EMOSI-an itu BERBAHAYA!
September 19, 2011, by YOTCA. read: 1,417
Herinda Kusuma- YOT CA Prasetiya Mulya Business School -Artikel September 2011
Halo! Apa kabar teman-teman?
Bagaimana mood kalian saat ini? Luar biasa baik atau malah kebalikannya?..atau biasa aja? Biasanya kalau ditanya “apa kabar?” sama orang lain, apa yang pertama kali terlintas di benak kalian? Kondisi fisik ataukah kondisi emosi yang kalian jadikan acuan..? Harusnya sih biasa orang akan jawab dengan acuan kondisi fisik mereka, seperti menjawab “ baik, sehat kok” atau “ga baik nih, lagi ga enak badan”. Ya gaa? Tapi ga jarang juga orang akan menjawab dengan acuan perasaan atau emosionalnya atau kondisi MOOD-nya “ga baik nih, lagi BETE” atau malah sebaliknya “baik banget, soalnya lagi bahagia banget gue hari ini”. Ya ga salah sih dua-duanya, keduanya merupakan gambaran kabar kita. Kali ini saya ingin sedikit membahas yang namanya mood (suasana hati). Kata MOODY, MOODY-an, BAD MOOD, belakangan ini sekiranya menjadi sesuatu yang cukup “in”. Emosi pun semakin sulit dikontrol oleh banyak anak muda.
Saya mendapat terinspirasi menulis artikel yang membahas mengenai hal ini karena kebetulan sekali beberapa hari yang lalu saya mengalami suatu kejadian yang sedikit mengherankan. Tetapi saya belajar sesuatu dari kejadian itu. Begini ceritanya, pada hari itu saya sedang menjalankan tugas saya sebagai salah seorang panitia pada suatu acara di kampus. Nah, tiba-tiba saya melihat salah seorang rekan saya sedang melamun, karena melihat dia melamun, saya menghampirinya lalu berkata “woiii! Jangan ngelamun!” . Tanpa niat apa-apa, hanya menegur dia untuk tidak melamun karena (biasanya) kata orang kalau ngelamun bisa-bisa kesambet :s Responnya hanya diam dengan menatap ke arah saya, karena merasa dia masih bengong. Saya mengulang teguran saya “jangan melamuuun!”. Tapi setelah teguran kedua itu, respons yang saya dapatkan malah aneh, membuat saya bingung. Respon kedua, ia membalas “iya, uda ga ngelamun!udahh?” dengan cukup ketus dan raut wajah menantang, seolah mau berkata ‘trus mau lo apa?!’ . Jawaban yang sangat membuat saya kaget, lah niat saya hanya mengingatkan dia agar tidak melamun. Dalam hati saya berkata ‘lohhh, kenapa dia marah-marah?kan gue ga buat salah sama dia?’. Saya yakin sekali bahwa saya tidak melakukan kesalahan pada dirinya. Tanpa banyak bicara lagi, saya segera beranjak dari hadapan dia, dengan sedikit perasaan kesal tapi juga aneh. Males juga ga sih nanggepin orang yang kaya gitu? Tapi saya mencoba berpikir positif, mungkin dia lagi galau atau ada permasalahan besar melanda hidupnya?entahlah. Saya memilih tidak ambil pusing mengenai masalah ini, yang penting kan niat saya menegurnya itu baik. Ets, cerita ga hanya sampai disini, ada kejadian yang cukup mengagetkan saya! Setelah acara selesai, tiba-tiba ada seseorang menghampiri saya. Orang itu berkata “Maaf yaa tadi Kak”, yaa itu rekan saya yang tadi saya ceritakan yang kebetulan adalah salah satu adik kelas saya. Ayo tebak apa yang saya rasakan saat itu? K.A.G.E.T. Saya kaget karena beberapa puluh menit sebelumnya dia bersikap seperti sedang marah kepada saya tanpa saya ketahui sebabnya.
Apa yang saya pelajari dari penggalan kejadian yang saya alami tadi? Saya belajar mengenai yang namanya EMOSI. EMOSI disini berkonotasi NEGATIF yaa. Mungkin saat itu, rekan saya itu sedang BAD MOOD sehingga emosinya tidak terkendali. Kalau BADMOOD, bawaannya jadi EMOSI-an. Pertama, EMOSI bisa bikin salah paham dan menciptakan hubungan yang tidak harmonis/baik. Contoh kalau perlakuan rekan saya itu, saya pendam dan masukkan dalam hati, yang akan terjadi adalah saya akan jadi ‘ga suka’ sama dia. Alhasil, hubungan saya dan dia akan menjadi tidak baik. Malah bisa-bisa jadi musuh karena hal kecil begitu. Kedua, EMOSI akan membuat suasana hati tidak nyaman dan damai. Ya iya, gimana bisa damai kalau bawaannya pengen marah-marah? Yang ada muncul masalah-masalah baru lainnya. Simpel aja, kalau abis emosian pasti kita merasa ga damai. Contoh, rekan saya itu pasti merasa ga damai, makanya minta maaf sama saya. Ketiga, EMOSI bikin kita malu! Kenapa? Iya dong, malu banget tadi uda kesannya marah-marah harus minta maaf karena merasa tadi uda bersikap tidak sepantasnya. Keempat, EMOSI juga bikin cepet tua gara-gara bawaannya marah-marah terus kerjaannya.
Keempat, EMOSI membuat kita jadi lepas kontrol akan diri kita sendiri. Saya cukup yakin, pasti saat rekan saya menjawab dengan ketusnya (atau ‘nyolot’ dan ga santai). Itu pasti dia sedang lost control akan dirinya. Harusnya kalau masih dalam control diri yang baik, sesorang yang normal akan sebisa mungkin berkata dan besikap baik pada orang yang tidak melakukan salah pada dirinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa EMOSI dapat berdampak TIDAK BAIK pada hidup kita. Intinya dari kejadian ini saya belajar bahwa EMOSI itu harus kita KENDALIKAN dan JANGAN biarkan diri kita DI-KENDALIKAN oleh EMOSI. Pada situasi itu saya merasa, rekan saya itu dikendalikan oleh emosinya bukan dia yang mengendalikan emosinya. Okee, mari kita belajar untuk mengontrol emosi kita!
“Control your emotions then you can control your life!”
Semoga menginspirasi
terima kasih!
Related posts:



Nice post. I was checking continuously this blog and I’m impressed! Very helpful information particularly the last part
I care for such information much. I was seeking this certain info for a long time. Thank you and good luck.