CERITA KLASIK TENTANG NEGRIKU ; SEBUAH KONTEMPLASI
October 8, 2011, by shintaputri. read: 642
Sore itu, 10 tahun yang lalu, Kakek saya masih dengan setia bercerita tentang bagaimana dulu Beliau berjuang melawan penjajah negeri ini. Caranya selalu sama, dimulai dengan obrolan ringan ditemani secangkir minuman berwarna kecokelatan yang manis,wangi dan hangat, seperti pelukan ibu. Dari cerita Beliau, sepertinya hidup di Indonesia belum terasa seberat ini. Dulu, masih jarang sekali ada cerita bahwa membuat KTP harus membayar 600 ribu, atau membuat akte kelahiran harus ada uang untuk “mempercepat” proses pengerjaanya.
Jika kuingat lagi tentang Indonesia, rasanya seperti menikmati kembali secangkir minuman panas yang didalamnya bercampur harapan dan pesimisme yang tidak pernah jelas batasannya. Sebagian mencerca, sebagian pula bangga. Semacam bimbang, gamang dan tak punya tujuan. Inilah bangsaku saat ini. Memang dari awal berdiripun tak ada yang benar-benar yakin, dari mulai apa yang akan menjadi sila pertama pancasila hingga undang undang yang diamandemen berkali kali. Rasanya hukum tak pernah berdiri dengan benar-benar tegak. Selalu saja yang punya uanglah yang bisa mengatur kemana arah tegaknya hukum di negara kita. Entah tegak ke samping atau kemanapun mereka mau.
Barangkali, ada yang bilang bahwa Indonesia masih belajar dari negara berkembang untuk bisa menjadi negara yang maju. Akan tetapi, 66 tahun bagi sebuah negara yang dihuni ratusan juta orang yang katanya pintar ini, masih saja tak bisa berjalan dengan tegak, masih sering kali terseok-seok. Bisa saja beberapa tahun lagi, Indonesia sudah bukan lagi menjadi subyek dalam pelajaran geografi. Indonesia mungkin saja berubah menjadi salah satu judul bab di buku pelajaran sejarah atau menjadi bahan pembelajaran agama mengenai negara yang dihuni oleh manusia yang tidak dapat dipercaya dan menyepelekan amanah begitu saja. Negara yang isinya para pemuda yang tak punya visi, sehingga mereka mati bersamaan dengan matinya pendahulu yang lebih tau arah.
Kita tak akan pernah tau seperti apa jadinya Indonesia beberapa tahun ke depan, banyak yang miskin di tanah mereka yang kaya. Banyak yang mati di negara mereka yang subur, banyak yang anti memakai batik dan lebih bangga memakai baju kurang kain berharga ratusan ribu. Mereka yang peduli, hanya diam saja, takut berbuat apa-apa. Bangga saat dibungkam oleh uang. Lama kelamaan, mereka berangsur angsur pergi. Dan kembali tak peduli.
Semua cita-cita hanyalah serupa kata mutiara yang dihapalkan anak SD saat upacara.
Mana? KeTuhanan yang Maha Esa? Kalau masih saja kita mencela agama lain, adanya bom di tempat-tempat ibadah, diskriminasi kepada mereka yang beda agama.
Mana? Kemanusiaan yang Adil dan Beradab? Jika keadilan bisa sesekali ditukar dengan kertas bertuliskan nominal yang begitu dipuja banyak orang
Mana? Persatuan Indonesia? Jika kita masih suka menjelekkan suku lain, merasa golongannya yang paling benar dan yang paling baik. Terkurung dan tak mau mencari teman untuk membuka mata mencari pengalaman baru
Mana? Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Jika yang dikatakan bijaksana di sini adalah dengan membiarkan para koruptor dihukum beberapa bulan saja, dan Orang orang kelaparan yang maling ayam harus dihukum seumur hidup.
Mana? Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia? HAH. Banyak yang masih belum sejahtera di berbagai daerah pelosok jauh di sana. Masih banyak yang mati hanya karena tak mampu membayar obat, atau banyak yang terkena busung lapar hanya karena tak ada uang untuk membeli makanan sehat.
Hanya sedikit renungan saja kawan! bangsa ini butuh pembawa arah dan orang yang bisa menjaga amanah.
Pernahkah kalian mendengar kalimat, “you don’t need to trust your government, just trust your God and your nation”
Di balik semua kekacauan ini, jangan pernah mengutuk negeri kita. Baik buruknya bangsa kita, itu hanyalah objek dari hasil perbuatan kita semua, sebagai subjek. Tinggal kita memilih, menjadi subyek yang aktif atau pasif?
Kalau kita hendak mencari ilmu, carilah ilmu tersebut di tempat terbaik meski itu jauh, hingga ke negeri bahkan benua seberang. Namun setelah kau menjadi pintar dan berakhlak, kembalilah ke negerimu berasal dan bangunlah bangsamu ini. Sebab, jika semua orang cerdas alergi dengan negerinya sendiri, kemudian berlomba-lomba pergi, siapa yang mau mengurus yang bodoh dan miskin ini? Siapa yang mau mengurus negara yang terlalu lama “berkembang” dan susah “maju” ini?
Sebuah Kontemplasi. Jakarta, 8 Oktober 2011
Shinta Putri, Universitas Bakrie
Related posts:
- Kita bicara tentang PERUBAHAN
- Sebuah Kisah Menarik: Kaki Saya dan TransJak*rta
- Sebuah term Psikologi—Resiliensi.
- 5 Fakta Tentang Sukses



artikelnya harus dibaca generisa muda nih kak
ga terkesan menggurui tapi pesannya kena
sebuah artikel yang begitu pas dengan keadaan negeri ini. padahal kita itu sudah diberikan keberlimpahan yang luar biasa. tapi karena karakter orang”nya, kita menjadi lama “berkembang” dan susah ” maju. Semoga kita sebagai generasi muda benar-benar menjadikan negri ini lebih baik dan bisa benar-benar dibanggakan untuk anak cucunya.
makasih komennya ya ajeng,ciymii, semoga kita bisa memberi aksi nyata ke depannya.
Nice…
“Di balik semua kekacauan ini, jangan pernah mengutuk negeri kita”
semakin sering mengutuk negeri sendiri, lama-lama Indonesia betul-betul jadi bangsa terkutuk..
ayo ingat-ingat lagi kejayaan Indonesia, agar kita semakin mencintai negeri kita sendiri.. kalau bukan kita, siapa lagi?
pasti kak tifah
jangan sampai Indonesia beralih dr mata pelajaran geografi menjadi judul bab mapel sejarah !
aku masih inget sharing kita tentang menyisipkan cerita rakyat dalam cerpen moderen, biar anak anak Indonesia tdk kehilangan jati diri mereka.
Ayo sama sama berkarya kak! Jadi manusia seberguna mungkin.
setuju banget sama shinta, sebagai mahasiswa ayo sama-sama take action buat Indonesia, setidaknya dimulai dari sila yang pertama, kalau bisa memahami sila itu pasti kita bisa saling menghormati anatr pemeluk agama dan ga perlu lagi ada teror di Indonesia.
dimulai dari diri sendiri, dimuali sejak dini