billy boen

Berpikir Positif Dalam Keadaan Sulit

August 8, 2011, by YOTCA. read: 654

Lisa Vinatalia – YOT CA Universitas Pelita Harapan

Pain is inevitable. Suffering is optional -Haruki Murakami-

Di suatu siang yang cerah, saya berbincang-bincang dengan seorang teman saya. Kami berbincang-bincang di tempat kami menimba ilmu, di Universitas Pelita Harapan. Seiring dengan perbincangan tersebut teman saya bertanya sesuatu yang dari dulu saya hindari. “Lis, kamu kapan sembuh?”. Sebuah pertanyaan yang simple tapi sangat sulit untuk saya jawab, walaupun pertanyaan tersebut bukan pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh orang-orang yang saya kenal.

Syaraf kejepit, penyakit yang sudah seringkali di dengar dan menyerang orang-orang yang berumur 40 tahun keatas. Penyakit yang sangat tidak lazim bila dimiliki oleh orang-orang yang masih berumur 20 tahunan. Penyakit tersebut datang layaknya tamu tidak diundang menyerang saya dikala saya berumur 19 tahun. Bukan penyakit yang mematikan, tetapi mampu membuat seseorang menjadi lumpuh. Dari scan MRI yang saya lakukan, dokter yang menangani saya menyatakan bahwa kondisi saya sudah cukup parah dan operasi adalah cara terbaik.

Keluarga saya memutuskan saya dioperasi di Singapura , lalu saya ditangani oleh profesor disalah satu rumah sakit ternama disana. Beliau mengatakan bahwa saya terlalu muda untuk penyakit ini dan untuknya ini kasus yang sangat langka. Dua bulan kemudian dimana kaki kiri saya tidak dapat diangkat lebih dari 30 derajat saya melakukan operasi. Sebelumnya saya menanyakan “apakah saya bisa sembuh seperti semula dan bisa berolahraga seperti sediakala?”. Profesor tersebut meyakinkan saya bahwa dalam jangka waktu 3 bulan setelah operasi saya bisa melakukan apapun.

6 bulan setelah operasi, saya kembali untuk menemui profesor yang menangani saya. Lalu saya menanyakan mengapa saya masih belum bisa berolahraga? Walaupun saya sudah bisa melakukan aktifitas sehari-hari, tetapi masih belum bisa duduk terlalu lama. Beliau bingung, karena selama menangani pasien dengan kasus seperti saya 3 bulan sudah bisa berolahraga dengan baik. Sampai akhirnya profesor  tersebut memberikan opsi untuk menjalani terapi. Di saat itu juga saya menanyakan, “apakah terapi bisa membuat saya sembuh normal?”, beliau terdiam, 10 detik kemudian beliau menjawab “mungkin”. Anda yang membaca pasti tahu apa yang saya rasakan bukan?

Lalu saya menjawab pertanyaan teman saya diatas “saya tidak tahu”. Lantas dia berkata “aku mungkin akan down bila menjadi kamu”. Saya menjawab “memang saya sebagai manusia juga pernah merasa down, tapi saya pun tidak mau terus terpuruk dan kalah walaupun dalam keadaan seperti ini. Daripada menangisi apa yang telah hilang, lebih baik mensyukuri apa yang masih tersisa bukan? :) . Walaupun saya tidak bisa lagi melakukan hobi saya yaitu berolahraga, tetapi setidaknya masih banyak hal lain yang masih saya perbuat :) . I focus on what I can do than what I can’t do. Namun bukan berarti saya sudah berhenti berjuang, saya masih rutin melakukan terapi demi mendapatkan kesembuhan yang masih tersamar :) .

God Bless You :D

Best Regards,

Lisa Vinatalia @2154lisa

Related posts:

  1. Berpikir Positif Dalam Keadaan Sulit
  2. Kekuatan Berpikir Positif
  3. Apa yang Tuhan tidak ciptakan? -Palmira Vidya Mumpuni, UI
  4. Memotivasi Diri untuk Membuat Perubahan Positif

Leave a Reply