billy boen

Cerita sebuah perjalanan: Kontemplasi Hidup.

January 14, 2012, by YOTCA. read: 1,431

Christmastuti Destriyani – CA YOT Universitas Brawijaya – artikel Januari
Sehabis tahun baru kemarin, saya mengikuti diklat lapangan tahunan organisasi kampus yang saya ikuti. Tahun ini, kami mengadakan diklat di daerah pantai. Di Malang, daerah pantai banyak berada di daerah selatan. Yap, akhirnya kami pergi ke Malang Selatan.
Pantai Jonggring. Sebuah pantai yang tidak terlalu terkenal sekarang ini. Mungkin saya juga tidak akan pernah tahu pantai ini jika organisasi saya tersebut tidak mengadakan diklat ke sana.
Perjalanan
Kami harus menempuh perjalan kurang lebih dua jam untuk sampai ke desa Donomulyo dengan menggunakan kendaraan. Karena daerah Jawa Timur merupakan daerah dataran tinggi, sesekali jalan yang dilalui berkelok-kelok.
Sesampainya di desa Donomulyo, kami harus turun dari tronton karena ada perbaikan jalan oleh warga setempat. alhasil kami harus berjalan kaki sekitar 8km menuju pantai. Jika tronton tersebut bisa masuk desa beberapa kilometer saja, jarak perjalanan kami akan jauh lebih sedikit.
8km bukan jarak yang dekat. Apalagi kami, setiap orang, harus membawa barang-barang pribadi serta barang-barang keperluan berkemah dan makanan untuk 3hari. Ada beras 10kg, 3 tenda, 2 kompor, 2 gas, air minum, sayuran dll. Beratnya pun tidak sedikit.
Kami menuju pantai tapi harus melalui gunung. Menanjak. Menurun. Kira-kira begitu kontur jalan yang kami lalui. Kanan-kiri kami pohon. Sedangkan jalan yang kami lalui adalah jalan berbatu dan banyak kubangan. 8km dengan jalan berbatu dan kanan-kiri pepohonan.
Berkali-kali kami berhenti untuk istirahat. Beban di punggung, tangan dan kaki. Semua terasa berat. Minum banyak keluar keringat banyak. Dengan segala liku dan beban yang sudah kami lalui, akhirnya kami sampai di pantai. Ada sebuah kelegaan begitu meletakan barang bawaan yang menjadi beban selama perjalanan. Rasanya bebas bisa duduk tanpa perlu dikejar waktu untuk cepat sampai. Rasanya senang bisa berjalan tanpa beban. Rasanya senang melihat pantai dan ombak.
Kontemplasi Hidup
Saya memaknai perjalan menuju pantai Jonggring tersebut seperti sebuah perjalanan hidup. Mari kita uraikan ?
Menuju tujuan hidup kita itu tidak mudah. Yap, kita harus melalui jalan yang berliku. Kadang menanjak naik. Kadang menurun turun. Melalui bebatuan. Kadang melalui jalan aspal. Malah kadang harus melalui lumpur kotor. Dan beban merupakan sesuatu yang selalu ada di setiap perjalanannya.
Hidup itu lebih dari 8km menuju pantai Jonggring. Jalannya mungkin juga lebih berbatu dan berlumpur. Banyak tanjakan dan turunan. Beban yang dibawapun mungkin lebih berat daripada 10kg beras, kompor, 2tabung gas dll.
Tapi begitulah gambaran tentang perjalanan menuju tujuan kita dalam hidup.
Kita harus melalui perjalanan yang panjang. Kita harus membawa beban, entah beban pikiran, perasaan atau yang lainnya. Kita harus sakit dan lelah untuk sampai. Kadang belum sampai di setengah perjalanan, lelah sudah berlebih dan pikiran untuk kembali atau menyerah sering muncul menggoda. Kalau lelah fisik, kita bisa menghentikan perjalanan dengan beristirahat. Sedangkan kalau lelah otak dan hati, butuh waktu yang lama untuk memulihkannya.
Namun pilihan tetap ada di tangan kita. Menyerah dan kembali ke awal atau terus melanjutkan meski kelelahan. Kalau kita memilih menyerah, maka yang kita petik hanya kelelahan. Kembali ke awal justru menambah capek tanpa menghasilkan apa-apa. Sedangkan jika kita terus melanjutkannya meski kelelahan ketika kita sampai di tujuan, maka ada kepuasan tersendiri di dalam hati.
Lalu manakan kamu? ?

Salam Bahagia
Christ

Related posts:

  1. CERITA KLASIK TENTANG NEGRIKU ; SEBUAH KONTEMPLASI
  2. Zahra, Sebuah nama sebuah cerita
  3. Oase Kecil Sebuah Perjalanan
  4. Sebuah Nama Sebuah Cerita
  5. Perjalanan Panjang Sang Calon Juara

Leave a Reply