Children with Cancer
October 10, 2011, by rizka_astari. read: 1,359
Matanya mengikuti setiap gerakan saya dengan penuh rasa ingin tahu saat saya mendekati ranjangnya. Bibirnya memeluk serangkai senyum simpul. Kami berkenalan. Dan hey, “hari ini aku ulang tahun…,” katanya disertai senyum malu-malu. Wah, saya langsung mengucapkan selamat padanya. Tak ketinggalan juga lima volunteer lainnya. Bersama-sama, kami menyanyikan lagu ‘happy birthday to you’ untuknya. Matanya bersinar bahagia karena kegembiraan kecil itu. Terbersit pikiran yang membuat saya terharu. Dia terlihat hidup sekali, bahkan dalam kondisi begini…
Hari itu adalah kedua kalinya saya mengunjungi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo setelah tergabung dalam suatu organisasi relawan yang menghimpun para relawan untuk menghibur pasien anak-anak yang terkena kanker. Di hari yang sama, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-16 itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan Risma, seorang pasien kanker tulang yang mendiami ruang IKA kelas 3 RSCM (sekarang gedungnya sudah diruntuhkan). Risma banyak bercerita pada saya tentang dirinya yang berasal dari Pandeglang dan sudah setahun terpaksa dirawat di RSCM karena kanker tulang yang menyebabkan kaki kirinya membengkak 5x lebih besar dari ukuran normal. Kedua orangtuanya ikut ke Jakarta, menyebabkan ayahnya terpaksa kehilangan pekerjaannya di Pandeglang, sementara beliau tidak kunjung mendapatkan pekerjaan baru di ibukota. Bisa dibayangkan betapa beratnya hal tersebut bagi kedua orangtua Risma. Mereka harus mencari pinjaman kesana kemari untuk membayar biaya pengobatan dan kemoterapi yang selangit. Belum lagi untuk biaya pribadi mereka sendiri.
Selain itu, Risma juga bercerita mengenai hal-hal yang sebenarnya membuat saya agak pilu ketika kami melihat pasien anak kecil di ranjang seberang sedang dipakaikan selang ‘minum susu’. Jadi menurut Risma, apabila pasien mogok makan (biasanya karena mual setelah pengobatan), maka pasien harus dipakaikan selang tersebut untuk memasukkan asupan makanan ke dalam tubuh. Dia sedikit mengeluh pada saya, “Kenapa kita harus dipaksa begitu. Padahal tungguin aja kalo ga mau makan kan mungkin masih kenyang. Ga usah dipaksa pake selang…”. Kemudian dia juga bercerita rasa sakitnya ketika dipasangi selang untuk buang air kecil yang disebut kateter. Sampai membuatnya kejang-kejang katanya. Subhanallah, Risma… Hampir tidak kuat saya menahan air mata begitu mendengarnya. Terharu dan sedih, betapa banyak yang harus ditanggung dalam tubuh semuda itu. Saya merasa malu karena seringnya saya mengeluh karena hal yang sepele apabila dibandingkan dengan apa yang Risma alami. Dia sungguh tabah menghadapi semuanya dan menjalani semuanya, hanya mampu mengelus kakinya yang membesar dan terus menerus memperhatikan tangannya yang semakin kurus.
Hingga saat ini, sudah banyak Risma-Risma lainnya yang saya temui. Kebanyakan masih duduk di sekolah dasar, tapi tidak sedikit juga yang masih di bawah usia balita maupun belasan tahun. Kebanyakan terpaksa berhenti sekolah karena penyakit yang mereka miliki. Padahal dengan usia itu, seharusnya mereka sedang sibuk-sibuknya lari-larian di lapangan bersama teman-temannya yang lain. Tapi yang bisa mereka lakukan hanya berbaring, memperhatikan perubahan fisik yang membuat pilu, dan dengan tubuh mungil mereka, berjuang menahan sakit yang tak terbayangkan, berharap untuk lekas sembuh agar bisa bermain dengan teman-teman mereka lagi, padahal mereka juga tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya menimpa mereka.
Apa yang ingin saya share dalam posting ini adalah sedikit gambaran agar kita bisa lebih prihatin dan peduli pada segelintir bocah-bocah dengan usia yang begitu belia yang sudah berada di medan pertempuran melawan sesuatu yang abstrak, yang tidak bisa dilihat, yang ada dalam diri mereka: kanker ganas. Mereka memiliki nasib yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan kita yang telah diberikan anugerah berupa kesehatan.
Menurut saya, merupakan suatu kewajiban bagi kita yang jauh lebih beruntung dari mereka untuk berbagi. Mungkin dengan mengurangi sedikit kocek kita untuk karaokean atau menonton bioskop setiap minggu dan menyisihkannya untuk mereka. Mungkin mudah saja bagi kita untuk menukar lembaran hijau, biru atau merah untuk selembar tiket masuk bioskop atau makan-makan di tempat mahal. Tapi tahukah bahwa lembaran-lembaran tersebut sangat berarti banyak bagi mereka? Apalah artinya jika lembaran-lembaran tersebut bisa ditukar dengan senyum bahagia mereka? Bukan berarti kita dilarang untuk bersenang-senang. Tapi paling tidak, sisihkan saja sedikit. Tidak harus berjumlah banyak, tapi buah tangan kecil dalam bentuk berupa buah-buahan, buku, atau mainan pun sudah sangat cukup untuk membahagiakan anak-anak tersebut dan membantu meminimalisir pengeluaran orangtua mereka untuk menyenangkan anak-anak mereka.
Sejauh ini, saya pribadi belum bisa membantu sepenuhnya berhubung saya belum mandiri secara finansial. Walaupun demikian, seharusnya hal tersebut tidak menjadi kendala untuk tetap bisa membantu anak-anak tersebut. Jadi, saya menyimpan sebuah kaleng bekas potato chips dan mencoba mengumpulkan uang receh setiap hari ke dalamnya dengan nominal Rp500,00 atau Rp1.000,00. Entah bagaimana caranya, tapi yang jelas setiap hari saya tidak boleh absen memasukkan receh ke dalam tabung tersebut. Toh uang receh malah kadang terbuang dan berceceran sebelum akhirnya hilang tanpa kita sadari. Daripada seperti itu, lebih baik ditabung sehingga dapat meringankan jika nantinya saya ingin memberikan sesuatu pada anak-anak tersebut atau menyumbang untuk organisasi dimana saya tergabung…
Hmmm… tapi sebenarnya, tidak melulu menyangkut soal finansial untuk bisa berbagi. Ada hal yang sangat sederhana dan tidak kalah penting yang dapat kita sumbangkan untuk anak-anak itu.
Waktu kita…
Apa yang anak-anak tersebut butuhkan untuk melawan penyakit yang berdiam dalam tubuh mereka sebenarnya adalah pikiran positif dan kegembiraan. Penyakit yang diderita mereka telah cukup banyak merenggut kegembiraan dan pikiran positif mereka untuk sembuh. Selain itu, pasien anak-anak yang terkena kanker kebanyakan cenderung tertutup, minder, dan pemalu karena mereka merasa telah mengidap sesuatu yang membuat mereka berbeda dengan temen-teman mereka dan orang-orang sepertinya tidak mau mendekati mereka. Ditambah lagi, kebanyakan terpaksa absen sekolah untuk waktu yang lama sehingga tidak dapat bertemu dengan teman-temannya. Mereka kesepian.
Alangkah baiknya, jika kita dapat menyisihkan waktu kita barang satu atau dua jam dalam seminggu untuk menemani mereka, menjadi teman mereka dan menanamkan semangat pada mereka. Sekedar bermain, menggambar dan mewarnai, membuat origami, menyusun puzzle, atau membacakan cerita, agar membuat mereka merasa seperti anak-anak sehat lainnya yang bisa bermain-main dan membuat mereka ‘amnesia’ sesaat akan apa yang sebenarnya menimpa mereka. Dengan demikian, mungkin bisa membuat mereka bersemangat serta memunculkan harapan untuk berusaha sembuh dan supaya mereka merasa sama dengan anak-anak lainnya di luar gedung tersebut yang diberikan nasib yang jauh lebih beruntung.
Tidak sulit bukan untuk berbagi? Untuk kita yang diberikan rezeki lebih, daripada uang terpakai untuk hura-hura yang hanya memberikan kesenangan pribadi sejenak, lebih baik diberikan pada mereka dan dengan demikian, niscaya kita akan memperoleh kesenangan yang lebih menentramkan dan mendalam saat melihat senyuman mereka. Untuk kita yang banyak memiliki waktu luang, daripada waktu kita terbuang percuma untuk tidur-tiduran, windows shopping, atau bermain-main sendiri, lebih baik kita habiskan untuk mengisi kesunyian mereka dan menjadi teman untuk menyiramkan mereka semangat dalam perjuangan mereka melawan kanker.
~Sekali-sekali, lihatlah ke bawah, maka kita akan melihat banyaknya tangan-tangan yang terulur pada kita, menunggu untuk dibantu…
(untuk alm.Risma)
oleh: Rizka Astari-Universitas Bakrie
sumber gambar: http://www.melindahospital.com/modul/user/images/images_artikel/Waspadai_kanker_pada_anak_200.gif
No related posts.




