Life is a process
August 15, 2011, by YOTCA. read: 1,455
Gabriella Sirait – YOT CA Universitas Indonesia
“I don’t believe in failure. It is not failure if you enjoyed the process. ”
Oprah Winfrey
Beberapa waktu yang lalu saya terlibat dalam sebuah percakapan kecil antara saya dan teman saya. Pada waktu itu kami sedang mendengarkan sebuah lagu dari cd yang diputar di tape mobil. Kira-kira seperti ini perbincangan kami pada waktu itu :
A : Aku ngga suka lagu ini, next aja ya.
G : Kenapa? Tunggu aja sampe abis dulu.
A : Kamu suka?
G : Biasa aja, tapi ya… Abisin aja dulu.
A : Kalo ngga suka ngapain didengerin… Kamu kan dengar lagu bukan buat mencapai ending-nya, tapi buat menikmati lagu itu.
G : Hmm…. Good point.
Pada saat saya mengucapkan kalimat terakhir tersebut, tiba2 pendapat teman saya itu seperti memberi sebuah ide yang muncul pada pikiran saya. Sebuah ide yang datang dari hal se-simple mendengarkan ‘proses perjalanan’ suatu lagu dari intro hingga ke ending-nya kepada perihal menjalani proses dalam kehidupan.
Dalam mendengarkan musik, yang kita lakukan adalah menikmati musik tersebut dari awal hingga akhirnya. Tidak peduli apakah akhir dari lagu tersebut sudah dekat atau pun masih jauh, namun selama kita masih menikmatinya kita akan tetap mendengarkannya karena mendengarkan musik bukanlah suatu upaya untuk mencapai akhir suatu lagu, namun untuk menikmati setiap nada dan ritme dari lagu tersebut.
Apabila dianalogikan dengan kehidupan, hal ini dapat dijadikan pelajaran yang cukup relevan. Dalam kehidupan, kita manusia seringkali dihadapkan dengan situasi-situasi yang menjadikan kita harus bersikap pragmatis, instant, dan hanya berorientasi kepada hasil akhir. Nyatanya, hal ini salah besar dan justru membentuk kepribadian seseorang menjadi malas, tidak mau susah, dan untuk level yang lebih ‘tinggi’ lagi, materialistis.
Saya pribadi adalah seorang yang tidak setuju dengan paham pragmatisme, di mana orang cenderung hanya mengutamakan hasil akhir tanpa melihat proses. Bagi saya hal tersebut adalah salah satu akar penyebab rusaknya mental seseorang akibat upaya-upaya untuk mencapai tujuan secara praktis. Karena bagi saya, segala sesuatu yang praktis itu walaupun tidak selalu buruk, akan tetapi lebih banyak menyimpan nilai negatif dibandingkan nilai positif.
Dikaitkan dengan mendengarkan musik, hal ini tidak berarti apabila kita tidak menikmati suatu proses kehidupan, maka kita dapat dengan mudah meninggalkan proses tersebut. Di sini lah letak perbedaannya. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah karena fokus yang kita lihat pada analogi ini adalah perihal bagaimana menikmati sebuah proses.
Life is a process. The universe is a process. Selama kita masih hidup, selama itu lah proses terus berjalan hingga pada akhirnya kita mencapai final, yakni pada saat kita berhenti hidup. Oleh karena itu, jangan pernah menyerah apabila menghadapi kesulitan. Anggaplah itu merupakan bagian dari proses yang harus kita lalui dan yang terpenting lagi, selama kita menikmati proses tersebut, maka tidak ada istilah gagal. Dalam menjalani proses, segala sesuatunya memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita dan tidak selalu terasa menyenangkan, akan tetapi satu hal yang pasti, setiap proses pasti selalu menyimpan pelajaran yang berharga.
Gabriella Sirait
YOT CA Universitas Indonesia
Related posts:


