KENALI, SAYANGI
December 12, 2011, by YOTCA. read: 1,277
N. M. Agita Pasaribu-YOT CA UI-Desember 2011 Pasti sering sekali ya YOTers mendengar ungkapan “Tak kenal maka tak sayang”. Ada benarnya juga sih, meskipun terkadang kita suka juga merasa “sayang” kepada orang yang tidak kita kenal, kan? Perkenalan kita dengan orang lain, bisa berdampak baik, juga bisa berdampak buruk. Tergantung dengan siapa kita berkenalan, sampai mana batas perkenalan kita dan bagaimana kita bersikap terhadap perkenalan yang sudah kita bangun. Dalam interaksi kita dengan orang lain, atau anggaplah teman kita, pasti sering terjadi pasang surut, kan? Kadang senang, kadang sedih, benci, cinta, sayang bahkan sebal. Apapun itu. Tapi, ketahui satu hal ya YOTers, dari sekian banyak dinamika itu, kita sering banget terjebak untuk memberikan penilaian buruk kepada orang lain. Atau mungkin sebaliknya, orang lain yang menilai kita buruk. Padahal belum tentu dong penilaian itu benar. Nah, tentu kita mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan tahu bagaimana cara yang baik untuk berinteraksi dengan orang lain, yuk kita mulai dengan memahami 4 sudut pandang Natural Intelligence, berikut ini: 1) Setiap Orang Memiliki Sisi Baik Sebenci-benci nya kita kepada seseorang, hal itu tidak menjamin kalau diri kita lebih baik dari orang itu. Coba deh inget-inget lagi; siapa orang yang paling kamu gak sukai? Kita tentu mempunyai alasan untuk membencinya. Tetapi, sebaiknya sesekali kita berkaca kembali kedalam diri kita masing-masing; apakah diri kita tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk membenci kita juga? Kalau sampai sekarang semua orang masih menyukai kamu, bukan berarti kamu sempurna dong. Mungkin karena mereka belum pernah aja kamu kecewakan. Mungkin diantara kamu ada orang yang pernah saya kecewakan. Saya yakin orang itu tidak menyukai saya. Tetapi, saya yakin benar jika sebagian besar orang yang membaca tulisan ini tidak membenci saya. Mengapa? Karena saya baik? Bukan. Itu karena mereka belum ‘merasakan’ efek dari keburukan saya. Maka tantangannya untuk kita adalah; bagaimana kita bisa semakin mengasah dan mengkilapkan sisi baik itu, sehingga sisi buruk kita semakin meredup. Kabar baiknya, itu adalah proses. Jadi kita bisa melakukannya terus menerus. 2) Memahami Sebelum Memvonis. Apa yang kamu lakukan jika ada orang lain yang salah sangka dengan kamu? Orang itu keliru menilai kamu. Tentu kamu akan berusaha untuk memberikan penjelasan atau mengklarifikasinya, bukan? Kita semua akan berusaha meluruskan penilaian orang lain yang keliru tentang diri kita. Begitu pula halnya dengan orang lain yang kita nilai buruk, ia tentu akan berusaha untuk membuat penilaian kita berubah menjadi baik kepadanya. Mengapa? Karena tidak seorang pun dimuka bumi ini yang rela dinilai buruk. Kita memiliki kebutuhan intrinsic untuk dinilai baik, dan diterima oleh lingkungan secara baik-baik juga. Apa yang terjadi ketika kita menjelaskan ‘yang sebenarnya’? Orang lain akan memahami kita. Apa yang terjadi ketika orang lain menjelaskan ‘duduk perkaranya’? Kita akan memahami mereka. Lalu, jika sudah ada pemahaman yang tepat itu apakah kamu masih akan menvonis orang lain sebagai orang yang buruk? Tentunya gak dong ya! Karena sekarang kita sudah memahami ‘apa yang sebenarnya’. Bahkan kepada seseorang yang jelas-jelas berbuat kesalahan pun kita bisa memakluminya jika kita memahami ‘mengapa’ mereka sampai melakukannya kan? Kita memaafkannya, meski dengan catatan; ‘jangan mengulanginya lagi’. Atau ‘lain kali kamu minta izin dulu dong…’. Atau, ‘kenapa kamu tidak terus terang sih sama saya?’ Maka mulai sekarang, kita perlu mendahulukan proses ‘memahami’, supaya tidak sembarangan ‘memvonis’ orang lain. 3) Waspada Dengan Perilaku Yang Membahayakan. Walaupun kita percaya bahwa setiap orang memiliki sisi baik, namun kadang-kadang orang bertemu dengan kita dalam keadaan gak baik. Kalau sekedar buruk perilaku, mungkin kita bisa memakluminya. Tetapi, kalau buruknya bisa membahayakan, ya tentu kita harus bisa melindungi diri. Maka kewaspadaan tetap menjadi piranti yang sangat penting. Justru berbahaya sekali jika kita tidak waspada. Bukan curiga loh, tapi waspada. Bahkan terhadap teman sekalipun. Dengan kewaspadaan itu, kita tidak memandang buruk orang lain. Tetapi juga tidak lengah terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi. 4) Kita Gak Berhak Menilai. Cuma Tuhan yang bisa menilai dengan akurat, karena faktanya kita tidak memiliki kemampuan untuk menilai secara obyektif dan akurat. Makanya, kita tidak diberi hak untuk menilai orang lain. Jika bukan kita yang menilai lantas siapa yang mengontrol perilaku orang? Kenapa pusing. Sudah ada staff khusus yang ditugaskan Tuhan untuk melakukan pengawasan melekat atas perilaku, tindak tanduk, dan tingkah polah setiap pribadi. Tuh, disebelah kanan kamu; Ada petugas pencatat amal baik. Dan disebelah kiri: Ada; petugas yang tanpa kompromi menulis keburukan apapun yang kita lakukan. Mereka tidak pernah lengah. Bahkan disaat semua orang sedang pada tidur. Jadi, jika kita merasa bisa menunggu orang lain lengah baru melakukan tindakan buruk, kita salah besar. Jika kita merasa bisa menyembunyikan barang bukti, kita keliru. Hal ini memberi kita 2 kesadaran. Pertama, betapa kita tidak memiliki ruang untuk berbuat buruk tanpa ketahuan. Kedua, betapa kita tidak memiliki hak untuk menilai baik buruknya orang lain. Maka, jika orang lain buruk, tak perlu pusing; dia akan mempertanggungjawabkan keburukannya. Dan jika kita yang buruk? Ehm, orang lain mungkin tidak tahu. Tapi “Raqib-Atid” pasti menyaksikan hingga setiap detailnya. Bagaimanapun juga, interaksi kita dengan orang lain merupakan sebuah proses yang berjalan dua arah. Karenanya, sebuah hubungan yang baik tidak bisa dibangun hanya oleh salah satu pihak. Jika kita menemukan orang-orang yang kurang menyukai kita, atau memperlakukan kita dengan cara yang kurang pantas. Mungkin mereka bukan membenci kita. Mereka hanya belum mengenal siapa kita sesungguhnya. Maka, menunjukkan nilai-nilai positif didalam diri kita adalah sebuah kebutuhan. Oleh karenanya, kita perlu belajar mendorong diri kita sendiri untuk terus memperlihatkan sisi baik yang kita miliki. Bukan untuk menyembunyikan sisi buruk, melainkan untuk selalu berusaha mengambil pilihan-pilihan yang baik, meski sesungguhnya kita berkesempatan untuk melakukan hal buruk. Semoga, dengan begitu kita bisa menjadi pribadi yang tetap baik. Sekalipun kita semua memiliki sisi buruk. Dengan demikian, kita memiliki kesempatan untuk mendapati buku catatan amal kita lebih banyak berisi kebaikan daripada keburukan.
KENALI DAN CINTAI Pasti sering sekali ya YOTers mendengar ungkapan “Tak kenal maka tak sayang”. Ada benarnya juga sih, meskipun terkadang kita suka juga merasa “sayang” kepada orang yang tidak kita kenal, kan? Perkenalan kita dengan orang lain, bisa berdampak baik, juga bisa berdampak buruk. Tergantung dengan siapa kita berkenalan, sampai mana batas perkenalan kita dan bagaimana kita bersikap terhadap perkenalan yang sudah kita bangun. Dalam interaksi kita dengan orang lain, atau anggaplah teman kita, pasti sering terjadi pasang surut, kan? Kadang senang, kadang sedih, benci, cinta, sayang bahkan sebal. Apapun itu. Tapi, ketahui satu hal ya YOTers, dari sekian banyak dinamika itu, kita sering banget terjebak untuk memberikan penilaian buruk kepada orang lain. Atau mungkin sebaliknya, orang lain yang menilai kita buruk. Padahal belum tentu dong penilaian itu benar. Nah, tentu kita mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan tahu bagaimana cara yang baik untuk berinteraksi dengan orang lain, yuk kita mulai dengan memahami 4 sudut pandang Natural Intelligence, berikut ini: Setiap Orang Memiliki Sisi Baik Sebenci-benci nya kita kepada seseorang, hal itu tidak menjamin kalau diri kita lebih baik dari orang itu. Coba deh inget-inget lagi; siapa orang yang paling kamu gak sukai? Kita tentu mempunyai alasan untuk membencinya. Tetapi, sebaiknya sesekali kita berkaca kembali kedalam diri kita masing-masing; apakah diri kita tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk membenci kita juga? Kalau sampai sekarang semua orang masih menyukai kamu, bukan berarti kamu sempurna dong. Mungkin karena mereka belum pernah aja kamu kecewakan. Mungkin diantara kamu ada orang yang pernah saya kecewakan. Saya yakin orang itu tidak menyukai saya. Tetapi, saya yakin benar jika sebagian besar orang yang membaca tulisan ini tidak membenci saya. Mengapa? Karena saya baik? Bukan. Itu karena mereka belum ‘merasakan’ efek dari keburukan saya. Maka tantangannya untuk kita adalah; bagaimana kita bisa semakin mengasah dan mengkilapkan sisi baik itu, sehingga sisi buruk kita semakin meredup. Kabar baiknya, itu adalah proses. Jadi kita bisa melakukannya terus menerus. Memahami Sebelum Memvonis. Apa yang kamu lakukan jika ada orang lain yang salah sangka dengan kamu? Orang itu keliru menilai kamu. Tentu kamu akan berusaha untuk memberikan penjelasan atau mengklarifikasinya, bukan? Kita semua akan berusaha meluruskan penilaian orang lain yang keliru tentang diri kita. Begitu pula halnya dengan orang lain yang kita nilai buruk, ia tentu akan berusaha untuk membuat penilaian kita berubah menjadi baik kepadanya. Mengapa? Karena tidak seorang pun dimuka bumi ini yang rela dinilai buruk. Kita memiliki kebutuhan intrinsic untuk dinilai baik, dan diterima oleh lingkungan secara baik-baik juga. Apa yang terjadi ketika kita menjelaskan ‘yang sebenarnya’? Orang lain akan memahami kita. Apa yang terjadi ketika orang lain menjelaskan ‘duduk perkaranya’? Kita akan memahami mereka. Lalu, jika sudah ada pemahaman yang tepat itu apakah kamu masih akan menvonis orang lain sebagai orang yang buruk? Tentunya gak dong ya! Karena sekarang kita sudah memahami ‘apa yang sebenarnya’. Bahkan kepada seseorang yang jelas-jelas berbuat kesalahan pun kita bisa memakluminya jika kita memahami ‘mengapa’ mereka sampai melakukannya kan? Kita memaafkannya, meski dengan catatan; ‘jangan mengulanginya lagi’. Atau ‘lain kali kamu minta izin dulu dong…’. Atau, ‘kenapa kamu tidak terus terang sih sama saya?’ Maka mulai sekarang, kita perlu mendahulukan proses ‘memahami’, supaya tidak sembarangan ‘memvonis’ orang lain. Waspada Dengan Perilaku Yang Membahayakan. Walaupun kita percaya bahwa setiap orang memiliki sisi baik, namun kadang-kadang orang bertemu dengan kita dalam keadaan gak baik. Kalau sekedar buruk perilaku, mungkin kita bisa memakluminya. Tetapi, kalau buruknya bisa membahayakan, ya tentu kita harus bisa melindungi diri. Maka kewaspadaan tetap menjadi piranti yang sangat penting. Justru berbahaya sekali jika kita tidak waspada. Bukan curiga loh, tapi waspada. Bahkan terhadap teman sekalipun. Dengan kewaspadaan itu, kita tidak memandang buruk orang lain. Tetapi juga tidak lengah terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Kita Gak Berhak Menilai. Cuma Tuhan yang bisa menilai dengan akurat, karena faktanya kita tidak memiliki kemampuan untuk menilai secara obyektif dan akurat. Makanya, kita tidak diberi hak untuk menilai orang lain. Jika bukan kita yang menilai lantas siapa yang mengontrol perilaku orang? Kenapa pusing. Sudah ada staff khusus yang ditugaskan Tuhan untuk melakukan pengawasan melekat atas perilaku, tindak tanduk, dan tingkah polah setiap pribadi. Tuh, disebelah kanan kamu; Ada petugas pencatat amal baik. Dan disebelah kiri: Ada; petugas yang tanpa kompromi menulis keburukan apapun yang kita lakukan. Mereka tidak pernah lengah. Bahkan disaat semua orang sedang pada tidur. Jadi, jika kita merasa bisa menunggu orang lain lengah baru melakukan tindakan buruk, kita salah besar. Jika kita merasa bisa menyembunyikan barang bukti, kita keliru. Hal ini memberi kita 2 kesadaran. Pertama, betapa kita tidak memiliki ruang untuk berbuat buruk tanpa ketahuan. Kedua, betapa kita tidak memiliki hak untuk menilai baik buruknya orang lain. Maka, jika orang lain buruk, tak perlu pusing; dia akan mempertanggungjawabkan keburukannya. Dan jika kita yang buruk? Ehm, orang lain mungkin tidak tahu. Tapi “Raqib-Atid” pasti menyaksikan hingga setiap detailnya. Bagaimanapun juga, interaksi kita dengan orang lain merupakan sebuah proses yang berjalan dua arah. Karenanya, sebuah hubungan yang baik tidak bisa dibangun hanya oleh salah satu pihak. Jika kita menemukan orang-orang yang kurang menyukai kita, atau memperlakukan kita dengan cara yang kurang pantas. Mungkin mereka bukan membenci kita. Mereka hanya belum mengenal siapa kita sesungguhnya. Maka, menunjukkan nilai-nilai positif didalam diri kita adalah sebuah kebutuhan. Oleh karenanya, kita perlu belajar mendorong diri kita sendiri untuk terus memperlihatkan sisi baik yang kita miliki. Bukan untuk menyembunyikan sisi buruk, melainkan untuk selalu berusaha mengambil pilihan-pilihan yang baik, meski sesungguhnya kita berkesempatan untuk melakukan hal buruk. Semoga, dengan begitu kita bisa menjadi pribadi yang tetap baik. Sekalipun kita semua memiliki sisi buruk. Dengan demikian, kita memiliki kesempatan untuk mendapati buku catatan amal kita lebih banyak berisi kebaikan daripada keburukan.
Related posts:


