billy boen

BISA KARENA BIASA!

September 18, 2011, by YOTCA. read: 1,470

from : Jonathan Christian Susanto – YOT CA LSPR (@trapjovers89)

Saya beruntung! Mengapa? Karena saya saat ini bisa menjadi saksi dari lahirnya sebuah komunitas ‘gokil’ yang berisikan anak-anak muda yang nantinya akan siap mengguncang dunia. Apalagi kalau bukan Young on Top Campus Ambassador.

Saya merasa lebih special karena saya merupakan salah satu orang pertama yang tahu akan program mentorship ini, kemudian ternyata saya orang pertama yang mendaftar dan saya juga menjadi yang pertama pada saat di wawancara untuk seleksi. Jadi bisa dibilang saya adalah saksi sejarah dari YOT CA.

Tahun lalu, dari 12 pertemuan Monthly Meeting YOT CA saya hanya 1 kali berhalangan untuk hadir. Hal ini menjadi penting karena selain topic yang dibahas selalu asik, kemudian habit yang diciptakan juga mau tidak mau membuat kebiasaan saya menjadi berubah.

Mungkin sudah tidak asing lagi, siapapun yang akan berurusan dengan kak Billy Boen harus tahu value WAJIB beliau, apalagi kalau bukan ON TIME! Nah disini mau tidak mau menjadi sebuah aib kalau sampai acara tidak berjalan ON TIME. Puji Tuhannya dari 11 kali pertemuan yang saya ikuti, saya belum pernah telat sama sekali.
Sebetulnya saya bukan orang yang selalu on time, terkadang saya memang suka telat datang ke dalam suatu acara. Saya sama dengan kebanyakan orang yang suka menganggap “Toh acaranya bakal ngaret juga.” Namun sebisa mungkin saya selalu datang tepat di jam yang sudah ditentukan, alhasil memang jadinya saya yang lebih suka menunggu daripada ditunggu.

Nah ternyata hasil mentorship dari YOT CA yang kurang lebih sudah masuk bulan ke 14 bagi saya membuahkan hasil. Jadi minggu lalu (6-10 September 2011) saya terpilih menjadi delegasi dari Indonesia di Asia Pacific Youth Assembly yang diselenggarakan oleh LSPR 4C. Namun karena satu dan hal lainnya maka peserta yang mengikuti kegiatan ini hanya berasal dari 5 negara ASEAN termasuk Indonesia.

Awalnya saya berharap mendapat teman sekamar dari Indonesia. Alasannya simple, saya merasa lebih nyaman karena pasti kita punya budaya yang sama, bahasa yang sama, dan hal-hal lainnya yang sama. Namun yang terjadi justru sebaliknya, saya mendapat teman sekamar dari Filipina (Richard) dan Kamboja (Kheang). Okay, cukup menantang untuk saya.

Ternyata roommates saya orangnya satu frekuensi dengan saya. Mereka juga orang-orang hebat menurut saya dari negaranya masing-masing. Bahkan keduanya sempat saya kenalkan kepada sang mentor tercinta (kak BB) di apartemen Sudirman Park dan mereka meminta untuk buku Young on Top ditulis ke dalam bahasa Inggris (Semoga langkah awal untuk Go International).

Di hari pertama saya sudah menemukan masalah. Selama liburan semester ini, saya terbiasa tidur pagi dan bangun siang. Sedangkan acara ini dimulai dari pagi (sarapan pukul 7 pagi). Menurut saya ini adalah masalah dan tantangan bagi saya, alhasil dengan segala cara saya bisa tidur juga jam 2 pagi dan bangun pukul 6 pagi.
Tepat pukul 7 pagi saya dan kedua teman saya sampai di tempat yang ditentukan, namun alhasil panitia belum siap untuk menyiapkan sarapan. Alhasil kami menunggu panitia menyiapkan sarapan untuk kami. TIdak hanya panitia, namun peserta lain pun tidak ada yang muncul. Kebanyakan mereka muncul setelah setengah jam atau 1 jam setelah jam 7. Memang di rundown jadwal sarapan jam 7 sampai pukul setengah 9.

Uniknya hal ini terulang sampai di hari terakhir penyelenggaraan acara ini. Padahal kami sempat bercerita mengenai kebiasaan ngaret di negara masing-masing dan ternyata bukan Cuma orang Indonesia aja yang suka ngaret, mayoritas orang ASEAN semuanya ngaret! Tapi saya salut dengan 2 teman saya ini, mereka tidak mau menjadi anak muda ‘biasa’, begitupun saya.

Saya pribadi menilai saya bisa menjadi seperti ini karena saya terbiasa on time di YOT CA. Saat ini saya kalau tidak on time jadi ngerasa takut dan terbayang wajah mentor saya (BB) yang lagi galak kalau ada yang tidak on time.

Di sinilah value yang saya dapat dari YOT CA, saya pribadi menilai program mentorship ini berhasil mengubah sebagian diri saya menjadi lebih baik. Karena percuma kita mengikuti program mentorship sebanyak apapun atau dilatih oleh siapapun tapi kalau itu tidak bisa member value atau mengubah kehidupan kita. Buat apa punya sertifikat yang banyak tapi kalau dari hal yang sepele aja tidak bisa berubah.

So, saya merasa saya bisa melakukan ini semua karena terbiasa. Mungkin awalnya berat, tapi lakukan aja terus-menerus. Jangan banyak mengeluh, karena saya percaya tidak ada yang baik dihasilkan dalam waktu sekejap. Semuanya harus ada usaha dan proses. Jangan jadi orang pesimis, yang selalu bilang “tidak bisa”, “susah”, “tidak mungkin”. Ingat bung, dunia ini hanya untuk para pemberani!

Related posts:

  1. Kalau Mau, Pasti Bisa
  2. Patah hati karena cinta? Jadikan semangat untuk bangkit yuk!
  3. Insiden Karena ‘Emosi’ & ‘Setengah2′
  4. Ternyata Tidak Semua Orang Bisa Dimintai Rekomendasi atau Membuat Perkiraan

One Response to “BISA KARENA BIASA!”

  1. You made tremendous great ideas here. I done a research about the subject and learnt most peoples will go along with your website. A bad credit score Credit improvement Made Simple

Leave a Reply