billy boen

Pelajaran dari Komik Kungfu Boy: Batasan Diri Kita

October 16, 2011, by YOTCA. read: 382

Iqbal Dawam Wibisono  – YOT CA Unpad – Oktober

Komik Kungfu Boy memang sudah lama, laris ketika tahun 90-an. Tapi banyak sekali inspirasi yang bisa kita ambil dari cerita dalam komik tersebut. Salah satu cerita yang gue suka adalah tentang dua ekor kutu loncat  yang akan gue ceritakan dibawah ini. Check it out!

Diceritakan Chinmi yang baru saja belajar kungfu tongkat dengan guru Riki, secepat kilat bisa berkembang dan bisa mengalahkan murid-murid guru Riki dalam latih tanding. Chinmi menjadi yang paling jago kungfu tongkatnya di Kuil Dairin.

Suatu hari, datanglah Guru Shoshu (yang dulu mengajari guru Riki kungfu tongkat) bersama muridnya yang bernama Sie Fan. Diadakanlah latih tanding antara Chinmi, yang ketika itu paling jago dari Kuil Dairin melawan Sie Fan. Awalnya Chinmi meremehkan Sie Fan karena sifatnya yang polos dan tidak kelihatan jago. Tetapi ketika latih tanding dimulai, Chinmi ternyata tidak bisa mengimbangi kecepatan Sie Fan, dia tidak bisa menyerang Sie Fan sama sekali sampai Chinmi dibuat pingsan.

Chinmi pun bingung, dia yang paling jago kungfu tongkatnya di Kuil Dairin ternyata tidak bisa menyentuh Sie Fan sama sekali. Datanglah guru Soshu membawa sebuah kotak dan mengeluarkan seekor kutu yang meloncat-loncat. Lalu guru Soshu juga mengambil seekor kutu loncat yang sejenis dari bulu Gokong (monyetnya Chinmi) lalu dibandingkanlah kedua kutu loncat tersebut.

Kutu yang pertama, lompatannya hanya setinggi kotak tempat dimana ia disimpan. Tidak lebih. Kutu yang kedua ternyata bisa melompat-lompat sangat tinggi. Guru Soshu mengumpamakan Chinmi adalah kutu yang pertama, yang lompatannya hanya setinggi kotak tempat dimana ia disimpan. Sie Fan diumpamakan kutu kedua, yang lompatannya sangat tinggi melebihi kutu pertama.

Disimpanlah kedua kutu tersebut kedalam kota oleh Chinmi dan membawanya ke kamar. Setelah beberapa hari, Chinmi pun mengeluarkan kedua kutu tersebut. Ternyata sekarang lompatan kedua kutu tersebut sama tingginya, hanya setinggi kotak tempat dimana keduanya disimpan. Chinmi pun tidak bisa membedakan kutu mana yang berasal dari bulu Gokong, kutu mana yang diberi guru Soshu.

Chinmi pun sadar, dia yang merasa paling jago kungfu tongkatnya di Kuil Dairin sudah merasa puas dan pikirannya hanya terbatas pada Kuil Dairin saja. Dia membuat batasan untuk dirinya sendiri. Padahal sebenarnya potensi lompatannya lebih dari kotak tersebut. Sedangkan Sie Fan, tidak pernah membatasi dirinya untuk terus belajar kungfu. Akhirnya ketika guru Soshu dan Sie Fan ingin pamit untuk melanjutkan perjalanan, diadakanlah latih tanding terakhir antara Chinmi dengan Sie Fan, pertandingan pun berakhir seri.

Dalam kehidupan, seringkali kita membuat “kotak” batasan diri kita. Padahal terkadang kita belum tahu sebenarnya potensi kita. Layaknya seekor kutu yang berada dalam kotak, terus melompat-lompat dan membentur atap. Lalu berkata bahwa ternyata hanya inilah batas lompatan saya. Akhirnya setelah dikeluarkan dari kotaknya pun lompatannya hanya setinggi kotak tersebut.

Kadang teman, keluarga, ataupun lingkungan membuatkan “kotak” untuk diri kita sehingga kita tidak bisa memaksimalkan potensi kita yang sebenarnya. Oleh karena itu, jangan pernah membatasi diri kita untuk sesuatu yang belum pernah kita coba!

iqbaldwibisono.blogspot.com

Related posts:

  1. Mimpi? apa masih ada dlm diri kita?
  2. Pelajaran tak terduga ;)
  3. Memotivasi Diri Melalui Rasa Percaya Diri
  4. Kita bicara tentang PERUBAHAN
  5. untuk diri sendiri

Leave a Reply