Sebuah Kisah Menarik: Kaki Saya dan TransJak*rta
October 3, 2011, by raffamuttaqin. read: 453
5 Agustus 2011
Pukul 17.17 WIB saya sudah siap 100% untuk pulang. Berniat buka puasa, sholat maghrib dan tarawih seperti biasanya.. Sewaktu keluar dari pagar area perkantoran, angkot sudah hampir meninggalkan saya. Untung Bapak Satpam berbaik hati membantu menghentikan angkot itu. Ya. Berlalu seperti hari – hari kemarin lagi. Angkot M17 yang berhenti di pertigaan, kemudian bersambung ke angkot M17 lainnya yang menuju belokan halte busway depan Kementerian Pertanian RI.
Sampai di halte pun tidak ada yang istimewa. Hanya segerombolan orang yang sedang berkerumun di pojokan menunggu busway datang. Aku pun bergerak tenang ke arah sana. Menyempatkan duduk dulu. Mengistirahatkan kakiku yang agak capek. Sudah pukul setengah enam lebih. setengah jam lagi buka. Tidak lama kemudian aku lihat supervisorku, Mas Tommy, yang tadi pulang di belakangku, sudah sampai disitu. Dia sibuk dengan BBnya, mungkin mengontak istrinya yang sudah/sedang menunggunya di Semanggi.
Satu busway pun datang. Aku beranjak berdiri. Posisiku ada dibelakang. Beberapa orang telah masuk. Aku pikir tidak akan sampai di posisiku. Orang yang berada di depan pun sudah tidak mau masuk karena busway sudah penuh. Yah, orang itu. Orang yang satu angkot dengan aku saat menuju kle halte ini. Satu bangku malahan, di samping pak supir yang sedang bekerja mengendarai angkot supaya baik jalannya. Orang itu cukup nyentrik. Tinggi besar dan kulit agak gelap. Dia memakai tutup kepala seperti orang-orang India dan Timur Tengah. Aku pikir dia bukan orang Indonesia.
Tapi tiba-tiba Mas Tommy merangsek masuk dari belakang. Satu dua orang pun mengikutinya menembus pria eksentrik tadi. Ya. Itulah orang-orang terakhir yang masuk ke dalam busway.
Keadaannya sungguh berbeda dengan pagi tadi. Saat aku dan busway yang aku tumpangi sampai di halte Kuningan Timur. Pintu busway terbuka beberapa saat, lalu mulai menutup. Disitu aku lihat Mas Tommy berlari agak cepat ke arah pintu. Namun apa daya busway sudah mulai berjalan. Dia gagal naik. Dan sekarang situasinya berbalik. Aku yang gagal naik. Ah, aku pikir beberapa menit lagi akan ada busway lagi di belakang.
Beberapa saat berlalu. Aku menyibukkan diriku dengan HPku. Lalu terasa terpaan angin menerpa wajahku. Mengagetkanku. Itulah busway kosong yang tidak mau berhenti di halte ini. Mencari penumpang di halte-halte yang ramai seperti Kuningan Timur, GOR Soemantri, atau Dukuh Atas. Aku pun melangkah ke posisi terdepan. Disampingku masih berdiri pria berkopiah Timur Tengah tadi dengan BB dan HP Nokia sederhana miliknya. Membunuh waktu dengan bercengkerama dengan orang-orang di dunia maya.

Aku melihat ke arah selatan. Berharap ada busway lewat lagi. Beberapa menit lagi maghrib. Para calon penumpang pun juga berpikiran sama dengan ku. Melongo ke kiri berharap ada cahaya lampu busway melambai-lambai. Ya. Tak lama kemudian busway pun datang. Tapi agak kencang. Dan benar. Dia juga tidak berhenti disini. Aku pun agak khawatir, orang-orang sudah mulai banyak mengantri sampai ke belakang. Ibu-Ibu dengan anaknya, orang tua, warga negara asing dan juga para karyawan.
Aku melihat ke belakangku. Ada ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya datang. Ibu yang tadi juga satu angkot denganku. Dia menelepon agak keras. Bingung antara dia yang ke tempat anaknya atau anaknya yang kesini. Dia memutuskan anaknya lahg yang kesini. agar tidak terpisah dengan Ibunya sewaktu pulang. Aku pikir anaknya masih cukup kecil, belasan tahun lah. Dari muka ibu itu yang cemas, mungkin anaknya menunggu di halte berikutnya.

Adzan berkumandang sayup-sayup. Aku pertama-tama tidak yakin kalau itu adzan, aku agak ragu. mungkin itu imajinasiku yang menantikan waktu berbuka. Namun ternyata itu benar-benar adzan. Penanda waktu sholat telah tiba. Masjid lain pun mengumandangkannya dengan lebih jelas dan keras. Aku pun berbuka. Dengan sebutir permen yang sengaja aku siapkan tadi pagi. Aku pikir air minumku tertinggal di kamar. jadi aku memutuskan membatalkan puasaku dengan permen saja, daripada repot-repot membuka tas untuk mengecek air minumku. Sementara penumpang lain berbuka dengan air minumnya masing-masing, air putih, susu, minuman rasa jeruk, dan lain-lain.
Ibu-Ibu tadi pun cemas melihat ke arah pintu masuk halte, mencoba melambai-lambai ke anaknya. Kerumunan sudah semakin banyak. Dia mencoba berjinjit, namun tidak memanggil anaknya. Hanya isyarat tangan yang bicara. Hari sudah semakin gelap. Mentari hanya menyisakan pancaran merah jingga ke angkasa. Hanya langit barat yang masih sedikit bisa bercahaya. Dihiasi cahaya lampu dan suara mesin kuda-kuda besi yang menghiasi jalan raya.
Aaah… Akhirnya dari arah selatan terlihat semburat cahaya dari jalur khusus busway. Aku mulai tersenyum. Akhirnya ada lagi yang datang. Sudah pukul 18.03. Aku bersiap naik, para calon penumpang lain mulai merapat ke depan. Namun mendadak semua yang ada disitu terkejut tiada terkira. Busway tersebut LEWAT BEGITU SAJA. Itu busway KETIGA yang “tidak melihat” eksistensi Halte Dept.Pertanian yang sudah dipenuhi penumpang ini.
“Oowww… Sh*t!!”
Aku tidak sengaja memaki. Kata kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Wanita yang di sebelah kananku juga sebal dan marah-marah sendiri. Sementara orang dengan ikat kepala India di kiriku hanya tersenyum di sebelah kiriku. Ibu-Ibu yang dibelakang mulai marah-marah juga. Tidak hanya satu. Banyak yang kesal karena sudah lebih dari setengah jam disini “dicuekin” oleh supir-supir nakal TJ.
Salah satu Ibu-Ibu protes ke depan. Beberapa orang mendukungnya. Beberapa saat kemudian dia kembali. dan berkata “Iya. Setelah ini akan berhenti disini. Sudah dihubungi ke sananya” Beberapa penumpang pun mulai reda amarahnya dan kembali berharap, menunggu.
Aku mengecek tasku, siapa tahu air minumku sebenarnya ada di dalam tas. Tangan kananku merogoh ke dalam. Aku merasakan ada plastik bulat berbentuk tabung. Ya! Itu botol minumku. Alhamdulillah. Ternyata pikiranku salah. Aku minum satu teguk. Cukup untuk melepaskan dahaga dan mendinginkan pikiran.
Pria eksentrik tadi lalu memulai pembicaraan, dengan menatap ke depan “Saya dulu juga pernah kaya gini, Mas. Tapi di koridor 3. Nama haltenya apa yaa…? Sya lupa.. Ya pokoknya mirip kaya gini. Biasanya, satu halte setelah pusat (halte akhir), itu memang buswaynya lewat – lewat saja. Dia pikir busway di belakangnya yang akan mengangkut penumpang”
Lalu aku menanggapinya “Tapi ini udah keterlaluan, Mas. Udah 3 busway lewat begitu saja..”
“Saya dulu lebih banyak Mas.. 23 busway lewat!!” Aku tidak mempercayai perkataannya yang ini.
Aku sambung saja “Jadi busway – busway tadi lewat itu menganggap bahwa busway di belakangnya akan mengangkut kita? Padahal busway yang di belakangnya juga berpikiran sama. Busway yang dibelakangnya lagi lah yang harus mengangkut kita.. Dan begitu seterusnya sampai ga ada busway yang berhenti disini karena berpikir yang di belakangnyalah yang harus mengangkut kita. Gitu Mas?”
Dia menjawab. “Ya. memang kala halte setelah halte pusat (halte terakhir) itu seperti itu..”

ilustrasi gambar
Aku diam. Dari tadi sebenarnya aku berpikir untuk turun ke jalur busway, membentangkan tangan di tengah jalan agar buswaynya berhenti dan tidak lewat-lewat lagi. Saya kasihan dengan ibu-ibu dan bapak2 yang sudah tidak muda lagi menunggu lama di shelter, sementara mungkin (beberapa diantara mereka) berpuasa juga. Juga pada anak-anak kecil yang terpaksa ikut menunggu lama untuk pulang. Banyak pula karyawan yang ingin segera pulang dan menikmati makan buka bersama keluarga setelah satu pekan bekerja. Dan hal yang paling mengganggu pikiran saya adalah, saya takut kehabisan waktu sholat maghrib atau mungkin telat sholatnya, lalu sudah pasti tidak bisa mengikuti sholat tarawih berjamaah di masjid seperti biasanya.
Beberapa menit kemudian, satu busway datang. Tapi lagi-lagi HANYA LEWAT! Ya, seperti di permainan monopoli. HANYA LEWAT. Para penumpang sudah menjadi-jadi kesalnya.
“BALIKIN AJA TIKETNYA. UDAH BALIKIN!” teriak salah satu penumpang..
“Bener-bener gila ya ini..” Wanita disamping saya ikut berkomentar, sementara ibu-ibu di belakang sibuk menggerutu tidak karuan. Ibu-ibu yang tadi protes ke petugas busway di loket kini kembali mendatangi petugas tersebut. Protes bla-bla-bla-dan-bla…
“Tulis surat protes aja kalo gitu.. Tulis surat rame2 kita” ada lagi yang usul seperti itu.
Ah situasi sudah tidak mencerminkan suasana ramadhan lagi.. Yang sabar masih bisa bersabar. Tapi kebanyakan sudah kehilangan kesabaran. Para penumpang tidak mendapatkan pelayanan yang sebagaimana mestinya, sebagai seorang costumer. Hmmm. . .
Satu lagi busway datang. Ah, Yang Diatas sedang menguji kesabaran kami ternyata. Sekali lagi, HANYA LEWAT. Ini busway KEEMPAT. Aku pun kehabisan kata-kata untuk kembali menceritakan tragedi ini. Aaaaahhh. . .
Beberapa saat kemudian, Aku melihat ke kanan. Lampu merah menyala. Semua kendaraan berhenti. Tertib. Lalu ku palingkan kepalaku ke arah kiri. Sepasang cahaya terang dari ujung jalan datang. Ah, ada busway lagi. Aku sudah kehilangan semangat dan kepercayaan.
“Paling-paling lewat lagi…” Begitu keluhku.
“Gitu Mas kalo lampu merah nyala. Busway biasanya berhenti agak jauh dari lampu lalu lintas. Begitu udah ijo, langsung deh tancap gas..” Aku bercerita berdasarkan pengalamanku ratusan kali naik busway ke sana kemari.
Busway memang berhenti. Mungkin sekitar 20m dari rambu lalu lintas. Supir busway memainkan lampu busnya, hidup-mati hidup-mati. Itu pertanda sesuatu. Tapi aku tak tahu apa. Kami pun mencoba melambaikan tangan dan memberi aba-aba agar dia berhenti disini.
Teeettt…teetttt…. Suara klakson silih berganti berbunyi. Lampu merah sudah berganti hijau ternyata. Semua kendaraan mulai melaju, tak terkecuali busway transjakarta. Entah kenapa, menurutku, lajunya agak kencang untuk sebuah busway yang ingin berhenti di shelter.
Ide unik pun muncul. Bapak-bapak bergaya India tadi tanpa instruksi siapapun tiba-tiba mengangkat kakinya ke depan, lurus sejajar bumi, setinggi perut. Dia sudah berada di tepian pintu halte bersama ku. Mengabaikan resiko kakinya akan tertabrak kalau buswaynya tidak berhenti. Cukup berbahaya memang, tapi kau tau maksudnya. Aku pun lantas membentangkan kakiku jauh-jauh kedepan, menutup sebagian jalur busway. Kami pun tanpa sadar memainkan kaki kami, sedikit menggoyang-goyangkannya sambil berdiri dengan kaki yang lainnya. Kami menikmatinya!
Sudah pukul 18.26. Kami tidak ingin ada busway yang lewat-lewat lagi. Saya tidak tahu bagaimana ekspresi para pengantri di belakang melihat tingkah kami berdua. Mungkin kaget, shock atau bahakan tertawa kecil. Yang saya tahu, pak supir busway tersenyum pada kami. Sedikit menahan tawa agaknya. Beliau dan buswaynya akhirnya berjalan lebih pelan dan berhenti.
ilustrasi
Petugas yang berjaga di pintu busway pun berkata lantang, “Maaf ya. (petugas2 Transjakartanya) Lagi pada buka puasa di Ragunan…” Serentak kata-kata itu disambut sorakan kecewa dari para penumpang..
“Huuuuuuuuuuuuuuu……………..!!!!”
Akhirnya kami semua bisa masuk. Aku duduk di seberang pintu. Di sebelahku ternyata ada ibu-ibu dan anaknya yang tadi sempat terpisah kini duduk berdampingan. Beberapa saat kemudian si anak sudah tertidur bersandar pada ibunya. Dia tampak lelah, tapi entah kenapa saya melihat mukanya tenang dan agaknya mencerminkan rasa lega setelah menunggu lama bersama kami semua. Pulas dia tertidur, bahkan sampai saya turun di Kuningan. Harusnya dia tak menunggu selama itu, harusnya dia sudah bisa beristirahat di rumahnya… Tapi sekali lagi, raut mukanya entah kenapa bisa menenangkan hati saya. Lega akhirnya dia, kami semua bisa naik dan pulang ke rumah masing2.
Dan pengalaman unik dengan pria eksentrik menutup sebagian jalur busway dengan satu kaki tadi benar-benar tak terlupakan bagi saya..
Moral of the story:
Seperti semboyan salah satu klub sepakbola favorit saya “Audere est facere”. To dare, is to do! Terkadang kita tidak boleh hanya diam dan bersandar pada nasib kita. Tanpa berusaha. Ada suatu titik jenuh dimana kita harus berdiri dari sebuah kepasrahan dan bergerak untuk mengubah nasib kita. Bukankah Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu mengubah keadaannya sendiri?
Terkadang memang beresiko, kawan. Tapi sebuah keberanian, ide-ide unik dan kreatifitas kerap bisa memperbaiki apapun yang tersumbat. Anda mungkin ditertawakan banyak orang, tapi ingatlah, selama yang kita lakukan bukan hanya untuk kita saja, akan ada lebih banyak orang yang tersenyum pada kita.
TO DARE IS TO DO!!
Think Out of The Box!
And your problem will be no longer a problem..
Terima kasih telah membaca,
Salam hangat dari saya. . .
Raffamuttaqin
also available in:
My Facebook Note : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150265057363736
Related posts:
- Otak dan Kisah ‘Gajah Memakai Kaus Kaki Berwarna Biru’
- Kisah Sukses Lee Myung Bak
- Kisah Penjual Keledai
- Dari Film Saya Belajar Kritik
- Kisah seorang ibu tua renta yang tabah



baru baca artikel ini dan komentarku: kenapa ngga lewat aja ya buswaynya pas kakak lagi melambai2kan kaki? kan ngga sopan? haha
*just a joke
nice share
keep writing,,
-.-a
)
nakal yaa sekarang.. >.<"
anyway tengkyu, ay…
keep reading..
suatu hari saya di tanya oleh salah seorang pengguna kaki palsu ” Dimana tempat pembuatan kaki palsu yang nyaman dan kualitas bagus , sebab kaki palsu saya sudah rusak !!!!!
lalu saya sarankan untuk jpoc ( Jakarta Prosthetic & Orthotict Center ) murah dengan kualitas dan barang sangan canggih dan modern lihat aja di http://www.jpoc-indonesia.com
keren banget