billy boen

Cita-cita nilai tujuan, bukan alat – Palmira Vidya Mumpuni – Agustus – FKG UI

September 19, 2011, by YOTCA. read: 530

Hallo semuanyaaaaa! Jumpa lagi di artikel bulan September yaaaa. :) Mau bahas apa nihya kira-kira? Setelah berpikir lumayan lama, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil topik ini: “Cita-cita nilai tujuan, bukan alat”. Pasti ada alasan dong ya mengapa saya mengambil topik ini yang terkesan implisit hehehe. Apa saja alasannya? Berikut dijabarkan untuk teman-teman semua. :D

Semua ini dimulai dari kekhawatiran saya tentang segala sesuatu yang saya lihat disekitar saya. Dan terinspirasi juga dari sebuah lagu. Manusia kerap kali bercita-cita untuk kaya. Kalau ditanya, “mau jadi apa?”, jawabannya “mau jadi orang terkaya di dunia, bisa keliling dunia, punya pulau sendiri”, atau “mau jadi dokter supaya bisa punya banyak uang (sampai sekarang saya masih bingung dengan statement ini hehehe)” atau “mau jadi bussiness man or woman, kan keren tuh, gaul” atau “ingin punya perusahaan yang banyak duitnya, jadi tidurpun duit mengalir”. Ok baiklah, keren sekali ya contoh-contoh cita-cita diatas. Oleh karena itu saya jadi berpikir “gila lo semua cita-cita itu berujung pada materi. Berujung pada alat, bukan tujuan”. Lalu saya berpikir lebih lanjut “terus kalau sudah punya banyak uang, sudah kaya,kenapa, cuy? Mau sampai kapan? Butuh berapa milyar?”. Kesemua hal diatas bersifat sementara. Menjadi kaya adalah nilai alat (menurut saya), bukan nilai tujuan. Contoh: seorang anak ingin mempunyai BMW ketika besar nanti. Apakah itu cita-cita? Ya betul, cita-cita bernilai alat, bukan tujuan. Mengapa tidak diubah? Seperti….“Saya ingin menjadi sekjen IMF yang berguna bagi keuangan dunia”. Bayangkan, kalau cita-citanya itu, masa BMW saja tidak punya? BMW adalah nilai alat yang mengikuti nilai tujuan (menjadi sekjen IMF yang berguna), dengan begitu, hidup tidak akan berakhir di “so what?” Tetapi akan berubah akhirannya menjadi “I’ve done a great job to people, menjadi berguna, BMW kudapat karena saya melakukan itu”. See? Lebih oke kan? ;)

Contoh kedua yang menjadi kekhawatiran saya adalah mereka yang selalu menjawab pertanyaan diatas dengan “saya ingin tenar, saya ingin terkenal, saya ingin menjadi yang tercantik, terkeren, badan terbaik dan terseksi sejagad, jadi duta sana sini, jadi putri ini itu” but then jiwa, rasa, akal dan fisiknya tumpul (baik keempatnya, ketiganya, keduanya atau hanya salah satu). Mereka tidak tahu kapan harus berhenti, mereka tidak dapat mengukur diri, dan mereka tidak tahu untuk apa melakukan ini itu. Ribet ya? Memang ribet sih hehehe (saya jadi bingung harus nulis apa lagi :p). Pada akhirnya, disaat semua hal diatas tidak tercapai salah satu, atau bahkan hilang semuanya, apa yang terjadi? Depresi.

Kalau begitu, bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara men-set cita-cita? Jawabannya ya, menyeimbangkan kesemua hal itu. Akal (otak), rasa (seni), fisik (olahraga) dan jiwa (berdoa, tunduk pada agama, ikhlas). Cita-cita, pada akhirnya akan seimbang dengan ke-empat hal tersebut. (Asyik ya bahasa gue? Hehehe).

Daripada pusing-pusing, yuk mari saya kasih contoh lagi. Kita ambil contoh orang yang ingin menjadi dokter yang berujung pada materi, rela melakukan apapun supaya rezeki tetap mengalir, kaya raya, dihormati banyak orang dan merasa sangat dibutuhkan (kepada dokter mohon maaf mengambil contoh ini, tenaaang…..saya calon dokter kok :D ). Lalu…mereka melupakan kesehatan mereka (fisik-olahraga) yang berujung dengan sakit. Mereka lupa berolahraga, mereka lupa untuk menyeimbangkan otak mereka dengan seni (baik music, melukis, dll), pada akhirnya sukses itu sendiri menjadi tidak seimbang dan….berujung pada depresi. Apa itu yang dinamakan sukses? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tentu saja semua berujung pada penyeimbangan yang pada akhirnya pada ketenangan jiwa, kesenangan bathin. Agama dan Tuhan :) 2 hal yang orang sering lupakan setelah kesehatan.

Jadi apakah arti sukses itu? Penyeimbangan ke-empat hal tersebut dan menjadikan cita-cita sebagai nilai tujuan, bukan nilai alat.

Saya Palmira Vidya Mumpuni, dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia.

Related posts:

  1. Mengasah kapak -Palmira Vidya Mumpuni, UI
  2. Sepotong kue -Palmira Vidya Mumpuni, UI
  3. Yakin ingin mati? Palmira Vidya Mumpuni, UI
  4. Pidato anak 12tahun di ruang sidang PBB -Palmira Vidya Mumpuni, UI
  5. Apa yang Tuhan tidak ciptakan? -Palmira Vidya Mumpuni, UI

Leave a Reply