Kegigihan Ibu Penjual Nasi Megono
August 30, 2011, by YOTCA. read: 1,609
Perkenalkan nama saya Putiha Rakhmaini Indah Sari/ YOT CA IPB
Cerita ini terinspirasi ketika saya mengikuti kuliah kerja profesi selama satu setengan bulan di Desa Batursari Pekalongan. Selama disana saya tinggal menginap di rumah seorang ibu yang berstatus janda dan seorang anaknya yang masih berumur 12 tahun.
Mereka tinggal di rumahnya yang sederhana namun penuh dengan cinta dan kasih sayang. Ibu sudah delapan tahun ditinggalkan suaminya yang telah meninggal dunia. Ibu bekerja sebagai penjual nasi megono, nasi khas pekalongan dari nangka muda yang dihargai 750 perak satu bungkusnya. Namun dengan kegigihan yang ibu miliki dan kecintaannya atas apa yang ia kerjakan ia pun rela walaupun terkadang satu hari ia hanya bisa menjual 10 hingga 15 bungkus nasi megono.
Ketika melihat ibu berjualan seringkali saya melihat kesedihan di raut muka ibu ketika nasi yang ia jual tidak habis namun demi anak semata wayangnya ia rela bekerja dan terus bekerja tanpa kenal lelah ia mengelilingi desa Batursari.
Kegigihan yang dimiliki ibu sangatlah luar biasa, walaupun ia hidup pas-pasan namun itu semua dikalahkan dengan kecintaannya dengan apa yang ia kerjakan dan kecintaan seorang ibu terhadap anak. Ia rela mengorbankan semua tenaganya hanya karena agar anaknya tidak merasa kekurangan dan anaknya dapat hidup bahagia. Ibu sangat sayang kepada anaknya, selalu ada tawa, canda, dan rasa syukur yang teramat dalam kepada Tuhan atas apa yang mereka miliki di tengah segala kekurangan. Namun ditengah kekurangannya sih ibu masih tetap mau untuk berbagi kepada orang lain .
Inilah kisah seorang ibu penjual megono yang memiliki kegigihan yang tangguh dalam memenuhi kebutuhan sang anak. Semua itu ia lakukan atas nama cinta. Singkat cerita pelajaran yang saya dapatkan dari sih ibu, ketika kita mau bekerja dan bersungguh-sungguh atas pekerjaan yang kita miliki maka tuhan akan membukakan jalan. Serta belajar mencintai apa yang kita lakukan karena dengan kita mencintaan pekerjaan itu maka kita akan ikhlas menjalaninya
Terimakasih Ibu, engkau telah memberi ku pelajaran yang sangat berharga..
Related posts:



I couldn’t refrain from commenting. Perfectly written!