Hikmah Segenggam Garam
August 15, 2011, by YOTCA. read: 1,441
YOT CA
Pratiwi Hamzah
Well, saat mengetik ini saya sudah nyaris putus asa karena tak mendapatkan ide sama sekali mengenai artikel apa yang akan saya posting, bagaimana caranya memposting, kapan deadline tugas ini dan masih banyak lagi yang saya bingungkan menyangkut tugas kali ini. And you know? It’s make me more and more confuse..
Setelah sibuk mencari inspirasi, terlintaslah sebuah kisah—yang lebih cocok saya sebut hikmah, bercerita tentang seorang kakek bijak yang memberi petuah kepada seorang anak muda yang datang padanya di tepi danau. Pemuda itu bercerita pada sang kakek tentang hidupnya yang serba kekurangan di segala bidang hidupnya. Pemuda itu merasa bahwa hidupnyalah yang paling menderita. Well, mungkin jika pemuda itu adalah pemuda yang lahir di era sekarang, jenis penderitaan yang iya utarakan pasti tak jauh dari percintaan, kegalauan, kurang uang dan kasih sayang. Hehe
Pemuda itu lantas diberi seganggam garam oleh sang kakek. Si pemuda tentu bingung, garam? Untuk apa?
Belum hilang rasa bingung si pemuda, sang kakek kemudian memberi segelas air kemudian menyuruh si pemuda memasukkan segenggam garam itu ke dalam air di gelas lalu meminum larutan tersebut. Alangkah kaget si pemuda, namun ia hanya menurut. Diminumnya larutan itu sambil mengernyit tanda tak enak.
Si pemuda makin dibuat bingung. Sang kakek kemudian menuangkan segenggam garam lain ke dalam danau, ia aduk, ambil segelas air dari dalam danau itu kemudian menyuruh si pemuda untuk meminumnya lagi. Pemuda itu meminumnya tanpa mengernyit sedikitpun.
“bagaimana rasa dari kedua larutan tersebut, anak muda?” Tanya sang kakek kemudian.
“larutan pertama sangat asin hingga terasa pahit, sedangkan yang kedua rasanya seperti air danau biasa”jawab pemuda itu jujur.
Sang kakek lantas menjawab, “wahai anak muda, itulah hidup, itulah pikiranmu. Anggap segenggam garam itu sebagai kesedihan dan kesengsaraanmu, dan air adalah pikiranmu. Saat kau berpikiran sempit layaknya garam dalam gelas, kau akan merasa sangat ‘pahit’. Tapi, jika kau berpikir luas dan lapang, maka sebanyak apapun ‘garam’ dalam hidupmu, kau akan merasa selalu baik-baik saja.”
* * *
Terinspirasi dari cerita si kakek tadi, maka inilah yang berusaha ku lakukan: berusaha untuk lapang dada dan berpikiran luas mengenai masalah-masalah dan kebingungan yang kuhadapi plus berusaha mengumpulkan tugas sesegera mungkin dengan tetap lapang dada. And, what you read now, it’s mine ^_^ sayangnya belum bisa tepat waktu ?
No related posts.



I in addition to my friends came examining the best tips and tricks from your web site while the sudden developed a terrible feeling I had not thanked the web site owner for those tips. Those people came totally glad to learn all of them and have now simply been making the most of these things. We appreciate you indeed being indeed accommodating and for picking out this kind of fabulous things millions of individuals are really desperate to discover. My personal sincere apologies for not expressing appreciation to earlier.