billy boen

Episode Tanpa Henti

October 8, 2011, by landung. read: 1,319

Akan aku paparkan sebuah cerita kepada kalian, sebuah cerita perang. Bukan seperti yang dikisahkan oleh Baratayuda dan Ramayana, yakni cerita perang antar keluarga Barata. Bukan, bukan seperti itu! Bukan pula perang seperti pada Perang Dunia, Perang Dingin, Perang Vietnam, ataupun Perang Revolusi Amerika. Ceritaku ini berbeda, sungguh-sungguh berbeda. Karena cerita ini akan berkisah tentang peperangan abadi antara kebajikan melawan kejahatan di sebuah negara yang orang memanggilnya dengan nama, Indonesia.

Tahukah kalian jika perang ini sudah lama terjadi, bahkan sebelum Indonesia merdeka? Kapan pastinya perang ini terpecah tidak ada yang pernah angkat bicara. Hanya saja, saat Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, perang itu menjadi semakin nyata.

Di tanah Indonesia, kebajikan berlindung di sebuah benteng kuat bernama Pancasila. Dan kejahatan seperti penyihir yang mampu menerobos masuk benteng tanpa sepengetahuan siapapun juga. Mereka mampu merapalkan mantra untuk mengacaukan segala nilai-nilai Pancasila yang ada. Harus diakui kalau kejahatan itu begitu hebat dan sangatlah digdaya.

Aku tidak akan menceritakan keseluruhan kisah peperangan ini, karena dibutuhkan waktu berabad-abad untuk menyelesaikannya, atau mungkin tidak akan pernah selesai sama sekali. Aku hanya akan menceritakan peperangan itu di masa kini, di masa ketika kita berada. Dan beginilah ceritanya:

Lihatlah, lihatlah pasukan kebajikan yang berlari terpontang-panting dikejar oleh para pasukan kejahatan. Ada yang berhenti dan melawannya, ada pula yang berlari dan kemudian bersembunyi. Yang mau melawan, tidak lama kemudian akan tewas bergelimang darah pengorbanan yang sia-sia. Yang bersembunyi, karena saking bodohnya bersembunyi di balik pohon kencur, dengan mudah kejahatan menerkam dan mencincang mereka.

Di sudut Indonesia yang lain, jenderal utama kejahatan, korupsi, mengerahkan besar-besaran balatentaranya untuk menggulingkan tahta kebajikan. Balatentara itu tersebar ke berbagai penjuru, menyerang pelajar sekolah hingga para pemegang kepentingan di birokrasi pemerintahan. Mereka itu! Para penguasa! Yang seharusnya menjadi pertahanan lapis kedua kebajikan malah kongkalingkong dengan bujuk manis korupsi. Alhasil, sturktur di dalamnya rusak porak poranda, hancur selebur-leburnya. Hanya ada satu dua yang bertahan, namun hanya sekadar bertahan, tak mampu lagi melawan. Amunisinya kosong, hanya berdiam diri menunggu kehancuran.

Dan sekarang lihat! Tentara korupsi sedang berpesta ria di Indonesia. Tak lupa mereka mengundang saudara dekat mereka, kemiskinan. Mereka mengajak kemiskinan untuk ikut berpesta, dan menyebar undangan untuk kemiskinan lebih banyak lagi. Lebih banyak daripada yang pernah terbayangkan oleh benak manusia!

Untuk sementara korupsi menang.

Kemudian budaya bangsa yang menjadi senjata andalan pasukan kebajikan Indonesia pun mulai rapuh. Pasukan yang memegang senjata ini harus berjuang keras untuk mendapatkan kemenangan. Namun senjata musuh selalu saja lebih kuat, dan dengan sekali hantam, hancurlah senjata pasukan kebajikan yang rapuh dan berlapis karat melepuh.

Entah mantra apa yang telah disematkan di dalam senjata para kejahatan. Senjata mereka bisa selalu tampil lebih menawan dan elegan, dan mampu menggaet jutaan mata manusia Indonesia untuk memilikinya. Dan memang itulah yang terjadi. Jutaan manusia beralih senjata dari senjata mereka sendiri ke senjata yang diagung-agungkan oleh asing. Dengan kata lain, membuat pengkhianatan terhadap senjata mereka, terhadap budaya bangsa mereka sendiri.

Ironi! Ironi benar kehidupan di dalam benteng Pancasila. Di dalam benteng pun, pasukan yang mempunyai senjata berbeda saling iri. Mereka tak mau ada senjata kawan yang lebih unggul, harus merekalah yang lebih baik. Maka, terjadilah adu kelahi untuk menentukan mana yang paling unggul. Tak sedikit pula yang harus berkorban harta atau bahkan melepas nyawa.

Kejahatan semakin berjaya di tanah Indonesia. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, mereka sudah berhasil membobol tembok birokrasi pemerintahan dan mengobrak-abrik tatanannya. Kejahatan telah menyebarkan jampi-jampi hitam agar orang-orang yang ada di dalam struktur birokrasi menjadi edan. Mereka menjadi edan dan semakin edan saat mengawinkan etika dan durjana, menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah. Saling tuduh dan saling lempar kebrobokan, kritik pun menjadi hujatan yang paling aman untuk dikoarkan.

Tonggak-tonggak utama benteng Pancasila runtuh satu per satu. Agama! Dengan jelas agama menjadi mediasi keyakinan umat terhadap Tuhannya dan dengan jelas pula telah membangun tembok-tembok benteng Pancasila. Namun adanya, kini mulai teruntuhkan. Bagaimana kejahatan melakukan peruntuhan itu begitu terencana, gerak-gerik mereka tersamarkan. Saling hajar hanya karena beranggapan berbeda. Rusak-merusak, hina-menghina, atas dasar agama katanya. Nah, para pemeluk agama pun sudah hengkang dari nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh agama mereka. Atau mungkin agama mengajarkan ajaran baru, yang bertentangan dengan kebaikan? Entahlah.

Cerita berlanjut dengan peperangan yang berlangsung lebih dahsyat lagi. Banyak yang tewas, entah itu balatentara kejahatan maupun kebajikan. Darah bergelimang di bumi merah Indonesia. Bangkai-bangkai tentara yang tewas dalam peperangan terbujur di mana-mana. Segala jenis senjata tumpah-ruah di tanah-tanah yang basah oleh darah merah. Dan udara seolah tak bergerak, seolah membeku. Hanya sunyi sepi yang menemani keheningan di medan yang telah mati.

Tetapi, Tuhan pun menciptakan sesuatu yang hidup dari sesuatu yang mati. Dan memang itulah yang terjadi. Tuhan menciptakan seorang bocah dari bumi Indonesia yang mati itu. Semakin banyak bocah-bocah itu tercipta, hingga bisa terlahirkan bocah- bocah dari rahim seorang wanita. Bocah-bocah itu berjalan tanpa komando ke arah benteng Pancasila berdiri. Sesampainya di sana, mereka memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada, dan dibangun kembali seperti sedia kala.

Salah seorang bocah menyobek selembar kain putih dan membawanya ke medan-medan perang. Dia mengoleskan darah-darah para pejuang kebajikan di setengah bagian dari kain itu. Seusai semua darah benar-benar telah teroleskan , dia kembali ke benteng, benteng yang sudah berdiri tegar seperti kala adanya, gagah berwibawa dan anggun mempesona.

Kemudian bocah tadi naik ke puncak sebuah menara, mengaitkan kain yang ia bawa pada sebuah kayu dan menancapkannya di atas menara. Angin berhembus, dan kain yang berwarna merah putih itu pun berkibar-kibar. Kehidupan benteng Pancasila yang baru, yang lebih bisa dikatakan bernyawa, mulai kembali merajut ceritanya.

Seiring mentari yang bergulir ke ufuk barat dan langit angkasa yang menjadi semakin gelap, dari tanah yang telah membusuk muncullah iblis-iblis kejahatan beserta keturunannya. Mereka mencium bau kebajikan dan tergiur untuk membunuhnya, meneguk setiap tetes darah kemuliaannya. Mereka pun berkeliaran, saling membangunkan sesamanya yang tertidur di tanah-tanah yang terkutuk. Mereka bersatu untuk memerangi kebajikan, menghancurkannya, dan menandaskannya dari bumi Indonesia. Maka, episode untuk kisah ini akan terulang kembali dan tak akan pernah berhenti, menjadi sebuah epik peperangan yang abadi…

Related posts:

  1. Sharing Kebaikan Tanpa Pamrih

Leave a Reply