Saya Belajar dari Ibu Desi

Published May 9, 2017 by Billy Boen | Category : ENJOY MY NOTES

WhatsApp Image 2017-05-09 at 12.57.47 (3)

WhatsApp Image 2017-05-09 at 12.57.47 (2)

WhatsApp Image 2017-05-09 at 12.57.47 (1)

Weekend kemarin, saya berdua wifey naik mobil cari makan pagi. Sempat bingung karena bakmi yang kami tuju ternyata masih tutup. Sempat muter-muter di area Cikini Menteng, dan masuk ke sebuah gang. Saya berenti sejenak dan ceritain ke my wifey, “Ini tempat saya makan siang di hari pertama saya kerja, ketika di Nike!” Mata saya berbinar-binar karena merasakan nostalgia hari itu. Saya makan padang, sampe dikasih sama si Ibu penjualnya 2 piring karena saya pesennya banyak. Sempet digigit kucing karena si kucing minta makan, tapi tulang ayamnya saya gerogotin sampe bersih. :) Dan seluruh yg makan siang itu nengok ketika si Ibu bilang, “Totalnya Rp19ribu”. Kala itu, makan padang warteg segitu termasuk banyak. Saya pun sadar kenapa pada nengok, karena rata2 yg makan disitu cuma nasi (pake sayur gratisan) dan 1 telor ayam. Next time saya ke situ, saya pun menyesuaikan diri, cuma nasi + ayam + telor dadar.

Ketika saya selesai cerita, pas lagi mau jalan, my wifey bilang, “Let’s eat there!” Saya pun langsung matiin mesin mobil dan langsung ke warteg yang sudah buka. Bukan warteg padang yang saya ceritain, beda. Saya dan wifey melahap makanannya yang super enak itu. Di sejejeran warteg itu, cuma warteg Bu Desi yang sudah buka. Saya dan wifey pun saling nebak, sejak jam berapa mereka buka. Kagum karena dia yang paling rajin. Hari Minggu, jam 8.30 sudah buka. Jadi kami berdua pun nebak, mungkin jam 8 dia sudah berjualan. Penasaran, kami pun nanya ke Bu Desi.

Bu Desi jawab, “Sejak jam 5.30 pagi. Saya sampai sini jam 3 pagi. Masak. Pulangnya malam jam 8. Beres2, trus pulang. Rumah dekat pasar bunga Cikini. Jam 9 sudah tidur. Besoknya jam 3 lagi bangunnya. begitu terus. Buka setiap hari. Kalo Lebaran tutup beberapa hari aja.”

Terdengar biasa. Yang ngga biasa adalah RAUT MUKANYA dan CARA DIA MENYAMPAIKANNYA! Raut mukanya sambil senyum, tidak ada unsur mengeluh sama sekali. Cara penyampaiannya juga dengan ceria. Dia bangga banget dengan rutinitasnya. Saya dan wifey saling liat2an dan langsung tergakum2. Makanya saya sampe minta foto sama Bu Desi. Selesai foto, dia bilang ke saya, “Ngga bisa senyum, saya tegang.” hihihi lucu banget.

Sepanjang jalan pulang, kami berdua membahas PELAJARAN yang kami berdua terima dari seorang penjual warung tegal bernama Bu Desi. Saya bilang ke wifey, “Kita seperti hari ini, masih merasa kurang. Masih mendambakan ini itu. Kadang kita ngeluh dan ngerasa hidup ini berat. Sementara Bu Desi, hepi banget dan bangga banget jualan warteg setiap hari di Jl. Ciliman, Cikini, Menteng”.

Bu Desi sudah ngerasa “ENOUGH IS ENOUGH” alias cukup. Hebat. Dia mampu untuk bersyukur. Dia bangga. Dia bilang, “Anak-anak saya sudah punya warung nasi semua. Ada yang di Bekasi.” Yang bantuin dia (ada di foto) itu salah satu mantunya.

Saya dan wifey sangat bersyukur karena ketemu, ngobrol, dan bisa kenalan sama Bu Desi. Sepanjang hari itu, dan hingga sekarang, saya masih terkagum2 sama attitude-nya Bu Desi. Penuh syukur. Rajin. Ngga minta-minta. Ngga mengeluh. Terus berkomitmen untuk masak buat orang2 dengan seenak-enaknya. Mau tau dia jualan di situ sejak kapan? 1990! Saya cerita dulu sering makan di Jl. Ciliman, dia bilang, “Memang banyak banget dari Nike dan Grup CCM yang makan di sini. Saya jualan sejak 1990, sebelum Gedung CCM dibangun.”

Tuhan berkati orang2 seperti Bu Desi. Dan TERIMA KASIH sudah memberikan pelajaran dan mengingatkan saya dan wifey dengan cerita (dan cara menceritakannya) hidupnya yang simple.

Ayo #BersyukurTerus

Billy Boen

No comments yet

Leave a Reply