Sugar Free Vs. Teh Pahit
December 28, 2010, by Yonatan Bhakti. read: 3,197
Saat saya sedang menikmati makan siang, di seberang meja saya terdengar seorang anak kecil, yang saya tebak berusia sekitar 10 tahun sedang menggerutu kepada ayahnya, “Ga mau, pait, pait…“ Rupanya sang ayah sedang membujuk anak tersebut untuk menghabiskan teh tawarnya saat mereka hendak beranjak meninggalkan meja.
Saya terus memperhatikan ketika mereka berjalan melintasi meja saya. Saya sempat melirik ke arah anak laki-laki tersebut yang bertubuh tambun (baca: subur alias gemuk) ketika ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Ternyata, dia mengeluarkan kotak permen yang biasa dijual di supermarket dengan tulisan: Sugar Free!
Saat ini memang banyak dijual produk-produk makanan dan minuman yang di-claim dengan label sugar free atau rendah kalori. Tanpa bermaksud memprovokasi kamu, saya sama sekali tidak anti dengan produk-produk tersebut, hanya saja, dengan membiasakan mengkonsumsi produk-produk tersebut, kamu sebenarnya sedang memanjakan lidah kamu untuk cenderung memilih makan yang manis-manis.
Mungkin bukan produk-produk tersebut yang akan meningkatkan kadar gula dan memicu penyakit, tetapi produk makanan dan minuman yang berkalori tinggi. Hal ini merupakan fenomena menarik di zaman sekarang, di mana banyak diantara kita yang ingin hidup lebih sehat tapi tidak rela untuk meninggalkan kenikmatan rasa manis itu sendiri (sebetulnya ini sah-sah saja). Kamu akan sadar bahwa nasi putih itu terasa manis di lidah apabila kamu sudah membiasakan makan nasi merah.
Baru-baru ini, saya mampir di sebuah cafe kecil yang terdapat di dalam sebuah shopping mall di dearah Kelapa Gading. Cafe tersebut menawarkan makanan yang di claim terbuat dari bahan-bahan organik. Saya pun penasaran dengan pilihan yang ada di daftar makanan mereka yang disebut omelet (telur dadar).
Agak terkejut saya melihat mbak-nya mengeluarkan sebungkus kotak dari dalam laci dan mulai mengeluarkan kemasan yang ada di dalamnya. Saya pikir itu tadi mungkin bumbunya tapi itu ternyata adalah omelet itu sendiri! Tidak kurang dari 10 menit omelet telah siap disajikan.
Saya menatap dalam-dalam omelet yang berukuran selebar telapak tangan itu, agak ragu-ragu saya mau menyantapnya. Saya pikir saya adalah orang yang sudah terbiasa dengan makanan sehat yang biasanya terasa plain , kurang garam atau hambar, tapi kali ini saya harus benar-benar membujuk mulut saya untuk mau menelannya, luar biasa aneh rasanya!
Sementara saya berjuang menghabiskan makanan saya, mbak-nya memperhatikan saya kemudian menghampiri saya. Dia tersenyum lalu menyapa, “Bagaimana Pak, enak?” Saya sungguh merasa bersalah ketika menatap wajahnya, karena saat itu yang terlintas di benak saya, ”Abis ini mendingan gw makan Fat Burger!”
Hal ini mengingatkan saya, beberapa bulan yang lalu Time magazine menurunkan tajuk utamanya; “The real cost of Organic Food” yang memaparkan upaya orang –orang pada era ini rela merogoh koceknya lebih dalam untuk produk-produk makanan organik yang lebih sehat. Namun pada kenyataanya, berdasarkan penelitian, kandungan nutrisi beberapa produk-produk organic tersebut tidak jauh berbeda dari produk-produk yang konvensional (non organic).
Saya sendiri tidak terlalu yakin kalau saat ini orang Jakarta benar-benar sudah memerlukan produk-produk makanan seperti saya sebutkan di atas. Saya berpendapat, untuk kita yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, persoalannya adalah kita sudah jarang makan di rumah! Salah satu biang keladinya bisa jadi adalah kemacetan lalu lintas. Beberapa dari kamu bahkan tidak sempat lagi sarapan di rumah karena mengejar waktu. Sebagian besar orang hanya sempat numpang tidur di rumah karena sebagian harinya habis di jalan. Karena alasan menunggu kemacetan, banyak orang menghabiskan waktunya berjalan-jalan di mall, dan makan di food court.
Adik-adik kita yang masih kuliah terpaksa kost supaya lebih dekat dengan kampus. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, ibu penjual warung tegal di sekitar kost dan kampus mungkin telah menjadi ibu mereka yang kedua.
Memang menjadi sangat ironis karena urusan nutrisi yang sangat essential untuk kesehatan, terpaksa kita serahkan kepada pilihan makanan yang ada di food court, warteg bahkan cafe-cafe. Yang lebih ironisnya lagi, kalau kita perhatikan di food court, walaupun masih banyak pilihan makanan tradisional, tetap saja gerai-gerai fast food dari luar negeri yang paling ramai dikunjungi. Padahal di negara asalnya makanan-makanan tersebut sudah terbukti memicu terjadinya epidemik obesitas!
Saya tidak mengatakan bahwa kalau kamu makan di rumah, lalu kebutuhan nutrisi kamu pasti terpenuhi. Tapi saya yakin orang tua kamu di rumah akan lebih care terhadap kesehatan kamu dengan menyiapkan makanan yang lebih higienis daripada makanan yang disajikan oleh pemilik-pemilik gerai makanan yang ada di mall-mall dan warteg.
Saya sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Jeffrey Rachmat, seorang pemimpin jemaat: ’’Untuk urusan kesehatan, banyak orang memilih membayar di belakang, tetapi saya lebih memilih membayar di muka, dan biasanya orang yang membayar di belakang, membayar lebih mahal, karena kalau kita sudah sakit biayanya akan jauh lebih besar.’’
Do not waste your reward of success for medication bills of your illness!
Yonatan Bhakti
Twitter: @yonatanbhakti
Related posts:
- Makanlah Sebelum Engkau Lapar, Berhentilah Sebelum Engkau Kenyang
- Start Leading Now
- Why I’m Writing YOUNG ON TOP
- Memotivasi Diri untuk Membuat Perubahan Positif
- Ngga Bisa atau Ngga Benar2 Mau?



wah.. info yang menarik tentang nutrisi dalam makanan organik…
namun sering juga orang tua kita sibuk sehingga tidak sempat memasak di rumah…
tapi ada sisi positifnya juga.. skalinya masak biasanya masak rame2 sekeluarga.. trus makan rame2 juga…
lebih menyenangkan dibanding restoran manapun
artikel yang menarik !! perkenalkan saya mahasiswa teknik yang senang berbisnis dan mencoba hal baru.. saya mau nambah sedikit info untuk sayuran organik,, mungkin kandungan gizi dalam sayuran konvensional (seperti yang anda katakan) dan sayuran organik tidak jauh BERBEDA (saya masih menganggap kandungan gizi sayur organik lebih tinggi), tapi apakah anda tahu perbedaan kandungan racun kimia (hasil dari pestisida) antara sayuran konvensional dan organik ?? bahan-bahan kimia dari pestisida (racun) yang masih melekat dan diserap oleh sayuran tersebut akan ikut ketika kita mengkonsumsi sayur tersebut, jika sistem imun kita kuat mungkin racun itu bisa dinetralisir, tapi ketika penggunaan pestisida itu berlebihan atau bayangkan ketika kita mengkonsumsi sayuran seperti itu dalam jangka panjang. Mungkin saat ini belum terasa, tapi kita akan merasakan efeknya di kemudian hari. Dan tahukah anda bahwa racun kimia yang ikut pada sayuran dan buah yang menggunakan pestisida adalah salah satu penyebab kanker, ADHD pada anak, gangguan sistem saraf, gangguan tiroid dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Tidak heran kangker menjadi salah satu penyakit paling mematikan di indonesia.
no offense bray, just my simple opinion,,
salam sukses,,
This is a fantastic blog, will you be interested in doing an interview about how you designed it? If so e-mail me!
Howdy! I know this is somewhat off topic but I was wondering if you knew where I could find a captcha plugin for my comment form? I’m using the same blog platform as yours and I’m having trouble finding one? Thanks a lot!