Dare to be the first!
August 3, 2011, by YOTCA. read: 1,445
Kartika Nindya Putri
YOT CA Universitas Bakrie
Post ini terinspirasi oleh kejadian yang pernah saya alami di Grapari Telkomsel Jaksel.
Sore itu, Grapari memang sangat ramai. Saya mendapat nomor antrian 1115, sedangkan yang sekarang dilayani di counter masih no 1099. Tidak terbayangkan berapa lama lagi saya harus menunggu. Akhirnya, saya memilih buat duduk di sofa-sofa empuk yang telah disediakan di sana bersama puluhan pengantri lainnya.
15 menit kemudian…
30 menit kemudian..
Bosaaan.Giliran saya tak kunjung datang.
Cukup lama saya memperhatikan keadaan sekitar hingga akhirnya mata ini tertambat pada deretan gelas bertuliskan salah satu merk air minum. Sepertinya Telkomsel memberi service gratis minum buat para customernya yang menunggu antrian, tetapi saya sedikit heran kenapa tidak ada satupun pengantri (saat itu) yang memanfaatkan air minum gratisan. Bohong kalau mereka tidak bosan menunggu hingga kehausan seperti saya.
Akhirnya saya dengan sejuta pede mengambil air minum yang tersedia, setelah saya berbalik duduk, sontak beberapa orang lain mulai mengambil minum juga. “Loh, kenapa gak dari tadi ambil minumnya?”, ucapku dalam hati. Tenyata seorang cewek menyeploskan kalimat, “Ya ampun dari tadi kek ada yang ngambil minum duluan, gue kan uda haus banget dari tadi..”
Hal itu membuat saya berpikir, kalau kalian semua memang sudah haus DARI TADI kenapa harus menunggu seseorang yang mengambil minum duluan baru BERANI ikut mengambil air minum?
Lalu, apakah orang-orang lain yang mengambil minum setelah saya berpikiran sama dengan cewek itu? Saya harap tidak.
Toh, air minum itu memang sudah ada di sana untuk diminum oleh pengunjung yang kehausan, lalu mengapa harus jaim, takut, atau malu? Mengambil minum bukan tindakan melanggar hukum kok, lalu mengapa harus menunggu dilakukan ramai-ramai?
Sepertinya kebiasaan ‘berjamaah’ memang khas Indonesia. Tapi kalau semua kegiatan harus ‘menunggu orang lain dahulu’, kita akan menjadi seorang follower, yang hanya bisa mengikuti tapi tidak bisa menjadi leader.
Kejadian seperti itu mungkin pernah kalian alami, di saat kalian ingin melakukan sesuatu tapi jaim, takut, dan malu, lalu berpikir, “ntar aja deh, nunggu ada yang duluan”
Apa yang salah dengan menjadi ‘the first’?
Apa yang salah dengan ‘maju aja sebodo amat apa kata orang’?
Jika kita tidak melakukan hal yang salah jangan pernah malu untuk memulai, jangan pernah takut untuk melakukan, dan jangan pernh membohongi diri kita sendiri. Sebagai contoh, kalau kamu menjadi cewek di Grapari tadi, jika saya tidak mengambil air minum terlebih dahulu, lalu apakah kamu akan menikmati kehausan dan menunggu ada yang mengambil duluan?
Intinya, jangan pernah menjadi seorang follower saja, hilangkan pikiran menjadi pertama adalah hal yang memalukan. Kalaupun memang hal itu memalukan, misalnya saat saya mengambil air minum, tiba-tiba didatangi satpam, “Maaf mbak, airnya bukan untuk customer.” Hal itu bukanlah masalah yang besar, jawab aja, “Oh ya? Maaf deh pak,” segera pergi dengan gelas terisi hahaha, yang penting kan minumnya.
Hal yang terpenting, stop being a follower! Indonesia masih butuh generasi muda yang spontan berinovasi untuk memulai hal-hal baru, bukan generasi yang beraninya hanya saat ramai-ramai. Mulailah mengubah mindset kita, dare to be the first
No related posts.



bravo tikuu…