billy boen

LEADER, not just a FOLLOWER (Lucky Bagus Septyo-YOT CA Univ Bakrie-Made on September)

September 6, 2011, by YOTCA. read: 279

“Menjadi seorang yang besar dan berpengaruh bukanlah hal yang mudah, namun tidak ada salahnya jika kita bisa memulainya dari hal yang terkecil” ,

Itulah sepenggal perkataan Ibu saya di kala saya merasa terbelakang atas segala kondisi saya di kala kecil.

Perkataan itulah yang menyemangati saya untuk bisa membuat suatu keputusan besar dalam hidup saya, yaitu menjadi seorang LEADER, paling tidak untuk diri saya sendiri. Hal ini bukan berarti saya tidak mau jadi follower. Buktinya, saya akan menjadi Follower Nabi Muhammad untuk segala sunnah yang dia berikan, dan saya juga tetap menjadi follower terhadap akun twitter orang lain. (Just Kidding)

Berikut ini adalah beberapa hal yang saya pikirkan dibutuhkan oleh seorang LEADER:

Long Planning.
Untuk menjadi seorang leader, kita harus memiliki sebuah visi. Dalam suatu percakapan dengan Teman saya, dia berkata bahwa Visi bukan hanya sebuah tujuan, melainkan sebuah mimpi besar yang memerlukan proses. Saya setuju dengannya karena jika Visi dikatakan Mimpi, semua orang bisa bermimpi, namun apakah ada keinginan dan usaha untuk menggapainya? Seorang Soekarno membangun bangsa ini dengan begitu bersemangat dan optimis karena dia memiliki mimpi besar bagi Indonesia. Dan hanya orang yang bermimpi besar dan mau melangkah lah yang bisa dikatakan sebagai seorang Leader.

Effectivity
efektif berarti mencapat tujuan. Jika seseorang memiliki tujuan, belum berarti dia seorang Leader. Karena mungkin saja dia tidak bisa menciptakan jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Jalan tersebut harus terarah dan spesifik. Inilah masalah yang dihadapi bangsa ini, Pemimpin negara ini hanya menjadi follower bagi keinginan sebagian kecil golongan dan mengabaikan sebagian besar lainnya. Hasilnya, jalan yang diciptakan tidak terarah karena hanya mementingkan nafsu sesaat untuk menjadi seorang PENGUASA, bukan seorang LEADER.

Anticipation
Seorang Leader selayaknya bukan reaktif terhadap suatu masalah, namun mampu proaktif untuk mencegah suatu masalah. Ilmu yang bisa diambil oleh seorang Leader dari seorang Entrepreneur adalah, seorang Leader wajib mampu menganalisisis Threat apa yang akan dia hadapai, sehingga mampu menggunakan kekuatan dan peluang yang ada untuk mengcover segala tantangan tersebut sebelum muncul ke permukaan.

Determination
Seperti halnya yang saya lihat pada diri seorang Bill Gates, di mampu menentukan sikap akan jalan suksesnya. Begitu juga dengan mantan CEO Apple, Steve Jobs yang dapat memberikan kepastian bagi keberhasilan Apple, namun mampu menentukan sikap demi kesehatannya dan masa depan Apple. Seorang leader tidak memiliki waktu lama untuk berpikir, namun yang jelas pasti ada waktu untuk bisa berpikir. Dan ketika seorang Leader telah menentukan sikap, maka ia akan bertanggungjawab dengan segala keputusannya. That’s the point of difference of Leader and Follower. Ketika leader mampu bersikap dan bertanggungjawab, seorang follower hanyalah mengikuti keputusan orang yang ia follow, dan menyerahkan tanggung jawab terbesarnya pada orang tersebut.

Baiklah, itu yang bisa saya share ke teman-teman. Selagi kita masih bisa menentukan jalan kita dan masih bisa berpikir, ayolah berpikir apakah selamanya kita akan menjadi Follower atau kita mampu menjadi seorang Leader, walau itu hanya bagi diri kita. Karena menurut saya, hal yang paling susah untuk dipimpin adalah diri kita sendiri. So, if we can lead our self well, insya Allah we can lead something bigger. Trust me It works.

Related posts:

  1. LEADER, not just a FOLLOWER (Lucky Bagus Septyo-YOT CA Univ Bakrie-Made on September)
  2. Bertahan Untuk Sebuah Komitmen di 2009 (Lucky Bagus Septyo-YOT CA Universitas Bakrie)
  3. A chance to be a leader, UP TO YOU, DO IT!!!!
  4. The Leader Who Had No Title – Robin Sharma
  5. Menangkan 3 Buku “Be A Great Leader” – Erwin Tenggono

Leave a Reply