Pursuit of Happiness
January 14, 2012, by YOTCA. read: 1,322
Bestari N. – YOT CA UI – Januari 2012
Ada yang pernah dengar Wilfred Oliver Segovia? Iya, saya juga belum pernah, hehe. Saya baru aja tau bahwa dia lulusan Harvard Business School angkatan 2010 dan seorang real estate entrepreneur yang berbasis di Philippines. Nah, doi bikin buku judulnya ‘Passion and Purpose’ dan sekarang saya lagi mengernyitkan dahi karena sebuah pemikiran yang diajukan dia.
‘To find happiness, forget about passion’
Waduh.
Coba deh perhatiin, mahasiswa sebagian besar tumbuh dalam lingkungan yang kontradiktif. Di satu sisi dunia mengajak kita untuk mencari passion atau mimpi dan mengikutinya. Di sisi lain, dunia juga mengajak untuk masuk ke perusahaan-perusahaan besar yang nama dagangnya bertebaran di setiap produk yang kita pakai. Tapi jauh di dalam hatinya, para mahasiswa ini berpikir wah beruntung sekali orang yang bisa mengikuti mimpi-mimpinya dan ah, betapa kasiannya orang yang bekerja nine to five di bawah tekanan bosnya. Tapi kemudian, saat para mahasiswa ini keluar dari zona nyamannya dan masuk ke dunia nyata berbekal ijazah sarjana, kebanyakan dari mereka akan luntur ideologinya dan menjadi seorang yang realistis demi menghindari untuk tergabung dalam jobless generation.
Saya mulai menyadari hal ini di tahun-tahun terakhir kuliah. Melihat bagaimana para senior saya banyak yang bekerja di luar negeri di bawah nama perusahaan yang mengucapkannya saja mesti selalu diikuti kata ‘wow’ atau mereka yang di dalam negeri di bawah perusahaan bonafid bangsa atau MNC yang mesti selalu diikuti kata ‘wow’ lagi atau mereka yang mengikuti passionnya menjadi seorang pengusaha kecil-kecilan atau mereka yang masih punya hati nurani dan kemudian membangun organisasi sosial. Semua pilihan itu bagi saya luar biasa dan tidak ada satupun yang salah atau benar. Semua pilihan itu akan jadi salah atau benar, tergantung dari kebahagiaan si penentu pilihan. Jika dia bahagia, maka semua benar.
Tapi justru karena itulah yang membuat saya jadi ketar-ketir sendirian, saya mesti pilih apa (padahal skipsi aja belum selesai). Kalau saya berdiskusi sama teman, senior, junior, mendengarkan para mentor di Young on Top, dll kebanyakan bisa dirangkum jadi: cari passion, cuy! Itu dia, hubungan saya sama passion tuh ga sehat, berganti-ganti pasangan mulu, semoga ga ada penyakit menular gara-gara itu #eh. Dan gara-gara saya belum berhasil menemukan passion, saya jadi susah happy. Makanya ini jadi urgent thing buat saya (dan kemungkinan besar buat kebanyakan mahasiswa lainnya).
Balik lagi ke bung Oliver Segovia. He propose a different frame of reference: Forget about finding your passion. Instead, focus on finding big problems. Menurut dia, saat kita melihat suatu problem sebagai pusat dari decision making maka semua akan berubah. Kita ga lagi fokus sama diri sendiri. Ini tentang apa yang bisa kita lakukan dan bagaimana kita bisa jadi valuable contributor. Dan orang yang bekerja di the biggest problem bakal dikompensasi in the biggest way. Bukan dalam arti finansial, tapi dari sisi terdalam manusia. Jadi saat kita menggeser attention dari diri sendiri ke dunia yang lebih luas, kita bisa menjadi lebih happy. Kabar baiknya, ada begitu banyak big problems: perubahan iklim, sustainability, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, teknologi, urbanisasi di emerging market, dll.
Mr. Segovia said: Happiness comes from the intersection of what you love, what you’re good at, and what the world needs. Dari tiga hal itu, kita sudah sering mendengar untuk terus mencari hal yang pertama. Di sekolah dan universitas, kita dibantu untuk mengembangkan hal yang kedua. Ini saatnya kita memikirkan hal yang terakhir. Masalah besar apa yang kita coba selesaikan?
Tau ga, selama saya nulis artikel ini, saya kepikiran satu orang: Leonardo Kamilius*. Senior itu benar-benar figur yang pas untuk merepresentasikan pemikiran Olivander Segovia. Menurut saya, kak Leon sudah berhasil menemukan tiga hal penting di atas dan saya percaya he’s absolutely happy now, isn’t he? I hope I can follow his footsteps in different path one day. And I wish the same thing to you, my friend, whoever is reading this. Let’s find our happiness!
*Leonardo Kamilius adalah alumni FEUI angkatan 2004, Mahasiswa Berprestasi FEUI dan UI, pernah menjadi Business Analyst di McKinsey dan Intern di P&G, pemilik Koperasi Kasih Indonesia, seorang inspirator bagi saya dan masyarakat Indonesia lainnya. Google namanya untuk lebih terinspirasi.
Related posts:



You made some decent points there. I seemed on the web for the difficulty and found most people will go along with along with your website.
I was suggested this website by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my trouble. You are wonderful! Thanks!Nice blog here! Also your web site loads up fast! What web host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my website loaded up as quickly as yours lol