tahun, Nick sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, kasih dan dukungan orangtuanya, serta hiburan dari para sahabatnya, mampu membuat Nick mengenyahkan pikiran tersebut. Ia menjadi lebih bijaksana dan berani dalam menjalani kehidupan.

Pada suatu pagi, saat usia 12 tahun, Nick mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat bangun dan membuka matanya, tiba-tiba saja ia menyadari betapa beruntungnya dirinya. Ia sehat, serta punya keluarga dan para sahabat yang menyayanginya. Ia juga hidup dalam keluarga yang berkecukupan.

Setahun kemudian, ketika membaca surat kabar, Nick dan ibunya menemukan sebuah artikel yang sangat menggugah jiwanya. Artikel itu, berkisah tentang seorang pria cacat tubuh yang mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang. “Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk berguna bagi orang lain. Saya memutuskan untuk bersyukur, bukannya marah, atas keadaan diri sendiri! Saya juga berharap, suatu saat bisa menjadi seperti pria luar biasa itu-yakni bisa menolong dan menginspirasi banyak orang!” demikian ujar Nick, dalam sebuah wawancara.

Untuk meraih mimpinya, Nick belajar dengan giat. Otak yang encer, membantunya untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan pada usia 21 tahun. Segera setelah itu, ia mengembangkan lembaga non-profit ‘Life Without Limbs’ (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh), yang didirikannya, pada usia 17 tahun, untuk membantunya berkarya dalam bidang motivasi.

Kini, Nick Vujicic adalah motivator/pembicara internasional yang gilang-gemilang. Ia sudah berkeliling ke lebih dari 24 negara di empat benua (termasuk Indonesia), untuk memotivasi lebih dari 2 juta orang-khususnya kaum muda. Berkali-kali, ia diwawancarai oleh stasiun televisi dengan jangkauan internasional, seperti ABC (pada 28 Maret 2008). Produknya yang terkenal adalah DVD motivasi “Life’s Greater Purpose”, “No Arms, No Legs, No Worries”, serta film “The Butterfly Circus.”

“Saya telah memberikan berbagai jenis motivasi kepada orang-orang, berdasarkan pengalaman hidup saya,” pungkas Nick di akhir wawancara. “Namun, ada satu hal yang selalu saya katakan pada mereka: ‘Terimalah dan cintai diri kamu sendiri.’ Jika satu orang saja bisa melakukannya, kemudian merasa lebih bersemangat dalam menjalani hidup serta ingin berguna bagi orang lain, saya merasa bahwa sebagian tugas saya di dunia ini telah terselesaikan.”

Sumber : http://www.andriewongso.com/artikel/aw_inspirational_video/3062/No_Legs/

Sebenarnya kunci kebahagiaan dalam hidup ini cuman satu : BERSYUKUR. Bersyukur memiliki aspek yang luas dan sifatnya tidak perlu hal-hal yang mewah. Bersyukur memiliki keluarga, bersyukur bisa kuliah, bersyukur masih bisa makan 3 kali sehari, bersyukur masih bisa tidur nyenyak di rumah ketika hujan deras, bersyukur masih bisa bernafas, bersyukur masih memiliki anggota tubuh yang lengkap, dll. Jujur, saya heran dengan banyaknya complain yang sering di lontarkan di Facebook dan Twitter teman-teman saya soal kehidupan mereka. Terkadang yang mereka keluhkan adalah hal-hal kecil, hal-hal yang menurut saya di bandingkan dengan nasib yang harus di terima Nick Vujicic tidak ada apa-apanya.

Satu hal yang ingin saya tekankan sebagai generasi penerus bangsa, kalian tidak akan pernah menjadi Young On Top jika tidak pernah belajar untuk menghargai apa yang kamu sudah punya sekarang. Mungkin teman-teman merasa bahwa ini adalah hal yang sulit untuk di lakukan tapi percaya deh, ternyata untuk menjadi bahagia itu sangat sederhana.

Tidak perlu teman-teman pergi ke mall membeli barang-barang mahal untuk merasa bahagia. Tidak perlu teman-teman pergi clubbing sampai mabuk untuk mencari kebahagiaan. Hanya satu kuncinya: BERSYUKUR.

Bagaimana cara teman-teman bisa merasa bersyukur dalam hidup? Simpel, jagalah hubungan baik dengan Tuhan. Jika teman-teman sudah menjaga hubungan dengan Yang Maha Kuasa, maka hubungan teman-teman dengan sekitar juga akan membaik. Well, tidak perlu saya jelaskan kembali kan bagaimana cara menjaga hubungan baik dengan Tuhan?

Jadi, sudahkah teman-teman mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang terjadi pada diri teman-teman hari ini?

“Being happy doesn’t mean that everything is perfect. It means that you’ve decided to look beyond the imperfections.”

Related posts:

  1. Salam Bahagia
  2. Lebih Bahagia Kerja Setiap Hari
  3. Cara Bahagia dalam 30 Detik!
  4. The Strength to Get Back Up

2 Responses to “Bahagia itu sederhana”

  1. I’ve got wanted to write similar to this in my small webpage this has given me a concept. Cheers.

  2. tiarni putri says:

    thank you. it is so nice to help you :)

Leave a Reply