THE POWER OF KEFEFET CONDITION & NO GIVE UP MENTAL -DWIARDI VERGIAWAN
November 12, 2011, by YOTCA. read: 444
November Article – YOT CA Bakrie University – Dwiardi Vergiawan (Vergi)
Hi YOT-ers !!! Sehat semua kaaaaaan? Yang belum sehat segeralah berobat !!!
Artikel ini akan menceritakan tentang perjuangan saya belajar bahasa inggris :p
***********************************************************************************
Siapa sih yang ga suka belajar bahasa inggris?
Bagi anak-anak usia sekolah dasar/ menengah bisa ngomong beberapa kalimat dengan bahasa inggris itu rasanya kereeeeen banget *lebay
Begitu juga dengan saya 7 tahun yang lalu. Saya bersekolah di SMP Negeri yang notabene pendidikan bahasa inggrisnya sangat minim.
Zaman saya SMP dulu ceritanya lagi ngetren yang namanya les bahasa inggris di LIA (Lembaga Indonesia Amerika) atau EF (English First).
Ga mau kalah nge –tren sama temen-temen saya meminta ayah untuk di daftarkan kursus di LIA. Dengan berbagai pertimbangan keluarga, akhirnya saya bisa les disana *yee *girang *joget
Saya sangat excited mengikuti pembelajaran, dengan mental “no give up” saya terus belajar dan ga malu kalau buat salah. Once, saya lihat di catatan guru les, saya anak ter –tinggi PROGRESSnya… *ngacir
Setelah 3 bulan menerima materi, tibalah saatnya untuk ujian kenaikan tingkat. Setelah serangkaian ujian selsai, diumumkanlah bahwa saya BEST STUDENT pada level itu… *prokprokprok
Unfortunately, ga lama setelah ujian, keluarga saya mengalami ujian besar dari Allah SWT…
Sampai merenggut aset keluarga yang sudah ayah kumpulkan sejak lama untuk pendidikan yang lebih baik bagi kedua anaknya
Krisis finansial keluarga pun dimulai… *jengjengjeng
Sampai tiba pada suatu waktu ayah berbicara di motor saat mengantar les…
“Le (saya dipanggil ayah dengan sebutan TOLE –panggilan jawa untuk anak laki-laki), les di LIA nya berhenti dulu ya, kamu tahu kan kita lagi susah, kita penuhin kebutuhan primer dulu ya”
…………………………… *speechless
Antara sedih, kecewa, marah, semua perasaan campur aduk jadi satu.
Hati ini hancur seketika… FYI saya sangat enjoy dengan les bahasa inggris itu, karena temen-temen yang udah akrab banget, guru les yang super sabar, dan kurikulum yang fresh dengan menakankan pada percakapan, berdampak juga dengan naiknya nilai bahasa inggris saya di sekolah.
Sejak saat itu saya membenci bahasa inggris. Saya merasa tertinggal dari temen-temen yang bisa les bahasa inggris.
Saya sering mendapat bad score di pelajaran bahasa inggris…
SMP, SMA…. Score bahasa inggris saya selalu ada di standar batas ketuntasan…
Sampai tiba saatnya saya merantau untuk kuliah di Jakarta…
Disini saya harus mempertahankan beasiswa 100 juta saya dengan mempertahankan IPK > 3.
Buku materi kuliah semua berbahasa inggris…… *alamak *mampus
Setiap malam saya selalu berpikir, “gimana caranya gue bisa dapet IPK > 3 kalau masih benci sama yang namanya bahasa inggris sementara buku materi kuliah gue semua berbahasa inggris”
Sampai akhirnya saya memikirkan lagi, awal mula saya bisa benci bahasa inggris….
ALAMAK !! Cuma gara-gara ga LES BAHASA INGGRIS !!
Seketika kesel juga sama diri sendiri, kenapa saya tidak se-bersyukur itu..
TV di rumah kami ada siaran luar negeri, saya punya kamus elektronik inggris –indonesia, kenapa hal-hal seperti itu tidak saya manfaatkan. Modul dan buku-buku bahsa inggris sekolah pun ada. Kenapa saya selalu merasa KURANG KURANG dan KURANG dibanding temen-temen saya yang les bahasa inggris (belum tentu juga mereka menyerap pelajaran dengan baik).
Begitu sadar akan keadaan yang “mendesak” saya merubah mindset bahwa, saya suka dan akan dengan cepat menguasai bahasa inggris cas cis cus…. *hwaiting
Dengan mengucap bismilah, perjuanganpun dimulai, dari yang sering baca artikel berbahasa inggris, nonton tayangan tv yang berbahasa inggris (kalau pulang ke rumah) dan mempraktikkanya dengan teman (ga malu walaupun dikata bego). Sampai akhirnya saya merasa, okay my english skill isn’t that bad….
Saya mencoba menantang diri saya sendiri, saya coba mengajar les bahasa inggris di bimbingan belajar untuk anak-anak SMP (walaupun dengan upah yang sangat minim ) … huaaaah senang sekali rasanya bisa “gethok-tular” ilmu yang saya dapatkan dengan mental “no give up” kepada adek-adek di bimbingan belajar itu….
Sampai akhirnya saya menantang diri saya lagi
“bisa ga ya, gue cover biaya hidup gue di jakarta dengan kemampuan berbahasa inggris gue yang pas –pasan yang di dapat dari KEFEFET condition dan mental no give up :p ”
Dengan doa dan dukungan dari orang tua…….
Alhamdulilah sekarang saya seorang Freelance Supervisor International Test Center (lolos TOEIC test, interview in english, training, dan probation).
ITC merupakan perusahan yang mendapatkan lisensi dari ETS (lembaga resmi pembuat soal TOEFL & TOEIC asli bukan yang abal-abal :p )untuk menyelenggarakan TOEFL (IBT) dan TOEIC test untuk berbagai keperluan , dari lanjut S2 sampai assessment pegawai.
Kerjaannya ngapain ? (conduct test max 30 minutes kadang dengan bahasa inggris jika peserta test bukan WNI dan ngawasin ujiannya doang 2 jam TOEIC dan 4 jam TOEFL)
Dengan freelance disana saya juga bisa keliling ke kota-kota yang belum pernah saya kunjungi di Indonesia… Dari biaya pesawat, hotel, akomodasi sampai uang pulsa pun ditanggung sama kantor.
Selain itu saya juga dapat benefit bisa kenal sama HRD perusahaan-perusahaan (client) yang mengadakan test untuk pegawainya. *joget lagi
FYI, I’m the youngest di kantor, temen-temen Supervisor lain sudah pada lulus S1 bahkan ada yang sudah S2 :p
But, saya ga pernah merasa canggung untuk bergaul dengan temen-temen kantor even client. I’ll do my best untuk buktikan GA ADA KATA TERLALU DINI UNTUK MEMULAI SESUATU –BB
Emang dapet upah berapa sih??!!
Alhamdulilah bisa cover kebutuhan hidup di Jakarta sendiri, dan Insha Allah bisa buat jalan-jalan ke luar negeri Januari nanti :p
Semoga kalian terinspirasi !!!!!
Related posts:


