Sebuah term Psikologi—Resiliensi.
August 2, 2011, by YOTCA. read: 2,188
Notes from Clarissa Rizky (YOT CA UI)
Pernah gagal? Saya pernah, sering bahkan. Tanyakan pada semua orang sukses di bidangnya masing-masing, saya jamin 70 % dari mereka pernah merasakan apa yang namanya kegagalan. Bicara mengenai kegagalan, beberapa minggu yang lalu saya tersenyum lebar ketika salah satu sahabat saya mengirim pesan di BBM bahwa ia diterima di sebuah organisasi pemuda bernama Indonesian Future Leader. Rasanya bangga aja melihat dia berhasil dipercaya dari ratusan orang yang daftar untuk duduk di jajaran organisasi tersebut. Dunia anak muda yang punya orientasi untuk memberikan kontribusi nyata ke negara ini itu merupakan hal baru buat dia ataupun saya. Willingness to learn & to grow cause we’ll never be as young as we are today—mungkin jadi alasan sederhana kenapa akhirnya kami ikut organisasi yang mungkin orang lain pikir cuma buang-buang waktu dan mengganggu kuliah.
Keluar dari zona nyaman? Mungkin term yang lebih tepat adalah membuat zona nyaman baru. Walaupun dalam ngejalaninnya nggak mudah—ada banyak orang dan kejadian yang bikin kami sempat merasa kalau sebenarnya kami belum ngelakuin apa-apa di usia yang udah kepala dua ini. Perasaan minder dan inferior yang manusiawi seperti yang saya rasakan di meeting perkenalan Young on Top Campus Ambassador 2011-2012 juga dirasakan sahabat saya ketika dia mau interview & Focus Group Discussion untuk seleksi Indonesian Future Leader (IFL). Dia yang pernah gagal untuk diterima salah satu organisasi internasional di tahap yang tersebut sedikit banyak panik karena perasaan manusiawi yang saya yakin kamu juga punya: takut gagal. Lagi.
Di saat-saat kayak gini, kita butuh yang namanya Resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan untuk semacam bounce back, coping, atau sederhananya beradaptasi dengan keadaan yang sulit untuk bangkit untuk mengatasinya. Lazarus dulu menganalogikan resiliensi dengan logam, yang tidak seperti besi yang mudah patah, mengandung banyak karbon, sehingga lebih fleksibel dan mudah dikembalikan ke bentuk semula meskipun sudah jatuh.
Kayaknya kita semua butuh resiliensi yang tinggi, ya? Kenapa? Karena kita nggak tahu kegagalan akan membawa kita kemana. Kalau saya dulu diterima di jurusan IPA, mungkin saya akan masih mengejar mimpi jadi dokter gigi & mungkin nggak akan sanggup melewati seleksi masuk FKG UI yang katanya super sulit itu. Saya juga tau biaya untuk sekolah di Fakultas Kedokteran universitas swasta itu mahal, dan orang tua saya juga belum tentu mampu biayain saya kuliah di sana. Hal pertama yang saya pelajarin dari kegagalan yang paling berpengaruh dalam hidup saya ini adalah kalau Tuhan memang yang paling tau mana yang terbaik buat saya. Berada di jurusan Psikologi adalah salah satu hal terbaik dalam hidup saya. Tujuan utama saya untuk bisa bekerja dengan waktu yang fleksibel sekaligus dapat membantu orang lain sambil melakukan pekerjaan itu tetap bisa tercapai jika nanti saya sudah menjadi seorang Psikolog anak. Jadi, Tuhan memang nggak salah untuk ngebiarin saya gagal waktu itu.
Kembali ke sahabat saya, kegagalannya diterima di organisasi itu membawa dia diterima di IFL, tempat yang ia yakini dapat membawa banyak perubahan bukan cuma untuk dirinya—tapi juga untuk orang lain. Seperti saya yang dulu gagal untuk diterima di Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultas saya, ternyata malah membawa saya ke keluarga besar Young on Top Campus Ambassador yang luar biasa. Belum dua bulan saya bergabung, pandangan saya soal banyak hal sudah berubah.
Jadi, jangan takut gagal ya. Simply ‘cause we never know where the failure will send us to.
Clarissa Rizky
Young on top Campus Ambassador 2011-2012 – Universitas Indonesia
www.clarissarizky.blogspot.com / @clarissarizky
No related posts.



