Berbahagialah Mereka yang Memiliki Mimpi
September 9, 2011, by YOTCA. read: 1,724
Bestari – YOT CA UI
Ramadhan setahun yang lalu, salah satu teman baik mengajak saya untuk membantu acara buka puasa bersama adik-adik dari panti asuhan di rumahnya. Sebenarnya itu acara organisasi yang dia ikuti dan saya bukan anggotanya, tapi saya pikir itu kesempatan yang luar biasa dan saya sangat berterimakasih sekali padanya untuk itu. Rencananya saya dan dia akan berkolaborasi membawakan sebuah presentasi menarik dan interaktif tentang ‘mimpi’.
Kenapa soal mimpi?
Coba bayangin, seberapa beruntungnya saya, kamu, dan sebagian besar dari kita yang lahir dalam kondisi ‘normal’. Sejak lahir, ayah ibu udah merawat dengan penuh kasih sayang, kemudian kita diantar waktu pertama kali masuk TK, SD, daftar ulang SMP dan SMA, dan mereka ikut cemas menunggu pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi kita. Merekalah yang menanggung semua biaya itu. Pernah mencoba menghitungnya? Ga usah, nanti kalian pingsan dan jadi males punya anak, haha, just kidding.

Kita merasa sekolah adalah hal yang wajar, tanpa kita sadari kita anggep itu bukan hal yang istimewa, habis TK ya SD, setelah itu SMP lalu SMA, dan kita tinggal pusing mikir kuliah di mana. Semudah itu, sewajar itu. Bahkan mungkin kita belum pernah bersyukur untuk nikmat luar biasa itu selama ini. Jangan-jangan kita belum pernah mengucapkan kalimat semudah: ‘Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas nikmat yang Kau berikan sehingga aku bisa sekolah selama ini dan orangtuaku sepenuhnya mendukung’.
Itu semua membuat definisi mimpi di otak kita menjadi berkali-kali lipat lebih tinggi, karena hal seperti sekolah (yang basic) bukanlah sesuatu yang wah. Jadi ‘mimpi’ kita lebih ke arah: ‘mau ambil S2 di Qatar’, ‘lanjut S3 di Harvard’, ‘jadi CEO Garuda Indonesia dan Menteri Pariwisata’, dll. Dan berkat pendidikan, keluarga, dan lingkungan di sekitar kita selama ini, kita jadi mengerti gimana cara mewujudkan mimpi itu. Nangkep maksud saya kan?
Bro, kondisinya beda sama adik-adik kita itu. Sebagai anak yatim piatu yang besar di sebuah panti, apa yang ada di kepala mereka soal mimpi itu pasti beda banget. Bahkan bisa jadi kata mimpi bagi mereka artinya cuma ‘apa yang lo dapet pas lo tidur, apalagi pas tidur di siang bolong‘. Padahal menurut saya, mimpi tuh penting banget. Mimpilah yang menjaga kita terus hidup. Namanya bisa beda2 buat banyak orang, ada yang nyebut tujuan hidup, visi hidup, life goals, dll. Bagi saya, intinya sama aja, mimpi adalah sesuatu yang kita inginkan tapi tidak atau belum menjadi kenyataan. Ah, sok tau lo best, ada juga kan orang yang seumur hidup beribadah dan berbuat baik, orang kayak gitu ga punya mimpi apa-apa tuh. Salah besar,orang ’selurus’ itupun yang ga napsu sama dunia jelas-jelas punya mimpi, yaitu mendapat reward dari Tuhannya. Everyone’s a dreamer.
Balik lagi ke adik-adik panti asuhan. Mereka sekolah aja susah, kalaupun ada dana yayasan pastilah terbatas, ga bisa milih macem-macem. Itu seringkali membuat mereka ga berani berpikir dan meminta lebih. Ga berani bermimpi. And the least we can do to help them is to change their mindset. Jadilah sore itu, kami bercerita tentang betapa pentingnya punya mimpi dan bahwa mimpi itu simple banget, mudah, gratis, dan ga bakal ada yang ngelarang. Salah satu bagian slidenya adalah siklus kehidupan. Bro, kita cuma hidup sekali, sayang kalo kelewat gitu aja tanpa bermimpi. Life will be sooo boring!
Sedihnya, waktu itu saya mesti buru2 cabut pas adzan maghrib, karna ada undangan buka puasa di tempat lain. Jadi saya ga bisa ngobrol lebih lama sama adik-adik panti itu. Malamnya, teman saya telepon dan bercerita tentang hal yang sampai sekarang masih bikin hati saya ga karuan rasanya. Seneng, miris, bersyukur, sedih, dsb campur aduk. Dia bilang, “Best, tadi pas abis buka, ada anak yang ngedeketin aku dan bilang gini, ‘Kak, makasih ya, tadinya saya ga pernah kepikiran di hidup ini mau apa. Hidup ya begini begini aja. Tapi abis denger kaka cerita tadi, saya jadi punya mimpi kak, saya mau punya warung..” ‘.
Berbahagialah mereka yang memiliki mimpi
Catatan kecil:
Tulisan ini dibuat untuk menjadi renungan bagi saya dan teman-teman muda penuh semangat belajar dan berbagi untuk bersyukur pada hal-hal yang mungkin terlewatkan. Dan untuk membantu after taste-nya silakan baca buku Young on Top di chapter ‘Think Big’ :)
Related posts:


