billy boen

Mau Sukses? Jaga Kesehatanmu

November 21, 2011, by YOTCA. read: 1,163

Oleh Kenny Lischer – YOT CA UI

“Success means nothing when you are sick”

-YB-

Itu adalah sepenggal pernyataan dari salah satu mentor saya di YOT yang berfokus di bidang kesehatan. Kata-kata itu cukup simple, tetapi memiliki makna yang mendalam. Bahwasannya, kesuksesan itu akan percuma saja kalau kamu memiliki raga yang tidak sehat. Ada istilah, di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ini juga mendukung, bahwa kesehatan merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk diperjuangkan.

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar dari tiap manusia. Salah satu hal yang menjadi sorotan tentang masalah kesehatan adalah asupan gizi yang diberikan. Terdapat dualisme masalah gizi yang sekiranya ada di tengah masyarakat. Di satu sisi, masyarakat masih banyak yang mengalami gizi buruk. Namun, akibat gaya hidup yang berubah permasalahan gizi mengalami perubahan baik dari segi bentuknya maupun akibat penyakit yang akan ditimbulkan. Transisi epidemiologi gizi ini membuat beberapa masyarakat mengalami gizi lebih atau istilah lumrahnya “kelebihan berat badan” atau “kegemukan”.

Realita

Saya mengambil contoh di daerah banten, menurut data dari departemen kesehatan banten, sebanyak 9.378 balita masih menderita gizi buruk dan tidak ditangani secara baik. Berdasarkan data terakhir dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten, persentase jumlah penderita gizi buruk ini mengalami peningkatan sebesar 0,09 persen atau 9.378 balita pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010 sebesar 1,04 persen atau sekitar 8.737 balita gizi buruk dari 839.857 balita terpantau. Kasus gizi buruk ini merata di hampir diseluruh kabupaten/kota di Provinsi Banten.

Dikatakan, persentase jumlah balita gizi buruk tertinggi justru terdapat di Kota Serang sebesar 1,70 persen atau sebanyak 615 balita gizi buruk dari 36.192 balita terpantau. Disusul, Kota Tangerang sebesar 1,44 persen atau sebanyak 1.657 balita gizi buruk dari 115.254 balita terpantau.

Kabupaten Lebak sebanyak 1.027 balita atau 1,02 persen dari 100.955 balita terpantau. Sedangkan, di Kabupaten Tangerang tercatat 2.166 balita gizi buruk atau 0,95 persen dari 227.343 balita terpantau, Kabupaten Pandeglang sebanyak 1.398 balita atau 1,30 persen dari 107.342 balita terpantau, Kota Cilegon 241 balita atau 0,83 persen dari 28,883 balita terpantau, dan terakhir di Kota Tangerang Selatan sebanyak 323 balita gizi buruk atau 0,41 persen dari 79.593 balita terpantau.

Disamping itu, jumlah orang yang mengalami gizi lebih juga semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kasus penyakit hasil derivatif para penderita gizi lebih seperti kanker, jantung koroner, darah tinggi, dan stroke yang semakin meningkat. Penyakit-penyakit diatas selain karena garis keturunan tetapi dapat dipicu untuk lebih cepat timbul akibat gaya hidup yang semakin berubah. Bayangkan setiap hari selalu dirunut dengan kebiasaan-kebiasaan. Untuk orang yang masih sekolah atau di tingkat universitas biasanya akan banyak menghabiskan waktu di sekolahnya kemudian kembali pulang. Begitupun yang bekerja cenderung menyesuaikan kegiatan-kegiatan kebiasaannya. Ditambah lagi dengan banyaknya makanan-makanan junk food , goreng-gorengan yang mengandung minyak terhidrogenasi, dan beberapa makanan yang mengandung lemak jenuh. Ini menjadi akselerasi untuk memicu penyakit.

Dua masalah yang kontras berbeda, tetapi sama-sama memiliki corong yang sama. Kesiapan tenaga ahli kesehatan, jumlah fasilitas kesehatan, dan anggaran kesehatan juga menjadi masalah. Akibat dari transisi epidemiologi gizi ini, semakin banyak orang yang mengalami penyakit akibat dari gizi buruk dan gizi lebih. Tenaga kesehatan belum sampai kepada sisi-sisi terkecil dari masyarakat. Masyarakat belum tersadarkan secara kesehatan. Oleh karena itu, banyak yang melalaikan kesehatan mereka dan cenderung tidak peduli akibat dari gizi buruk dan gizi lebih ini.

Ya, kita harus dukung untuk bisa menyelesaikan masalah gizi ini. Entah gizi buruk maupun gizi lebih. Keduanya adalah epidemiologi yang sekarang terus berkembang. Transisi menyebabkan kedudukan mereka semakin berimbang. Sinyal darurat ini harus bisa ditanggapi secara responsif untuk mengambil peranan dalam menyelesaikan masalah ini. Terakhir, jika kamu mau sukses, kamu harus jaga kesehatanmu.

Salam,

@KennyLischer

Kita MUDA, Kita Bisa!

Related posts:

  1. Sial? SiapaTakut! Sukses? I,m Coming..
  2. Sukses Tidak Memandang Asal Usul
  3. Kisah Sukses Lee Myung Bak
  4. Pingin sukses? Kelola Keuangan Kamu!
  5. Sukses dan Etika

Leave a Reply