billy boen

PENGALAMAN KKP DI BREBES

October 12, 2011, by YOTCA. read: 1,511

Valentina Sokoastri YPT CA IPB Artikel Oktober..

Hallo semua, kali ini saya akan menceritakan tentang KKP saya atau kuliah kerja profesi yang dilaksanakan di Desa Ragatunjung, Kecamatan Paguyangan,  Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. KKP ini diikuti oleh seluruh mahasiswa termasuk saya yang dibagi atau di sebar di berbagai daerah di Indonesia Jawa dan Kalimantan. Kebetulan saya mendapat kelompok di Daerah Jawa Tengah namun sepanjang jalur Pantura, yang mana kebanyakan dari mereka memakai bahasa ngapak. (Inyong- Inyong) tau kan heheheee?

Selama disana saya dan ke tujuh teman, anggi, zai, tama, caca, susi dan kis tinggal di rumah ibu aisyah, ibu aisyah adalah seorang ibu berusia ± 50 tahun yang memiliki dua anak yang sudah menikan dan 1 orang cucu bernama bintang. Suasana disana sangat nyaman sekali walaupun kami harus tidur berumpal- umpalan, satu kasur 4 orang wheew J.

Saya membawa program socialpreneurship keripik bayam, yang mana menjadi pilot project dalam program tersebut. Selama disana saya melatih ibu- ibu khususnya ibu- ibu PKK untuk memproduksi kripik bayam yang kemudian bisa di jual untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Respon dari masyarakat tentunya cukup baik. Namun, terhalang oleh kemauan atau inisiatif dari masing- masing individu untuk mengembangkan Usaha kecil menengah ini yang masih kecil.

Saya teringat dengan Kepala Desa Ragtunjunh yakni Bapak Sjafe’i yang mana menjadi lurah yang baik dan menjamu mahasiswa dengan hangat. Waktu bulan puasa beliau menjamu kami untuk berbuka bersama dirumahnya serta mengajak kami untuk berdiskusi bersama. Pak RT pesawahan juga sangat baik sekali, beliau membantu kami dalam usaha program kami dan memberi support baik moril maupun financial (bibit cabe).

Untuk Berpergian ke luar desa cukup sulit karena angkutan kota hanya beroperasi sampai jam 2 siang, kemudian di ganti oleh ojek yang kami semua takut untuk menaikinya karena ojeknya yang sangar dan suka ngebut- ngebutan. Pernah saya naik ojek yang abang ojeknya sangat tempramental sehingga dia membawa motor dengan tidak hati- hati sekali dan meminta bayaran ojek tidak sesuai dengan kesepakatan L. Jadi kami kemana- mana menggunakan mobil bak terbuka yang panas sekali bila dinaiki, karena langsung menyengat matahari L tapi kami have fun aja heheheee.

Selain warganya yang ramah kami juga teringat dengan keluarga pak xx yang benar- benar ramah dan sangat ingin berbaur serta mendekati mahasiwa. Juga teringat dengan anaknya mba x yang hidup yang didibicarakannya kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Selidik punya selidik ternyata pak xx dulunya adalah tokoh PKI yang dulunya sangat mapan namun karena pristiwa G30SPKI hijrah ke desa itu dan mengganti nama agar tidak ada yang mengenalnya. Kondisi rumah beliau juga sangaat kotor sekali dengan kandang ayam dicampur dengan dapur. Keluaga ini sangat ramah sekali dengan mahasiswa dan sangat welcome terhada mahasiswa yang datang.

Setelah mendapat kabar tersebut kami perlahan menjauh dari keluarga tersebut karena laporan dari warga keluarga bahwa bila kami terlalu dekat takut didoktrin yang macam- macam. Tentunya hal ini menjadi fikiran bagi kami dan menurut hemat kami warga masih iri bila meliha mahasiswa cenderung untuk condong dekat dengan warga yang mungkin tidak disukainya.

Hal yang membuat kami paling betah adalah anak- anaknya di desa tersebut yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan senang untuk berbaur dengan kami. Anak- anak tersebut adalah hanung, intan, eva, serly, nurul, afnan, ojan, tasya, nia, heru, dan masih banyak lagi bahkan saya menjadi pengajar vocal group untuk mereka di penampilan perpisahan mahasiswa dan anak- anak.

Saya senang dan PD untuk berada disana dan membuat akan arti kebersamaan, saya kangen dengan mendoan makanan khas disana. Dan waktu saya berdiskusi dengan papa tentang pak xx papa bilang jangn menilai norang lain dari perkataan orang lain, mungkin masud pak xx adalah ingin bercerita dengan kami karena dulunya ia mahasiswa juga, namun itulah di pedesaan, kita harus pandai- pandai membawa diri agar kita tidak salah untuk melangkah

Related posts:

  1. “Pengalaman bukanlah guru yang baik”

2 Responses to “PENGALAMAN KKP DI BREBES”

  1. sugar queen says:

    mas, saya mau tanya, di ragatunjung sinyal yg paling kenceng apa ya mas? saya KKN disitu juga soalnya ;(

  2. You really make it seem so easy with your presentation but I find this matter to be really something that I think I would never understand. It seems too complicated and extremely broad for me. I’m looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!

Leave a Reply