billy boen

“Pengalaman bukanlah guru yang baik”

April 29, 2011, by YOTCA. read: 2,327

halo :)

nama saya Stefanus Wibawa Young On Top Campus Ambassador Universitas Trisakti

Beberapa hari yang lalu saya baru beraktifitas kembali setelah istirahat total dari kondisi drop akibat sakit tifus yg menyerang saya sekitar dua minggu yang lalu.

Penyakit ini sangat menghambat tingkat produktifitas saya. Beberapa kegiatan penting harus saya tinggalkan, bahkan yang seharusnya saya ikut turut menjadi panitia dalam acara LOE harus saya delgasikan kepada panitia yg lain dan hanya dapat membantu dr jauh saja.

Saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan penyakit saya yang sama sekali tidak ada menariknya itu. Tetapi kepada sesuatu yg menarik perhatian dan menjadi bahan renungan tersendiri bagi saya ketika sedang sakit kermarin.
Ada sebuah tulisan di salah satu acc twitter (maaf saya lupa), yg menulis seperti ini:

“Pengalaman bukanlah guru yang baik. Suka telat!!!” (nah looo… )

Kita semua sudah tau mengenai salah satu dasar pemikiran dari Young On Top yaitu “kalau bisa sukses di usia muda, kenapa perlu menunggu sampai tua”?

Yup, kita memang sedang membicarakan hal itu. Billy boen dengan buku Young On Top telah berbagi mengenai 30 tips Sukses di usia muda. Kita tidak perlu lagi menyadari betapa pentingnya sebuah humor dalam hidup ini dengan sebuah kejadian atau pengalaman yang membuat kita berpikir “eh, bener juga yah… humor itu penting loh”. Atau kita tidak perlu menyadari betapa pentingnya sebuah “think big” dalam proses perjalanan hidup kita karena kita sudah terlambat menyadarinya, tetapi kita beruntung karena mengetahui itu dari membaca buku ini.

Sering kali untuk mengetahui atau mempelajari sesuatu kita di haruskan untuk terjun langsung dan mencaritahu dengan mengalaminya sendiri. Penelitian, riset, bahkan hingga gossip pun jika kita ingin mengetahuinya kita harus mencari tahu kebenarannya. Sekedar contoh lagi, Jika kita bukanlah seseorang yang humble, dan dalam perjalanan hidup kita hingga saat ini barulah kita menyadari betapa pentingnya humble supaya menjadi bagian dari diri kita, bukankah kita telat menyadarinya? So kita bisa mencari tahu hal-hal tersebut tanpa perlu mengalami suatu pengalaman tertentu yang baru selanjutnya kita mendapatkan “sesuatu dari pengalaman tersebut”

Oke simpelnya seperti ini, untuk apa kita secara pribadi mencari berbagai pengalaman untuk di pelajari jika dengan mudahnya kita bisa menanyakan hal tersebut kepada orang lain?

Tentunya dengan bertanya kepada orang-orang yang sudah jauh lebih berpengalaman dibandingkan dengan kita.

Kita bisa sebut mereka coach, orang-orang yang akan share kepada kita segalam macam pengalaman mereka kepada kita. Karena pengalaman mereka adalah guru yang terbaik bagi kita, pengalaman mereka tidak terlambat untuk kita.

Kita tidak perlu mengalami jatuh di lubang yang telah di lewati oleh “coach” , karena kita telah di berikan arahan yang jauh lebih baik dari pada yang telah di lakukan oleh mereka yang telah mengalaminya dahulu.

Tidak punya coach?

Ada banyak sekali buku-buku bagus di toko buku yang bisa menggantikan coach. Buku-buku yang sudah mengalami berbagai macam pembaharuan, perbaikan, revisi sana-sini. Buku yang dimana ilmunya sudah berumur ratusan tahun (seperti teori-teori pemikiran klasik) yang sangat masih bisa di aplikasikan di kehidupan kita yang sekarang.

Apakah cukup pengalaman kamu selama ini mengajarkan tentang moralitas, pola pikir hingga ilmu pengetahuan? Tidak!

Sebenarnya secara tidak sadar, di alam bawah sadara kamu sudah sangat mengetahui akan hal tersebut. Terbukti dari kamu membuka artikel ini, dengan membaca artikel, buku, atau link-link pengembangan diri seperti yang sedang kamu baca ini juga merupakan usaha kamu untuk mengembangkan diri, untuk belajar dari “invisible” guru, dari coach yang banyak tersebar diluar sana.

Sekarang tinggal kamu meyakinkan diri dan berusaha lebih untuk terus memiliki rasa haus akan pengetahuan (dalam hal apapun itu),  supaya tanpa pengalaman pun kamu dapat tetap mempelajari dan akhirnya menerapkan hal yang terbaik dan yang seharusnya.

So, apakah kamu sepakat kalau pengalaman itu bukan guru yang baik?

Cari tau, lebih dari apa yang kamu alami .

No related posts.

Leave a Reply