Makanlah Sebelum Engkau Lapar, Berhentilah Sebelum Engkau Kenyang
October 12, 2010, by Yonatan Bhakti. read: 6,677
Kalau kamu berharap dalam artikel ini akan menemukan anjuran untuk makan ayam rebus tanpa garam, gado2 tanpa bumbu kacangnya, sayur cah brokoli, serta menyarankan untuk tidak makan nasi goreng, seperti layaknya para body builder, kamu ngga perlu terusin baca artikel ini.
Pernah ngga kamu merasa malas beranjak dari depan TV padahal kamu harus mengerjakan pekerjaan lain yang lebih penting. Padahal,… mencet tombol off remote TV dibutuhkan energy ngga sampe satu kalori, tapi kenyatannya banyak orang ngga mampu melakukannya.
Atau ada masalah sedikit di kantor, kamu uring-uringan terus sampai terbawa ke rumah. Kamu sedang menatap di depan kaca melihat perutmu semakin buncit, dan kamu menghibur diri sendiri, “Emang begini koq mau diapain lagi?“, seakan ada rasa enggan untuk memulai diet atau olah raga.
Semua yang saya sebutkan tadi, itu yang dinamakan cycle of inertia oleh Marshal Goldsmith penulis buku MOJO. Goldsmith mengatakan, kita cenderung sukar berubah karena ngga ada yang mengawasi. Berbeda kalau di kantor, atau di sekolah, ada bos atau dosen yang akan menilai hasil pekerjaan kita sehingga kita mau ngga mau harus melakukannya dengan baik. Untuk dapat memutuskan cycle of inertia itu, dua pertanyaan sederhana yang selalu dapat kita ingat2 yaitu;
• Sebarapa besar manfaat dan arti yang kamu dapatkan dari hal tersebut untuk masa depan kamu?, dan…
• Seberapa besar arti kepuasan dan kesenangan yang kamu dapatkan dari hal tersebut untuk saat ini?
Saya punya pengalaman yang ingin saya share di sini…
Saat itu adalah awal musim dingin di daerah Midwest, ketika saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di benua Amerika. Salju turun sangat tebal. Di minggu-minggu pertama, saya sering merasa lapar walaupun sudah makan, maklum perut saya biasa diisi lonsay (baca: lontong sayur) dan nasi padang, belum terbiasa dengan makanan lokal.
Andri Aulia adalah seorang kawan yang pergi bersama saya ke Amerika dari Indonesia. Dia adalah orang yang hidupnya sangat teratur dan selalu menjalankan kewajiban Sholat 5 waktunya. Karena alasan kepercayaannya pulalah Andri harus nyetir menempuh jarak yang lebih jauh untuk berbelanja kebutuhan bahan makanannya.
Sementara saya adalah termasuk orang yang makan apa saja yang lewat di depan mata. Teringat semasa di bangku kuliah saya sempat ke Jepang untuk program pertukaran pelajar. Dari kehidupan anak kost yang pas-pasan di daerah Serpong Tangerang, tiba di Jepang apa saja saya makan sampai-sampai lidah saya luka karena kebanyakan makan Kikoman! (merek kecap yang sering digunakan untuk masakan di Jepang).
Balik lagi ke cerita ketika saya di Amerika bersama Andri, suatu saat Andri yang berdarah Minang mengundang saya untuk makan malam yang menyajikan berbagai masakan Indonesia di rumahnya. Saya benar-benar tidak menyia-nyiakan undangan itu. “Wah loe kayak orang kalap ngga makan seminggu ya”, kata Andri sambil tersenyum melihat saya melahap makanan seperti vacuum cleaner. Tanpa basa-basi, saya menjawab, “Gua udah lama ngga ketemu makanan seperti ini, Bro.”
Lalu Andri bilang, “Makanlah sebelum elu lapar dan berhentilah sebelum elu kenyang.” Ketika itu, saya ngga terlalu paham apa yang dia maksud sampai suatu saat saya membaca sebuah artikel di majalah kebugaran yang pada initinya adalah, “Makan lebih sering dengan porsi kecil akan membuat proses metabolisme terjaga dan memberi kepuasan perut kita.”
Beruntung di Amerika, banyak hal dibuat praktis dan mudah, sehingga saya tidak banyak kesulitan belajar mempersiapkan makanan untuk dibawa ke kantor. Setiap 3 jam saya makan sebagian makanan yang saya bawa, dan saat itu saya teringat apa yang pernah dikatakan oleh Andri. Ternyata makan sebelum lapar memang tidak membuat kita ingin makan terlalu banyak, lha wong memang belum lapar. Hasilnya? Perut juga jadi tidak terasa penuh/kenyang! Belakangan saya mengetahui bahwa apa yang dikatan Andri ternyata dikutip dari hadist Nabi Muhammad SAW.
Lalu kalau lagi diet, untuk ngurusin berat badan atau untuk jaga berat badan pada berat yang ideal, apa donk yang boleh dan tidak boleh dimakan? Yah apa yang biasa kamu makan!
Kalau kamu biasa makan nasi goreng pada pagi hari, coba sisakan setengahnya untuk kamu makan lagi sekitar 2- 3 jam sebelum kamu makan siang. Niscaya pada saat jam makan siang perut kamu tidak akan merasa terlalu lapar, tapi tetaplah makan siang. Kalau makan siangmu adalah bukan dari sisa makan pagimu, pastikan setengahnya untuk kamu sisakan, untuk kamu makan 3 jam setelah makan siang itu, dan seterusnya.
Kalau kamu bisa mencoba dalam 2 bulan merubah pola makan kamu dari 3 kali menjadi 5 – 6 kali sehari, itu sudah bagus. Apabila kamu sudah mulai terbiasa dengan pola makan tersebut, berikutnya adalah untuk mulai mencanangkan campaign untuk mengurangi gula atau mengurangi garam untuk 2 bulan berikutnya. Saya bukan mengatakan tidak sama sekali, tapi kurangilah.
Ada banyak referensi yang kamu bisa baca untuk memilih makanan yang lebih sehat tetapi apa yang lebih penting untuk memulai pola makan sehat menurut saya adalah untuk membangun kebiasan baru, dan memulainya dari hal yang kamu mampu lakukan dulu. Ngga perlu secara drastis karena mindset kamu dan tubuhmu butuhkan waktu untuk menyesuaikannya.
“It is not what you eat but how you eat it!”
Yonatan Bhakti
Professional, Fitness Addict
Twitter: @yonatanbhakti
Email: yonatan_bhakti@yahoo.com
Related posts:



artikel yang bagus…memang agak susah membangun kebiasaan baru… tp dgn mencoba terus pasti bisa…
Well,dari sudut pandang seorang moslem cara paling mudah merubah pola kebiasaan makan ini bisa didapat dari ritual puasa yg wajib dan sunnah,dan saya merasakan sendiri apa yg diungkap penulis loh..give a try.
Wah bener banget Yo, tp di Jakarta susah kalo mau bawa2 makanan kayak di Amrik. Sementara makanan di resto rata2 berat semua.
setuju Pak Yo…
tapi memang susah melaksanakannya, yang ada sering kalap klo melihat makanan enak dan males makan klo makanannya gak enak
Yo,
Congrats….interesting insight.Artikel ini menarik karena memberi kajian kontekstual kesibukan executive yang semakin hectic, plus ada elemen religi….”agar kita tidak lapar mata melihat foods dan variannya” Let’s give it a try !
Simple but powerfull…!!!
Kita cenderung mengikuti pola yg sudah ada dan sudah kita jalankan sejak kecil. Makan 3 kali, dan harus dihabiskan. Belum lagi dari sisi menu yang amat sangat tinggi Karbohidrat, lauk pauk yg tidak sehat (Jeroan, Santan, atau malah hanya Abon), ditambah lagi cara terpraktis pengolahan yaitu digoreng, belum lagi tidak adanya serat (sayuran dan buah). Dibutuhkan kekuatan yang sangat ekstra untuk bisa mendobrak itu semua. Tapi hal simple sudah bisa dijalankan untuk dimulai. Sisakan setengah untuk dimakan 3 jam lagi. Kita pasti bisa melakukannya!
Sangat mudah… tapi berdampak besar…
Setuju Bang, dengan berhenti sebelum kenyang, itu juga akan mengurangi porsi makan kita sehingga lama-lama porsi makan kita lebih teratur dan tidak gila-gilaan. Kurangilah besarnya kantong vacuum cleaner daripada harus beli vacuum cleaner lebih besar….
BACA ARTIKEL INI, GW KECEWA, KARENA ITU ARTINYA QTA GAK BISA LAGI BECAK BECAKAN, MELUPAKAN CAK ALI ZEIN DAN NASGOR JALAN BAKTI, HE … HE !!
kalo hadits nabi SAW “makanlah setelah lapar dan berhentilah sebelum kenyang” CMIIW
Soal makanan tidak sekedar “How to eat” , faktor halal haram zat makanan serta cara mendapatkannya sangat pengaruh terhadap jiwa.
Sehat Raga penting, sehat Jiwa lebih penting
“Makanlah Sebelum Engkau Lapar, Berhentilah Sebelum Engkau Kenyang” bukanlah kata2 hanya dari Nabi Muhammad. Ini kata2 dari ajaran agama Budha yg jauh lebih tua,untuk membantu fokus terhadap meditasi dan fokus menjaga hawa nafsu,termaksud makan berlebihan.
Haruslah kita lebih bijaksana dalam beragama,karena iblis bisa masuk kedalam apa saja termaksud agama.
saya punya persepsi yang berbeda,, hadist ini bagi saya adalah hadits yang paling sulit dilakukan,, karena makanlah sebelum lapar hanya bisa dilakukan bagi kaum yang memang mampu membeli atau memiliki makanan yang mereka butuhkan kapan saja,, bagaimana dengan orang miskin duhafa yang tidak memiliki penghasilan tetap,, makan sebelum lapar adalah hal yang sangat sulit, memperoleh makanan ketika mereka belum lapar sangatlah jarang ditemukan,lebih tragisnya lagi, ketika mereka mendapat makan berlebih, mereka memakannya secara membabi buta dgn dendam akan kelaparannya yang lalu, dengan makan banyak hingga sekenyang-kenyangnya,berharap durasi menanti hingga menemukan momen laparnya lagi dikemudian waktu dapat diperpanjang, lalu gugurlah hadits yang kedua: “berhentilah makan sebelum kenyang”.
saya tdk sependapat hadist itu diterjemahkan “makan sebelum lapar”krn pemahamn hadist itu,hemat saya,Rasul tidk makan kcuali bila mrasa lapar. Jadi, kita makan bila mrasa lapar bkn sebelem lapar..( Laa ya’kulu hatta yajuuá).
ass wr.wb
Ysh bapak2,mohon dikoreksi ulang,bahwasanya” makanlah jika kau lapar berhentilah sebelum kamu kenyang”itu bukanlah hadist yang datang dari nabi muhammad saw,melainkan perkataan seorang dokter dari sudan,kepada raja di persia
wassallamualaiku wr wb
Tulisan yg menarik bro. Thanks for sharing. Sayang nasihat ttg makan itu walaupun isinya bagus tapi saya menemukan bahwa ini bukanlah hadits nabi yg sahih. Anyway thanks again for the good words.