Memulai dari Akhir
August 18, 2011, by YOTCA. read: 1,295
“Memulai dari Akhir”
Ewaldo Antonio Prospero Reis Amaral
YOT CA Universitas Trisakti
Hidup manusia dimulai dari dia lahir hingga akhirnya dia meninggal. Mengapa judulnya “memulai dari akhir?” Bukankah untuk memulai segalanya dari AWAL?. Nih, akan saya akan sedikit bercerita. Hidup manusia di dunia memang berakhir ketika dia meninggal, jadi mari kita lihat dari sudut pandang ini.
Apa yang kamu inginkan orang-orang katakan tentang dirimu ketika dirimu meninggal? Sebuah pujian, hujatan, sanjungan atau caci maki? Tentu ketika kita meninggal nanti, kita ingin meninggalkan segala hal baik yang telah kita lakukan untuk dikenang orang. Nah, dari melihat “akhir” tersebut, hal-hal apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut agar tercapai? Tentu melakukan hal-hal yang baik, menjauhi laranganNya, dan menjalankan perintahNya menjadi jawabannya. Jadi, agar dapat dikenang dengan baik, kita melakukan hal-hal tersebut agar “keinginan” tersebut tercapai. Pada saat itulah kita telah “memulai dari akhir”.
Contoh lain.
“Sudahkan dirimu menargetkan atau membayangkan dirimu ketika telah berumur 50 tahun? Menjadi manusia seperi apakah dirimu? Sukses atau hanya biasa-biasa saja?”
Pertanyaan simpel namun cukup “kena”. Umur saya sekarang 19 tahun, tapi kalau secara terang-terangan saya belum berfikir menjadi orang seperti apakah saya nanti ketika berumur 50 tahun. Ketika saya bertanya pada seorang teman dengan lugas ia menjawab ingin menjadi “usahawan yang sukses dan dapat keliling dunia”. Jawaban menarik bukan? Tapi, apa hal tersebut sudah difikirkan matang-matang atau hanya sekadar jawaban asal-asalan?
Mari kita patok jawaban tersebut. Jika kita “mulai dari akhir”, di mana tujuannya adalah usahawan yang sukses dan dapat keliling dunia, hal-hal apa yang dapat dilakukan agar keinginan tersebut tercapai? Pertanyaan tersebut saya lontarkan kepada teman saya, dan ia pun sempat berfikir. “Ya, belajar yang benar lah!”jawabnya. “Apakah sudah kamu laksanakan?”. Ia diam.
“Memulai dari Akhir” bisa dibilang sebuah senjata motivasi, bahkan bisa menjadi senjata motivasi yang luar biasa, karena dengan telah mematok “akhir” dari yang kita inginkan, kita dapat introspeksi, mempunyai semangat dan daya juang yang tinggi agar keinginan tersebut tercapai”.
So, the questions are sudahkah kita membayangkan diri kita pada umur 40, 50 hingga 80 tahun? Apa saja yang harus kita lakukan agar semua itu tercapai?
@ewaldoapra
Related posts:
- Visi, Langkah Awal Menuju Akhir Perjalanan
- Dari Film Saya Belajar Kritik
- Rahasia dari Tanah kaya Mineral



membaca ini seperti dejavu
Habibi juga berbicara seperti ini pada saat kuliah umum di Aachen Germany walaupun isi nya beda tetapi Judul dan inti nya sama
so,Habibie saja yang sudah sukses berfikir seperti itu jadi kita juga harus bisa berfikir seperti itu
#salam Indonesia
I think you’re likely to chip along with some decisive insigth at the end there. Not allow it to cook with we leave it to you to decide