Beragam dan Bersatu
December 13, 2011, by YOTCA. read: 1,251
Bestari N – YOT CA Univ. Indonesia – Artikel Desember
Tulisan ini di dedikasikan untuk I.G.P, untuk YOT Berbagi Kasih Natal, dan untuk semua orang yang percaya bahwa dengan keberagaman kita bisa bersatu.
Beberapa waktu lalu, teman baik saya menjadi ketua pelaksana sebuah acara pelatihan dan pengembangan diri dari sebuah organisasi internasional untuk pemuda yang sudah terkenal namanya. Acara berskala nasional itu dihadiri oleh ratusan pemuda dari seluruh Indonesia. Ada YOT CA yang ikut juga kalau saya tidak salah. Sayang waktu itu saya tidak mendaftar untuk ikut karena ada kegiatan organisasi lain di waktu yang telah ditentukan. Kebetulan di sana juga ada banyak teman-teman saya dari sebuah pelatihan kepemimpinan yang pernah diikuti sebelumnya. Sepertinya acaranya akan menarik dan seru sekali. Semua tiba-tiba berubah setelah saya mendengar cerita-cerita yang negatif tentang acara itu. Bahkan ada yang katanya pulang duluan sebelum acara selesai karena sudah muak. Dan banyak lagi cerita yang saya dengar kurang enak tentang acara itu. Banyak peserta yang menilai bahwa acara tersebut membawa misi dari ajaran agama tertentu.
Duh.
Saya bukan orang yang gampang terhasut suatu cerita. Kalau belum mendengar dari semua sisi, saya anggap itu cuma opini sebjektif yang timpang. Minggu lalu akhirnya saya ngobrol-ngobrol dengan si ketua acara tersebut. Teman saya itu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Terlihat sekali keletihannya mengurus acara besar itu dan mendapat ‘ujian’ dari pesertanya sendiri, diluar dugaannya. Saya sepertinya mengerti maksud dari kedua sisi ini. Bahwa ada pihak yang feel offended dan kecewa karena mendapati acara tidak sesuai dengan yang ditawarkan semula. Di sisi lain, ada pihak yang merasa itu berlebihan dan hanya orang-orang berpikiran sempit yang berpendapat seperti itu. Saya rasa yang diperlukan hanyalah komunikasi.
Di negara ini, topik agama adalah sesuatu yang sensitif. Setelah reformasi berjalan, perlahan begitu banyak bermunculan acara dialog tentang pluralisme dan toleransi antar agama. Selalu banyak pro kontra pendapat di setiap acara itu. Tidak ada yang tidak. Maka jika dalam suatu acara dengan tema universal yaitu kepemimpinan yang dihadiri ratusan pemuda berpikiran kritis, lalu tiba-tiba ada indikasi yang (tidak sengaja) mengarah pada ajaran tertentu, sangat wajar dan masuk akal jika terjadi reaksi yang negatif dari sekelompok orang. Ditambah memang watak orang Indonesia dari dulu adalah gampang terprovokasi. Jadi yang diperlukan sekarang hanya menjadi lebih bijak.
Waktu SMA, ada teman (yang dari kecil sekolahnya di swasta) pernah bilang: beda ya di sekolah negeri, dulu di SMP dan SD selalu ketemunya sama orang (menyebutkan suatu agama) terus, ga masalah sih, tapi agak culture shock aja kali ya karena sekarang ga semuanya satu paham. Saya bersyukur dari kecil saya selalu masuk sekolah negeri, bahkan sekarang di universitas negeri. Itu berarti dari kecil saya sudah biasa bergaul dengan anak-anak dari berbagai suku dan agama. Dan itu terasa luar biasa, punya banyak saudara yang beragam!
Saya besar di keluarga yang taat agamanya. Tapi itu tidak membuat saya menjadi eksklusif atau merasa terancam saat berada dalam lingkaran agama lain. Menurut saya, itu kembali pada diri sendiri. Bagimu kepercayaanmu, bagiku kepercayaanku. Perbedaan itu tidak akan bisa mengurangi hubungan yang terjalin diantara kita semua. Saya pribadi sangat setuju dengan pendapat bunda Tatty Elmir (author buku Keido) bahwa “Menghormati perbedaan dan menghargai keberagaman bukan untuk diwacanakan, tapi dilakukan/diamalkan dan dicontohkan saja….”.
Desember ini, teman-teman Nasrani kita merayakan Natal. Young on Top sendiri mengadakan acara berbagi kasih natal minggu depan http://billyboen.com/young-on-top-berbagi-kasih-natal/. Jika seseorang berpikir dengan hatinya, maka tidak ada alasan untuk kita (tidak peduli dari latar belakang apapun) untuk tidak berbagi kepedulian terhadap adik-adik kita yang tidak seberuntung kita yang memiliki orangtua. Saya menyesal sekali akan tidak bisa ikut menghadiri acara tersebut, karena mesti membantu persiapan acara lamaran kakak perempuan saya yang diadakan minggu depan juga (padahal saya ingin sekali jadi Santa Claus #eh). Nah buat kalian yang juga seperti saya tidak bisa datang ke acara tersebut, masih ada cara lain untuk berbagi keceriaan dengan adik-adik yatim piatu itu yaitu dengan memberikan donasi. Cek link-nya ya, ayo jangan malas, hehe.
Jadi kenapa sih saya merasa perlu cerita ini semua sama kalian?
Karena saya lelah dengar perdebatan yang tidak ada habisnya tentang satu topik itu. Terutama, saya kecewa dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu itu. Tidak penting berpendapat siapa yang paling salah dan benar. Saya sedang tidak membela pihak manapun. Saya pikir sudah saatnya kita belajar untuk melihat hal yang lebih esensial. Bukan kulit luarnya. Janganlah terlalu gampang menghakimi sesuatu itu benar atau salah. Di satu sisi, kita harus terus berusaha profesional dan walk the talk. Sebagai generasi muda cerdas Indonesia, kita pasti tahu bahwa dunia dan bangsa ini terdiri dari berbagai macam orang dengan latar belakang yang beragam. Jadi, kalau bahasanya mas Panji “Jangan dibuat jadi SATU, tapi harus BERSATU!“.
Setuju?
P.s. Seperti yang saya bilang, topik agama di negara ini sensitif. Jadi mestinya tulisan saya ini juga sensitif. Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung. Mestinya sih ga ada yang merasa seperti itu, karena saya berasumsi bahwa orang-orang yang datang ke web Young on Top semuanya berpikiran dewasa dan cerdas. Cheers!
No related posts.



Hello There. I found your site using msn. This is surely an extremely well crafted article. I will always bookmark the idea and come back to read more of your useful information. Thanks for that post. I’ll definitely comeback.