Sukses Tidak Memandang Asal Usul
May 20, 2011, by YOTCA. read: 2,118
Perkenalkan nama saya Indra Sugiarto / YOT CA IPB
Sukses seseorang jelas tidak memandang latar belakang, kemauan yang keras visi hidup kita yang kuat-lah yang berpengaruh besar akan jadi seperti apa kita nanti. Berikut saya ingin share sebagian pengalaman hidup saya (yang saya singkat2 biar ga kepanjangan, hhe), semoga bisa menginspirasi sahabat muda semua…
Kelas XII SMA, topik utama yang muncul diskusi antar teman tentu adalah mau ngelanjutin kuliah dimana setelah lulus?? atau enaknya ambil jurusan apa yaa, atau hal-hal lainnya terkait dunia kampus nanti. Dengan penghasilan ayah saya yang di bawah 1 juta dan memiliki 6 orang anak, saya sama sekali tidak berani mendiskusikan pilihan kampus ataupun jurusan setelah lulus kepada orang tua Apalagi mengingat 2 kakak saya tidak melanjutkan kuliah krn faktor biaya dan hanya sebagai lulusan SMK, dan saya masih memiliki 3 adik lagi yang harus disekolahkan ayah saya. Sama sekali tidak terfikir untuk membebani beban orang tua saat itu. Namun, entah mengapa pada akhirnya saya memasukan berkas lamaran USMI IPB (SNMPTN) undangan kalau sekarang namanya), lolos tidak lolos masalah nanti. Yang ada dipikiran saya waktu itu dunia kampus akan memberikan kesempatan yang jauh lebih luas untuk sukses.
Pengumuman USMI IPB alhamdulilah menyatakan saya lolos masuk IPB hanya berdasarkan nilai rapot dan sertifikat2 yang saya kumpulkan, betapa senangnya saya saat itu. Biaya masuk untuk regristasi 6,8juta, teman-teman dan guru saya mengatakan itu biaya yang murah untuk masuk kampus ternama jadi sangat mendukung saya mengambil IPB. Tapi ayah saya dengan berat hati menolaknya karena dia tidak tahu harus meminjam kemana uang sebanyak itu dan kalaupun dapat bagaimana mengembalikannya, belum nanti biaya hidup dan kuliah di Bogor tentu tidak sedikit.
Saya paham betul kondisi keluarga saat itu dan tidak berani melawan, apalagi kesehatannya semakin menurun dan kapan saja bisa berhenti dari pekerjaannya jika bertambah parah. Tapi semakin hari menuju deadline regristasi ulang di Bogor, entah kenapa hati saya semakin dikuatkan untuk mengambil PMDK tersebut, sampai akhirnya saya dan ayah saya memutuskan untuk melakukan negosiasi pembayaran biaya masuk di H_1 regristasi (IPB memang mengadakan sistem negosiasi ini khusus jalur PMDK). Seharian kami menunggu sampai akhirnya giliran kami berhadapan dengan WR (Wakil Rektor) bidang Keungan dan melakukan proses negosiasi sekitar 20 menit, banyak pertanyaan dilontarkan ke saya terutama “Kenapa kamu layak menjadi mahasiswa IPB? ” (kalai diinget2 kayak wawancara kerja, hhe). Satu hal yang saya janjikan adalah saya akan membawa perubahan positif di kampus IPB, yang alhamdulilah bisa saya tepati kemudian. Saya hanya diharuskan membayar 50 persen dari biaya kuliah, dan itupun 3 kali bayar, tangan Tuhan bekerja saat itu melalui WR 2 tersebut yang saat ini menjabat rektor IPB.
Masalah belum selesai, saya harus bertahan di IPB dengan kiriman 200ribu per bulan. Hunting beasiswa sudah pasti langsung saya lakukan dan itu artinya saya harus menjaga IPK saya jangan sampai anjlok. Sayangnya, peraturan di IPB hanya membolehkan satu mahasiswa mendapatkan satu jenis beasiswa, jadi tiap akhir bulan saya masih sering terpaksa minjam uang ke teman2 saya.. hhe. Luckyly.. saya begitu mudah menjalin pertemanan selama di kampus dan ga “minderan” jadi masih bisa ketutup kalau beasiswa lagi lamaaa turunnya, biasa birokrasi
Semakin bertambahnya semester biaya kuliah pun semakin bertambah, fotokopian slide n buku makinnn banyak aja, belum bahan2 laporan, pulsa, bayar kostan, listrik dsb bikin kepala lumayan pusing. Artinya saya kembali harus mencari income ekstra!! mulailah saya menjadi pengajar bebas di selasar-selasar kampus tiap malam untuk mata kuliah Kimia TPB (untuk mahasiswa semester 1 dan 2). Prinsipnya gini : Semakin banyak ngajar maka uang yang didapat makin banyak deh, hhe… tapi itu artinya waktu saya semakin berkurang untuk urusan akademik, mana rapat organisasi ada aja tiap hari
karena kebetulan saya aktif berorganisasi dan Ketua di salah satu program BEM. Sampai kosan pun tiap hari pasti jam 9.30 malam (kecuali weekend), baru mandi, ngerjain laporan praktikum n baru bisa tidur jam 12-an. Alhasil ngantuk bangett di kuliah ditambah dengan dosen yang “flat” cara ngejelasinnya.. hadeuhh…
Singkat cerita,, semester tersebut fisik saya drop pada saat menjelang UAS karena kurang istirahat, dan banyak pertemuan les justru deket2 ujian… tapi saya terpaksaharus tetep ikut ujian, karena bakal super ribet kalau ngurus ujian susulan di IPB apalagi ada Praktik Lapang di Jakarta lagi setelah UAS selama libur nanti, jadi ga akan ada jeda untuk urusan birokratif. Jadilah saya ikut UAS dengan fisik seadanya, (anw, dari SINI saya belajar pentingnya kesehatan n tubuh ga bisa divorsir). Finally, Betapa kagetnya saya ketika mendapati 2 mata kuliah dapat nilai D, alias “mengulang”, meskipun seharusnya siey saya ga kaget karena saya mulai melupakan tujuan utama saya di IPB, yaitu kuliah! jelas ini teguran untuk saya, padahal dari TPB slogan saya, amit-amit deh kalo sampai ngulang, tinggal dengerin dosen n apalin slide seapal-apalnya atau sering2 latihan soal, tapi ternyata saya “ngulang” juga
Ngulang 2 mata kuliah tersebut cukup membuat saya sedih (meski nilai mata kuliah bukanlah segalanya), saya harus mengurangi aktivitas ngajar, tapi artinya uang ekstra berkurang. Pertolongan Tuhan kembali datang, alhamdulilah proposal pengjuan usaha saya mendirikan “KATALIS bimbel khusus mahasiswa” diterima pihak rektorat dan cair dana 24juta rupiah (dipotong pajak jadi 20juta-an), bener2 ga nyangka setelah 7 tahap seleksi yang cukup menguras energi saya terpilih menjadi 150 mahasiswa dari 2000 pesaing. ga percuma satu malam ga tidur bikin rencana/cashflow keuangan perusahaan yang ngejlimet bangettt untuk ukuran anak kimia spt saya, hhe…
Singkat cerita (again), dengan adanya KATALIS saya tidak perlu ngajar banyak2, saya cukup kerja pintar, tapi ga nguras fisik n waktu, dan syukur alhamdulilah saat ini bisa berkembang menjadi 3 cabang, menerima sekitar 700-800an mahasiswa TPB IPB tiap sesi UTS/UAS, dan saat ini beromzet 90juta per sesi, untuk mencapai tahap ini tentu banyak lagi ceritanya tapi ini udah kepanjangan, jadi di-cut hhe…
Intinya adalah, Pertama… Alhamdulilah saya sudah menepati janji saya ke IPB akan memberikan impact positif di kampus, banyak pengajar2 yang mendapat uang saku ekstra dengan mengajar, (saat ini 50-60pengajar). Banyak anak TPB yang terselamatkan dari “mengulang” mata kuliah dan berterimakasih dengan kualitas pelayanan katalis. alhamdulilah juga saya punya tabungan untuk membiaya masuk kuliah adik saya tahun ini, dan membantu melunasi hutang orang tua saya.
Kedua, Jangan pernah sekalipun teman2 menyesali kondisi keluarga teman2, apoakah kemiskinan, atau broken home mungkin, atau tersangkut masalah hukum, atau apapun itu jangan pernah sesali. Karena untuk menjadi pribadi YOUNG ON TOP tidak memandang asal muasal kita, melainkan kemauan dan visi kita… tetap positif thinking dan jangan minder atau malu menguasai diri kita, ambil segala jenis kesempatan yang ada. Sesungguhnya setelah KESULITAN, pasti ada KEMUDAHAN
See u at the TOP!
Related posts:



COOL. See You ON TOP