Memilih diantara menghina atau mengasihi?
October 17, 2011, by YOTCA. read: 1,280
Cacat atau tidak bukanlah ukuran kemampuan seseorang (Prof. DR. Soeharso)
Tanggal 27 September 2011, saya dengan teman dan kebetulan dia sebagai Campus Ambassador Young On Top Universitas Brawijaya berkesempatan untuk mengunjungi YPAC di kota Malang bersama salah satu guru dari yayasan tersebut. YPAC singkatan dari Yayasan Penyandang Anak Cacat sebuah sekolah untuk teman-teman yang memiliki kekurangan.
Ketika saya berada di sana saya melihat suasana belajar yang berbeda dengan saat saya menjalani SD di Jakarta. Di YPAC satu kelas ada 7 murid dengan ukuran kelas yang tidak terlalu besar. Mengamati suasana di kelas sebenarnya canggung dengan murid-murid disana tetapi saya terus beradaptasi untuk dapat diterima di kelas. Syukur saya berhasil untuk beradaptasi dengan suasana kelas. Saya berbincang dengan murid-murid di kelas. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Ada 2 murid yang masih saya ingat sampai sekarang yaitu fahmi dan sofi. Mengenai Fahmi, Fahmi tidak bisa berbicara dan ketika dia memanggil temannya hanya menggunakan gerakan-gerakan kecil tetapi dia masih bisa tersenyum, bercanda gurau dengan temannya serta masih memiliki keinginan belajar yang tinggi. Setiap menit air liurnya selalu terjatuh dengan itu orang tuanya memberikan sapu tangan untuk membersihkan air liur yang terjatuh. Kedua, yaitu Sofi yang paling pintar dikelas, cepat menerima pelajaran dari guru. Sekilas Sofi tidak ada kekurangannya tetapi ketika harus istirahat, dan ke toilet Sofi harus menggunakan kursi roda. Dia tidak bisa berjalan seperti yang lainnya.
Ketika teman-teman mengunjungi YPAC tentunya ada perasaan sedih di dalam diri dan itu yang saya rasakan. Saya memerlukan toilet untuk menghapus air mata, saya tidak ingin mereka melihat saya menangis. Dan tentunya kita Bersyukur dengan apa yang kita dapatkan selama ini.
Ada dari kita yang biasanya berpendapat “sebenarnya orang-orang yang memiliki kekurangan tersebut tidak perlu ada” ya kesannya mereka tidak boleh memiliki kesempatan bahagia dan menjalani hidup. Entah harus berpendapat apa untuk yang berpendapat seperti itu. Tetapi jika diantara kita ada yang berpikir seperti itu coba kita berpikir kembali ketika kita ada di posisi mereka memiliki kekurangan yang sebenarnya yang tidak ingin kita miliki apakah masih berpikir untuk mereka tidak pantas hidup? Jawab di dalam hati kita. Ketika dihadapkan diantara menghina dengan keadaan mereka atau mengasihi adalah pilihan kita. Tetapi sangat rugi sekali ketika kita memilih untuk menghina dari apa yang diciptakan dari pencipta kita. Ada kelebihan dari diri mereka yaitu “Mengasihi dengan ikhlas dari diri mereka untuk orang lain disekitarnya”
Satrio Mulyo Purnomo
Campus Ambassador – Universitas Brawijaya
t: @satriomulyo
F: Satrio Mulyo Purnomo
Related posts:
- Berhenti atau Meneruskan itu Pilihan
- Penjahat atau Penolong
- Resolusi, Target, atau Impian?
- [Dicari] Mahasiswa aktif (punya prestasi, komunitas, atau keahlian)


