billy boen

Life is A Choice: About Passion

September 18, 2011, by YOTCA. read: 561

Iqbal D. Wibisono, YOT CA Universitas Padjadjaran

Hidup adalah pilihan. Diri kita sendiri lah yang menentukan mau jadi apa kita sebenarnya. Setiap manusia diberikan pilihan oleh Tuhan, tidak ada paksaan. Begitu juga dengan pekerjaan atau karir, mau menjadi pekerja, pengusaha, investor, guru, atau apapun kita yang memilihnya. Pernahkah kita terpaksa untuk melakukan sesuatu yang kita tidak suka? Pastinya kita akan menganggapnya pekerjaan itu sebagai beban, dan hasilnya tentu tidak maksimal.

Di dalam kuliah misalnya, kita dan seorang teman kita sama-sama belajar mata kuliah ekonomi mikro, teman kita akan lebih baik daripada kita walaupun belajar sama kerasnya. Itu karena dia menyukai mata kuliah ekonomi mikro, sedangkan kita tidak menyukainya atau menganggap “biasa-biasa” saja. Coba kita ubah perasaan kita terhadap mata kuliah tersebut. Perasaan terhadap sesuatu juga bisa menentukan hasil. Menurut Billy Boen dalam buku “Young on Top”, Mencintai yang kita lakukan adalah syarat utama untuk mencapai kesuksesan. Mencintai suatu bidang atau pekerjaan sering disebut sebagai passion.


Passion adalah faktor X yang memberi kamu energi untuk berbuat lebih sehingga kamu tidak akan berhenti hanya karena ada rintangan.(Billy Boen)


Menemukan suatu bidang yang kita sukai adalah hal terpenting yang harus dilakukan. Mulailah misalnya dari jurusan yang kita ambil ketika kuliah, ataupun bidang pekerjaan yang ingin kita geluti nantinya. Memang menemukan passion bukanlah hal yang mudah, tapi ketika kita sudah menemukannya, hidup kita menjadi lebih berarti dan tidak sia-sia. Gue pun sedang mencari-cari passion gue di bidang apa, now I’m still making my self sure that my passion is economics. E-booknya @ilmanakbar tentang passion bisa menjadi salah satu panduan kita untuk menemukan passion, download di sini.

LENTERA JIWA adalah PASSION. Hal yang sangat kita sukai. Suatu pekerjaan atau kegiatan yang menimbulkan kepuasan tersendiri bagi kita, meskipun seringkali menguras waktu dan tenaga. Itulah LENTERA JIWA kita (lenterajiwa.com)

Bagaimana kalau kita sudah terlanjur mengambil keputusan? Apabila kita sudah terlanjur “kecemplung” di salah satu bidang, maka kita bisa memilih dua alternatif: Mencintai bidang yang kita geluti atau pindah ke bidang lain yang mungkin merupakan passion kita yang sebenarnya.

Mencintai bidang yang kita geluti memang bukanlah hal yang mudah, apalagi jika saat ini kita tidak menyukainya. Cobalah kita pahami bidang itu secara mendalam. Ketika sudah memahami bidang tersebut, mungkin saja kita semakin yakin bahwa bidang yang kita geluti tersebut memang cocok untuk kita. Gue rasa gue masih berada di tahap ini, gue masih berusaha mencintai bidang gue, ilmu ekonomi.

Kalau cara yang pertama tidak berhasil, beranikanlah diri untuk mengubah jalan hidup kita. Memang pada kenyataannya sangatlah berat untuk melakukannya. Tapi banyak orang yang sukses karena berani “berbelok” dari jalan yang sebelumnya. Pandji Pragiwaksono dulunya adalah mahasiswa ITB, Sekarang bergelut di bidang entertainment dan menjadi presenter. Andy F.Noya dulunya adalah orang teknik. Dia sekolah di Sekolah Teknik Jayapura lalu melanjutkan ke STM Jayapura, sekarang Andy bergelut di bidang jurnalistik dan menjadi presenter di acara Kick Andy. Dan masih banyak lagi sosok-sosok inspiratif yang bisa kita ambil pelajaran dalam perjalanan hidupnya.

Ini adalah cerita tentang Andy F. Noya, sebelumnya dia menjadi pemimpin redaksi di Metro TV dan memutuskan untuk keluar.

Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul “Who Moved My Cheese”. Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu. Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari ‘keju’ itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti ‘lentera jiwa’ saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri..

Baca Selanjutnya di: http://lenterajiwa.com/inspirasi.php?Nid=35

Baca juga tulisan @pandji tentang passion, bahwa tidak ada kata terlambat dalam menemukan passion.

Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri SEKALIGUS untuk negeri adalah: Menemukan PASSION.
Karena kalau elo belum menemukan passion elo, besar kemungkinan elo tidak akan melakukan sesuatu yang besar untuk siapapun. Elo, ataupun negeri.
Karena semua hal hal besar yang terjadi di dunia adalah karena passion yg besar.
Dari passion seorang Steve Jobs sampai passion seorang Gandhi sampai passion seorang Bung Hatta, sampai passion seorang Magic Johnson.
SEMUA kesuksesan setiap orang terjadi karena mereka menemukan passion mereka. Bahkan walaupun telat, Colonel Sanders-pun menemukan kesuksesan di umur yang cukup tua setelah beliau menemukan passionnya.
Tidak terkecuali SEMUA orang yang hadir hari itu di PowerLunchnya Pak Hermawan Kertajaya. Orang yang passionnya adalah Marketing.

Baca Selanjutnya: http://www.pandji.com/passion/

Diri kita sendirilah yang sebenarnya menentukan kesuksesan. Kita adalah driver kehidupan kita. So, I’ll keep running to find my passion. How about you?

Related posts:

  1. Passion. What’s yours?
  2. Cosmopolitan Editor’s Choice
  3. Life is a process
  4. Life is ….

One Response to “Life is A Choice: About Passion”

  1. ivan says:

    Artikel bagus banget… Sy seorang pelajar kelas 3 sma …. Yang tidak lama lagi harus memilih jurusan untuk masa depan… Saya sudah berusaha untuk mencari passion saya… Namun hingga sekarang masih belum terselesaikan… Untuk berhasil menemukannya membutuhkan waktu berapa lama ya?? Langkah2 yg sekiranya ampuh kira2 bagaimana??? Terima kasih…

Leave a Reply