Can you make me happy?
August 29, 2011, by YOTCA. read: 1,313
Grace Wiradjaja – YOT CA Univ. Tarumanagara
Banyak sekali orang berpikir seperti ini, “kalau saya mendapat jabatan A, saya akan bahagia”; “kalau saya punya istri bak Angelina Jolie, saya akan bahagia”; “kalau saya ini itu ini itu, saya akan bahagia”
Dulu saya pun memiliki pemikiran yang sama, apalagi sebagai bocah yang konon masih labil, pasti banyak sekali ingin ini, ingin itu – yang menurut saya bisa membahagiakan saya. Saya pahami diri saya baik-baik. Saya belum terlalu tua. Saya juga tidak berusaha untuk sok sudah kenyang sama asam garam hidup. Belum. Masih jauh. Tapi at least, saya telah melewati umur saya selama ini bukan tanpa maksud dan makna.
Ada banyak peristiwa yang mempengaruhi hidup seseorang. Termasuk saya. Saya pernah mengalami fase tidak tahu hidup untuk apa, sampai pada suatu fase di mana kebahagiaan itu menjadi kabur. Dan saat itu masih saya ingat. Saya ingin menikmati nikmatnya bahagia, ketika melihat orang lain bahagia.
Saya mempunyai sebuah keluarga (ayah, ibu, adik), pekerjaan yang bagus, nilai di kampus yang masih oke, dan sebagainya. Tapi kalau ditanya, “Apa kamu bahagia?”. Jujur saya bingung. Bahagiakah saya?
Tidak satupun di dunia ini mampu membuat saya bahagia. Keluarga saya harmonis, tetapi kadang selalu ada saja yang kurang. Saya juga berusaha membahagiakan keluarga saya, tetapi kok saya merasa selalu saja ada yang salah. Tidak ada cinta manapun di dunia ini yang mampu memenuhi semua kebutuhan cinta kita, bahkan dari orang yang dulu kita pikir bisa memberi kita kebahagiaan itu. Tapi taukah Anda, “This is my life and I choose to be happy. I deserve to be happy.”
Di sebuah seminar John Maxwell, ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada istrinya. “Apakah Anda bahagia menjadi istri John Maxwell?” Mata Bp.Maxwell tertuju pada istrinya, menunggu jawaban istri yang selama ini setia mendampinginya. Lalu istrinya berdiri dan menjawab pertanyaan itu dengan senyum dan kata-kata yang sangat tenang: “Tidak ada satupun di dunia ini mampu membuat saya bahagia. Tidak juga suami saya, karena apapun yang dia usaha lakukan buat saya, adalah keputusan saya untuk menjadi bahagia. Hanya saya yang mampu mengambil keputusan untuk membuat diri saya bahagia.”
Dapatkah keluarga, semua sahabat saya, pacar saya, membahagiakan saya? TIDAK. Tapi kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan. Saya selalu dapat menjadi seorang anak, sahabat, pasangan hidup yang bahagia, karena hanya saya yang dapat membuat diri saya bahagia, melalui keputusan untuk memilih setiap hari. And I choose to be happy!
Perasaan dapat datang dan pergi. Sesaat kita bisa merasa jatuh cinta, tetapi semenit kemudian dapat berganti menjadi benci. Satu moment kita bisa merasa begitu bahagia, ngga lama tiba-tiba kita merasa sedih.
Kita kemudian mulai menyalahkan lingkungan kita. Sedang PMS lah, orang tua pendapatannya mepetlah, apapun itu bisa kita jadikan alasan. Tapi apakah itu menjawab tentang mengapa kita tidak bahagia?
“Saya ingin menjadi bahagia, dengan apapun yang saya miliki. Mungkin saya tidak sekaya Mas Billy, tidak juga secantik Natasya yang finalis Putri Indonesia. Tidak setinggi Lili, tidak semenarik Citra atau Laura. Tapi saya adalah saya, dan saya belajar bersyukur untuk semua itu.”
Saya ingin bahagia. Anda?
Related posts:


