Bersahabat dengan kritik – Palmira Vidya Mumpuni, YOT CA UI, Febuari
January 16, 2012, by YOTCA. read: 203
Hay! Wah akhirnya ketemu lagi kita dengan artikel bulan ini, sekarang cveritanya January’s edition ya hehehe. Mau bahas apa nih enaknya? Bahas yang sering dialami sama semua orang aja ya. Kritik. Bersahabat dengan kritik.
Dalam pergaulan sekarang, tanpa sengaja kita dekat sekali dengan masalah masalah yang ada. Pergaulan melibatkan beberapa individu yang berinteraksi satu sama lain di dalamnya. Termasuk kita. Pada perjalanannya, banyak hambatan yang dapat terjadi. Ada yang suka, ada yang sensi, bahkan ada yang menjatuhkan. Saat kita berbuat yang tidak pantas, yang suka akan diem saja, atau bahkan mengkritik membangun, tetapi kritik diam diam. Sedangkan yang tidak suka? Waaah tidak segan segan kita dihajar kata kata di tempat, hehehe.
Cara menghadapi kritik itu banyak sekali yang bisa dilakukan. Tergantung kita tipe individu yang seperti apa.namun, cara yang paling ampuh untuk menghadapi kritikan adalah, dengan cara menjadikannya sahabat. Menganggap bahwa kritikan itu biasa, kritikan itu wajar, baik yang suka maupun tidak, yang namanya kalau berkembang, pasti diperhatikan.
Saat jalan menghadapi sukses, otomatis saat kita beranjak naik, orang akan notice, waaaaah ada si ini nih, perkembangannya oke nih kayaknya. Sehinggaa apapun yang kita lakukan, akan masuk dalam pemantauannya, apalagi kalau si pemantau merasa insecure, merasa ada saingan, udah deh, siap siap aja tudingan ini itu menghadang. Saatnya memasang gabus, lalu dibelakangnya tameng. Artinya, yuk diserap dulu, lalu siap siap menolak, kalau tidak sesuai.
Orang baik yang mendapat kritik, biasanya akan stress. Apalagi kalau orang yang tipe sangat ramah, yang hampir setiap hari mendapatkan pujian. Udah tuh, ketika kritik menghadang, pupus sudah hidup rasanya. Mau sukses dengan cara seperti ini? Oooh tidak bisaaaaaa. Yang namanya orang sukses, harus terbiasa dengan kritikan. Baik itu yang pedas, sampai kritikan manis selembut permen gulali sekalipun, halah :p Saat kritik datang, jangan langsung pasang tameng! Serap dahulu. Bila punya waktu, pikirkan. Bila sedang sibuk, abaikan sementara, like nothing happens. Jangan langsung dibantah. Analisa dahulu. Posisikan diri kita di diri si pengkritik. Apakah kita akan merasakan hal yang sama? Lalu posisikan kita ke diri orang lain, segitu berpengaruhkah perbuatan kita? Segitu mengganggu kah? Tanya dengan orang terdekat, minta pendapat. Tanya juga dengan orang yang bahkan tidak dekat dengan kita. Orang orang begini nih, rawan untuk berpersepsi yanga neh-aneh, atau justru yang bagus bagus. Manfaatkan, tanya!
Setelah melakukan analisa, lihat, apakah memang harus kita yang melakukan perubahan dan meminta maaf, atau justru……harus pasang tameng! Saat kritikan sudah menjelma menjadi gosip, serap jangan kebanyakan, pasang tameng langsung. Tidak perlu dipantulkan kembali, cukup tidak perlu dihiraukan. Naaah, orang yang sukses, itu bersahabat dengan yang namanya kritik. Mereka terbiasa untuk menyerap, juga bersamaan memasang tameng setelahnya. Mau menjadi sukses? Kritikan itu wajar. Semakin tinggi pohon, semakin banyak anginnya. Semakin tinggi perkembangan yang kamu buat, akan adaaaaaaaa aja masalahnya. Yuk hadapi! Yuk serap, dan pasang tameng. Yuk, bersahabat dengan kritikan!
saya Palmira Vidya Mumpuni, YOT CA dari Universitas Indonesia, sampai jumpa bulan depan, dadaaaah
Related posts:
- Coz Everyone is Special – Palmira Vidya Mumpuni
- Apel – Palmira Vidya Mumpuni, UI
- Sepotong kue -Palmira Vidya Mumpuni, UI
- Mengasah kapak -Palmira Vidya Mumpuni, UI
- Yakin ingin mati? Palmira Vidya Mumpuni, UI


