billy boen

Kalau Mau, Pasti Bisa

September 4, 2011, by YOTCA. read: 1,407

By : Felicia Astrid

YOT CA Bina Nusantara

Hai, YOTers kita ketemu lagi di artikel bulan ini. Untuk artikel bulan ini saya sempat “mati kutu” karena bingung ingin membahas tentang apa. Sampai saat ini juga sebenarnya jadi sekarang saya hanya ingin sharing pengalaman saya saja.

Apa YOTers suka berolahraga? Saya suka sekali. Saya aktif main basket sampai kelas 3 SMP. Tapi berhenti total saat masuk SMA. Saat SMA, jam olahraga sangat minim sekali. Karena 1 jam pelajaran bisa dipakai oleh 3 kelas. Kegiatannya pun hanya sekedar lari keliling lapangan, peregangan, selesai. Alhasil berat badan bertambah dan saya pun stress. Olahraga itu sebenarnya sesuatu yang menyenangkan, kalau kita melakukannya dengan senang juga. Saya sempat ikut gym 2 kali, saat SMA dan saat kuliah. Tp saya bukanlah tipe orang yang bisa berolahraga di ruangan tertutup. BOSAN! Apa enaknya berlari di treadmill atau RPM di ruang tertutup? Menurut saya, kedua olahraga tersebut seharusnya dilakukan di ruang terbuka.  Jujur saja, saya tidak bisa berlari jarak jauh. Nafas saya pendek sekali jadi jelas lari dan renang harus dicoret dari daftar olahraga yang memungkinkan untuk saya. Jadi apa yang saya pilih sebagai olahraga rutin? SEPEDA. Kenapa? Selain bisa digunakan sebagai alat transportasi dan jelas ramah lingkungan, sepeda juga menyehatkan.

Hari sabtu kemarin,  tanggal 3 September 2011 saya dan teman-teman komunitas sepeda saya mengadakan  “TDJ” atau Tour de Jakarta. Rencananya sih rutenya start di 711 GI lalu berlanjut ke HI -Monas – Kota Tua-Ancol – Tj. Priuk – Kelapa Gading- Rawamangun- UKI – Ps.Minggu – Kemang – Fatmawati – PIM – Bintaro – baru finish di 711 Grand Indonesia. Dengarnya aja sudah malas ya? Kira-kira ada ±30 org yang ikut konvoi itu, dan seperti biasa saya satu-satunya perempuan yang ikut. Jelas jarang ada perempuan yang suka bersepeda dan mau ikut “tour” jarak jauh begitu. Tur jarak jauh saya yang pertama hanya berjarak 27km, lalu yg paling terakhir sebelum ikut TDJ itu rekor saya 36km.36 itu saya capai ketika menjadi Marshall di Merah Putih Bersepeda tanggal 16 Agustus yang lalu. 2 rekor itu saya menurut saya sudah oke (menurut saya,padahal sebenarnya sih masih cupu) karena menurut saya, saya perempuan dan terhitung jarang berolahraga. Selain itu, dalam 2 rekor itu saya perempuan sendiri jadi saya harus mengikuti ritme teman-teman saya yang semuanya laki-laki dan saya menggunakan sepeda fixed gear yang jelas-jelas single speed jadi tidak bisa diatur tingkat kecepatannya. Jelas bahaya kalau seorang perempuan bersepeda, tapi berada di urutan paling belakang dari rombongan jadi saya harus berusaha setidaknya berada di tengah-tengah. Teman-teman saya ini betisnya kayak robot dan tidak pandang bulu (Walaupun ada perempuan yang ikut, ritmenya tidak pernah diturunkan).

Saat menjadi marshall di Merah Putih Bersepeda, saya kelelahan luar biasa.  Mungkin karena sebelumnya sudah lama tidak bersepeda dan acara itu berlangsung sampai jam 1 dini hari dimana oksigen sangat sedikit sekali jadi begitu melihat rute yang diajukan oleh teman saya itu saya sudah sangsi. Tapi berhubung sudah lama tidak bersepeda dan saya berniat membakar semua kalori yang saya dapat saat lebaran kemarin, saya nekat ikut. Kami berangkat kira-kira jam 8 pagi, start di 711 Grand Indonesia lalu stop di depan museum fatahillah, foto-foto sebentar lalu lanjut ke ancol-kemayoran-sunter-kelapa gading. Saat di kelapa gading saya sudah kehilangan motivasi. Saya ngantuk sekali. Saya tadinya sudah mau menyerah, lalu berencana ke rumah om saya yang kebetulan berada di pulomas lalu minta diantar pulang dengan mobil. Payah sekali ya? Saya mengutarakan niat saya tersebut pada pacar saya yang juga mengikuti TDJ itu, tapi katanya “jangan deh, tanggung loh” akhirnya saya tidak jadi pulang duluan dan tetap ikut konvoi tsb dengan setengah hati, karena saya merasa pesimis dengan diri saya sendiri. Tapi, kemudian saya pikir yasudahlah, sudah terlanjur rasanya pengecut sekali kalau berhenti di tengah-tengah. Sayapun mulai membulatkan tekad untuk menyelesaikan rute ini sampai selesai.

Tantangan mulai terlihat saat melewati cawang. Tanjakannya panjang sekali dan berat, setelah turunan teman-teman saya mulai ngebut semua. Yang paling berat kalau menggunakan fixed gear (saya menggunakan sepeda fixed gear) adalah selelah apapun kamu, kaki akan terus berputar nonstop. Jadi kamu tidak akan bisa berhenti mengayuh pedal seperti sepeda biasa. Agak sulit untuk mengejar mereka, jadi rombongan kami terpisah-pisah tapi kemudian kami bertemu lagi dan berkumpul untuk menunggu teman kami yang sedang menambal ban sepedanya yang bocor. Hari itu panas terik dan udaranya cenderung kering, jelas bukan kondisi yang menyenangkan untuk bersepeda. Kami menunggu cukup lama, rombongan yang tertinggal baru datang kira-kira jam 11 siang. Berhubung kami cukup lama berhenti sebelumnya, rute yang ada pun dirombak total. Dari cawang, kami lurus menuju mampang, lalu lewat jalan Bangka dan akhirnya berhenti makan di McD Kemang. Teman-teman saya lanjut ke STC senayan sedangkan saya langsung pulang ke rumah. Kami berpisah di panglima polim. Begitu saya sampai rumah, saya langsung terkapar di sofa. Lelah dan kepanasan. Itulah yang saya rasakan, tapi dalam hati saya takjub pada diri saya sendiri, ternyata saya bisa! Saya sanggup menaklukkan rute tersebut dengan para betis robot dan setidaknya saya tidak pernah berada di urutan paling belakang. Lelah tapi senang sekali.  Akhirnya rute yang saya tempuh kemarin meliputi : Kebayoran Lama – Senayan – Sudirman- Grand Indonesia – Fatahillah – Ancol – Kemayoran – Sunter – Kelapa Gading – Cawang- Mampang – Kemang – Panglima Polim – Kebayoran Lama. Dilihat di endomondo, jarak yang saya tempuh totalnya ±56km!!!! rekor baru lagi. Hehe.

Sebenarnya hari itu saya sudah pesimis pada diri saya sendiri, saya sangsi dan berpikir bahwa saya tidak akan mampu menyelesaikan rute tersebut tetapi diluar dugaan saya mampu melaluinya. It exceeds my expectation! Ada satu pelajaran yang bisa saya petik dari pengalaman saya ini. Yaitu, kalau kita mau pasti bisa. Terkadang, dalam kehidupan sehari-hari kita pasti sering merasa pesimis dan tidak yakin atas kemampuan diri sendiri. Terkadang kita cenderung negative thinking dan menyerah di tengah atau bahkan tidak memulainya sama sekali. Itu semua karena kita tidak yakin atas kemampuan diri sendiri, padahal kalau tidak dicoba kita tidak akan mengetahui sampai mana kemampuan kita. Kalau sudah tahu kemampuan kita sampai dimana, kita bisa berusaha meningkatkan kemampuan kita. Kalau mau, pasti bisa. Yang penting mau berusaha dan fokus pada tujuan. Fokus saya hari itu sih sebenarnya simple saja, fokus saya yang penting sampai ke rumah dengan selamat hehe. Sepanjang perjalanan saya menyemangati diri saya sendiri “ayo, sebentar lagi sampai” dengan berbagai versi. Misalnya “ayo, sebentar lagi sampai tebet”, “ayo, sebentar lagi sampai kemang” dan sebagainya sesuai dengan check point yang saya buat sendiri. Walau sebenarnya masih jauh dari tujuan, tapi dengan begitu kita akan merasa sedikit lebih dekat ke tujuan kita. Jadi ayo teman-teman, jangan menganggap remeh diri sendiri ya! Kalau kita mau, pasti bisa :) .

Related posts:

  1. Ternyata Tidak Semua Orang Bisa Dimintai Rekomendasi atau Membuat Perkiraan
  2. Ngga Bisa atau Ngga Benar2 Mau?
  3. Make Every Second Count

One Response to “Kalau Mau, Pasti Bisa”

  1. tri says:

    Salah satu impian besar saya..menjadi pengusaha.spesialist pumpa minyak bumi.lebih fokusnya cavity pump namanya.selama ini produk bumi pertiwi Indonesia belum tampil /mampu bersaing dengan produck eropa..padahal sumber minyak bumi di Indonesia sangat banyak..selama ini belum ketemu dengan team yg sejalan..rekan rekan yg sehaluan..mari bergandeng tangan bersama ..mengangkat corra bangsa Indonesia..saya optimis mimpi saya akan terwujud.Demikian mimpi besar saya..amin..Dan semangat.jangan pernah berjenti bermimpi …tri joko.

Leave a Reply