Thanks mom & dad
August 8, 2011, by YOTCA. read: 1,649
Cerita ini terinspirasi ketika saya melihat seorang ayah, ibu dan 2 anak kecil yg berada di pinggir kolong jembatan cawang.
mereka tidak punya tempat tinggal, hanya mengandalkan gerobak dorong dan jembatan untuk beristirahat serta berlindung dari teriknya matahari dan derasnya hujan.
lantas ayah dan ibunya tidur dimana jika gerobak itu hanya muat untuk 2 badan kecil? aspal/trotoar yg kotor dan keras lah jawabnya, demi 2 anaknya mereka pun rela.
Ketika melewati tempat itu, seringkali saya melihat mereka melakukan aktivitas layaknya keluarga kebanyakan : ibu membersihkan kotoran anaknya, mengajari anak berjalan, menyuapi, dan yang paling menggelitik pikiran saya adalah melihat mereka bercanda riang dengan anak-anaknya sambil tertawa bahagia. Betapa bersyukurnya mereka memiliki keluarga seperti itu di tengah segala kekurangannya.
Inilah kasih sayang orangtua terhadap anaknya. Bagaimana dengan anaknya terhadap orangtua?
Kisah lain..
Hidup seorang ibu janda penderita lumpuh/stroke yang sudah bertahun-tahun terbaring di tempat tidur tidak berdaya, dia sudah tidak memiliki siapapun selain anaknya yang masih SMP. Sejak ibunya sakit, anak itu lah yang merawat beliau. Mulai dr menyuapi makan, memandikan, hingga memakaikan baju.
Betapa bahagianya sang ibu memiliki anak yang shaleha dan sayang pada beliau di kondisi apapun, baik suka maupun duka seperti yang sedang dijalaninya.
Disini kita melihat hubungan timbal balik antara orang tua dan anak.
Dari 2 cerita tersebut akhirnya saya menyimpulkan dan membuat pertanyaan untuk direnungkan.
- Siapa 2 orang di dunia ini yang menyayangi kita lebih dari mereka menyayangi diri mereka sendiri?
- Siapakah 2 orang di dunia ini yang selalu memikirkan kita bahkan ketika kita tidak memikirkan mereka?
- Siapakah siapa 2 orang yang selalu mendoakanmu, bahkan ketika kamu menyakiti mereka?
- Siapakah 2 orang yang selalu merindukan kehadiranmu, ketika kamu tidak punya waktu untuk berada di dekat mereka?
Teman .. Sadarlah!
Orangtua rela mengorbankan apapun demi melihat senyum di wajah kita.
Lihat wajah mereka.
Bukankah keriput sudah menghinggapi wajahnya?
Apa lagi yang kita tunggu hingga kita blm membalas jasa mereka?
Teman, coba bayangkan wajah orangtua disaat kita sukses? mereka pasti akan tersenyum bangga dan mengatakan dengan lantang ” itu anak kebanggaanku ”
Lalu coba bayangkan wajah orang tua disaat kita mengecewakan mereka? menghabiskan waktu yg tidak berguna, ber foya foya, atau bahkan minggat meninggalkan mereka? Air mata dan duka pasti akan menghampiri wajah mereka.
Saya bangga melihat mentor saya Billy Boen, masih muda dan sudah bisa membahagiakan kedua orangtuanya. Saya melihat kedua orangtua beliau datang disaat launching buku ke 2 nya TopWords, meskipun saya tidak kenal, tapi saya bisa melihat raut wajah mereka sangatlah bahagia pada saat itu. Pasti orangtua nya sangat bangga mempunyai anak seperti mas billy.
Apakah kalian tidak ingin seperti mereka?pasti ingin.
Teman, orangtua kita tidak akan pernah minta apa-apa sama kita, meski kita sukses kaya apa.
Membahagiakan orangtua bukan berarti kita harus sukses dulu, masih banyak cara kita untuk membahagiakan orangtua. Contohnya?coba baca cerita saya yang awal.
Apa yang mau saya sampaikan disini adalah Berterima kasihlah kepada orangtua yang sudah merawat, membimbing kita dari kecil hingga sekarang, karena berkat doa n dukungan mereka juga, kita bisa melangkah hingga seperti sekarang ini.
So, sudah sejauh manakah kita sudah bs membuat orang tua kita tersenyum?
Sandy Kharisma – PPM School of Management
Related posts:



nice posting Sandy. I like it!
reminds us to our parents.
keep writing!