Peduli Seperti Semut by Tiarni Putri Fau YOT CA UNPAD
August 15, 2011, by YOTCA. read: 1,387
Ketika saya sedang menonton TV di rumah, saya melihat segerombolan semut panjang dari arah belakang TV sampai ruang makan. Karena saya merasa terganggu, akhirnya saya mencari ujung pangkal dari pasukan semut tersebut. Ketika saya selidiki, baru saya mengerti. Belakang TV di rumah saya adalah “rumah semut” sedangkan di ruang makan rumah saya ada sisa-sisa makanan yang tumpah, yang secara tidak sengaja tidak tersapu.Karena saya sedang senggang, akhirnya saya perhatikan cara kerja semut-semut itu. Semut tidak pernah bekerja sendiri. Bisa terlihat dari cara semut membawa makanan. Ketika satu semut mampu mengangkat sebongkah kecil sisa makanan, maka datanglah semut-semut lain untuk membantu. Di bawalah bongkahan kecil makanan itu dari sumber makanan ke “rumahsemut”. Walaupun letaknya jauh, namun pasukan pembawa makanan itu tidak bercerai-berai, namun tetap tekun membawa makanan tersebut ke “rumah” mereka. Saya merasa tergelitik untuk menganggu pasukan semut tersebut. Saya tiupi pasukan semut pembawa makanan tersebut dengan nafas saya. Ketika saya tiup, mereka berhenti sejenak kemudian bercerai-berai. Ada beberapa semut yang masih membantu mengangkat bongkahan sisa makanan. Setelah saya selesai meniup, mereka berkumpul dan berjalan bersama kembali sehingga sampailah mereka ke “rumah” mereka. Mereka tidak bekerja sendiri. Semut-semut yang lain saling membantu mengambil sisa-sisa makanan itu. Yang pasti, pasukan semut pengambil sisa makanan ini masih ada puluhan di belakangnya.
Sebenarnya, kalau di pikir-pikir lebih jauh lagi, bisa lho semut-semut itu bertindak egois! Bisa saja semut yang menemukan sisa makanan itu tidak mau berbagi dengan yang lain. Bisa saja semut yang menemukan sisa makanan menolak bantuan semut yang lain untuk mengangkat sisa makanan dan dimakan sendiri sisa makanan tersebut. Tapi pada kenyataannya, sang semut malah menerima bantuan dari teman semut yang lain. Kenapa? Menurut saya ( ini menurut saya lhoo! ) karena semut itu tidak hidup sendirian. Mereka sadar bahwa mereka hidup dalam satu kelompok besar. Ketika salah satu dari mereka menemukan makanan, mereka tidak akan segan-segan membagi dengan semut yang lain. Bahkan semut-semut yang lain pun turut membantu untuk membawa sisa makanan tersebut. Sama seperti semut, manusia adalah makhluk sosial. Manusia adalah bagian terkecil dari suatu komunitas. Ada saatnya kita harus keluar dari rumah kita dan membantu orang lain. Sebagai manusia yang mempunyai akal budi, kita bisa melakukan hal kecil untuk teman satu komunitas kita seperti menelepon untuk menanyakan kabar, menjenguk ketika sakit, memberikan nasihat ketika teman kita sedang ada masalah, ikut kerja bakti di komplek perumahan atau sekedar menyapa teman yang kita kenal ketika berpapasan. Sama seperti semut, semut ketika bertemu dengan semut lain akan melakukan tindakan seperti “menyapa” semut yang lain. Memang terkesan sepele, namun bisa saja tindakan kecil kita akan sangat berarti buat orang tersebut. Hidup di dunia yang semakin tinggi tingkat persaingannya membuat tingkat kepedulian kita berkurang. Kadang kita cuek dengan masalah yang ada di sekitar kita.Menurut saya pribadi, semut ada sampai sekarang karena kepedulian mereka akan kelompok mereka. Mereka tidak bekerja sendiri-sendiri namun bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sekelompok. Sama seperti manusia, jika manusia satu sama lain tidak ada rasa saling peduli, pada hakikatnya komunitas kecil itu tidak akan ada. Jadi, ketika kita merasa malas untuk menolong orang lain, belajarlah pada semut !
Related posts:


