billy boen

Orang tua dan Anjing (The Old Man dan the Dog)

October 19, 2011, by YOTCA. read: 310

Rendy Trizaurochim – YOTCA IT Telkom

“Hati-hati, kamu menabrak mobil itu!! ” Ayahku berteriak padaku. ” Tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan benar? “

Kata-kata menyakitkan itu lebih buruk dari pukulan. Aku menoleh ke arah pria tua yang duduk di kursi sebelahku, menantangku untuk menantangnya balik. Aku tidak mau ini berkepanjangan.

“Aku melihat mobil itu, Ayah Tolong jangan berteriak padaku saat aku mengemudi.. “  jawabku dengan suara tenang.

Ayah melotot ke arahku, lalu berbalik dan duduk kembali. Di rumah aku meninggalkan Ayah di depan televisi dan pergi ke luar untuk menenangkan pikiran. Gelap, awan tebal menggantung di udara seolah-olah menjanjikan akan datang hujan. Gemuruh guntur di kejauhan tampak seperti gejolak di dalam batinku. Apa yang bisa saya lakukan padanya?

Ayah telah menjadi penebang kayu di Washington dan Oregon. Dia sering mengikuti kompetisi penebang pohon dan sering memenangkan kompetisi itu. Rak-rak di rumahnya penuh dengan piala yang membuktikan kehebatannya.

Tahun demi tahun berganti, pertama kali dia tidak bisa mengangkat log kayu berat, ia mengelak tentang hal itu, tetapi kemudian pada hari yang sama aku melihat dia dari luar, masih berusaha untuk mengangkatnya. Dia menjadi marah setiap kali ada yang menggodanya tentang umurnya yang semakin maju, atau ketika ia tidak bisa melakukan sesuatu yang telah dia lakukan saat masih muda.

Empat hari setelah Enam puluh tujuh ulang tahunnya, dia mengalami serangan jantung. Sebuah ambulans menuju ke rumah sakit sementara seorang paramedis diberikan CPR untuk menjaga darah dan oksigen mengalir.

Di rumah sakit, Ayah dilarikan ke ruang operasi. Dia beruntung, dia selamat. Tapi sesuatu di dalam Ayah meninggal, yaitu Semangat -Nya untuk hidup telah pergi, dia keras kepala menolak untuk mengikuti perintah dokter. Saran dan tawaran bantuan dari orang lain selalu dia tolak, bahkan ada yang berujung pada penghinaan. Jumlah pengunjung menipis, lalu akhirnya berhenti sama sekali. Akhirnya ayah ditinggalkan sendirian.

Dick (Suami saya) dan aku meminta ayah untuk datang dan tinggal bersama kami di pertanian kecil kami. Kami berharap udara segar dan suasana pedesaan akan membantunya menyesuaikan diri.

Seminggu setelah dia pindah, aku merasa menyesal mengundang ke rumahku. Tampaknya tidak ada yang benar didepannya. Ia mengkritik semua yang saya lakukan. Saya menjadi frustrasi dan murung.

Keesokan harinya aku duduk didekat buku telepon lalu mencari nomor klinik kesehatan mental yang terdaftar di Yellow Pages. Saya menjelaskan masalah saya tetapi hasilnya sia-sia.

Tepat ketika aku berhenti untuk berhara, salah satu suara tiba-tiba berseru, ” Aku hanya membaca sesuatu yang dapat membantu Anda! Biarkan aku pergi mencari artikel. “

Akhirnya aku berhasil mencari artikel itu, artikel ini menjelaskan tentang penelitian yang luar biasa dilakukan di sebuah panti jompo. Semua pasien berada di bawah pengobatan untuk depresi kronis. Namun sikap mereka meningkat secara dramatis ketika mereka diberi tanggung jawab untuk memelihara anjing.

Aku pergi ke penampungan hewan sore itu. Setelah saya mengisi daftar pertanyaan, petugas berseragam membawa saya ke kandang. Aroma tidak sedap menyengat hidungku saat aku berjalan menyusuri kandang. Masing-masing berisi 5-7 anjing. Anjing berambut panjang, berambut keriting, anjing hitam, anjing-anjing itu melompang untuk mendekatiku. Saat aku mendekati kandang anjing yang terakhir, aku melihat anjing dari sudut mencoba berdiri, berjalan kedepan dan duduk. Itu adalah pointer, salah satu anjing jenis aristokrat (bangsawan). Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya.

Aku pulang dengan anjing di kursi depan di sampinku. Ketika aku sampai di rumah, aku membunyikan klakson dua kali. Aku membawa keluar hadiah untuk ayah, “Ta – da! Lihat apa yang saya punya untukmu ayah” kataku penuh semangat.

Ayah memandang, lalu mengerutkan wajahnya. “Jika aku ingin anjing, aku akan memilih lebih baik dari anjing itu.. Jauhkan dia dariku, aku tidak mau!”.

Kemarahan bangkit dalam diriku “Sebaiknya ayah membiasakan bersama dia. Dia akan tinggal di rumah ini!”.

Ayah mengabaikanku. “Apakah ayah mendengarku?” aku menjerit. Kemudian aya berbalik marah, tangannya mengepal, matanya melotot penuh dengan kebencian. Kami berdua saling bertatapan dengan amarah, seketika itu tanganku tidak sengaja memukul anjing itu, dia terhuyung-huyun kea rah ayah dan duduk di depannya. Kemudian secara perlahan dia mengangkat kaki depannya. Ayah bergetar saat melihat kejadian itu, amarahnya berganti dengan kebingungan. Anjing itu menunggu dengan sabar, kemudian ayah memeluk binatang itu.

Itu adalah awal dari persahabatan ayah dengan anjing itu. Ayah menamainya Cheyenne. Bersama-sama, ayah dan Cheyenne mulai bergaul dengan masyarakat. Mereka menghabiskan berjam-jam berjalan-jalan di daerah itu.

Sepanjang tiga tahun ke depan ayah dan Cheyenne tak terpisahkan. Sikap buruk ayah mulai menghilang, ayah dan chayenne mempunyai banyak teman. Lalu pada suatu malam aku terkejut Cheyenne tiba-tiba masuk ke kamarku. Padahal dia belum pernah masuk ke kamarku pada malam hari. Aku membangunkan Dick, lalu berlari ke kamar ayah. Ayah berbaring di tempat tidur, wajahnya tenang. Tapi semangatnya telah pergi di keheningan malam itu.

Dua hari kemudian aku terkejut dan sedih ketika aku menemukan Cheyenne tergeletak mati di samping tempat tidur ayah. Dick dan aku menguburkannya di dekat lubang tempat memancing favorit kami. Diam-diam aku berterima kasih pada anjing itu atas bantuan yang telah diberikan padaku dalam membantu memulihkan ayah.

“Saya bersyukur kepada Tuhan telah mengirimkan malaikat itu”.

Related posts:

  1. “TOP Words” – Kisah Sukses & Inspiratif Orang-Orang TOP Indonesia
  2. Hangatlah terhadap Orang Sekitar
  3. Nurutin Orang Tua Vs. BERANI

Leave a Reply