Triple Combo: Maaf, Tolong, Terima Kasih
December 2, 2011, by YOTCA. read: 332
Note by Felicia Astrid
YOT CA Bina Nusantara
Hargai orang lain kalau mau dihargai
Maaf, Tolong, Terima Kasih. Simpel namun sering terlupakan tapi menurut saya ketiga kata ini merupakan kata sakti kalau diucapkan. Lho, kenapa? Padahal sejak kecil kita pasti dididik untuk bisa mengucapkan 3 kata ini. Semua orang pasti pernah mengucapkannya. Pernah tapi banyak yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Kapan dan kepada siapa kita harus mengucapkannya?
Pagi ini saya membaca tweet teman saya. Tweet itu berbunyi kira-kira seperti ini “Katanya menghargai orang lain, tapi ngambil selebaran yang diambil di mall aja rasanya berat tangan”. Saya kemudian menjawab “kalo terpaksa diterima kan jd sampah jg kalo ga dibaca. Kl gak mau, lbh baik tolak tapi INGET senyum yg tulus sambil minta maaf”. Sejak membaca tweet ini saya kepikiran terus tentang 3 kata ini hingga akhirnya tangan saya gatel mau nulis artikel ini.
Tiga kata itu menurut saya merupakan salah satu bentuk penghargaan yang bisa kita berikan kepada orang lain. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kalian bilang Maaf, Tolong, Terima Kasih? Kepada siapa kalian mengucapkannya?
Entah sejak kapan, tapi yang jelas saya terbiasa mengucapkan tiga kata itu, kepada siapa? Siapa saja! Satpam, Cleaning Service, polisi cepek, keluarga, teman, semua orang kalau perlu!
Terima Kasih
Menurut saya, kalau kita mengatakan tiga kata itu, terutama terima kasih, orang yang kita tujukan pasti akan merasa lebih dihargai. Kalau naik kendaraan umum misalnya taksi, saya selalu bilang “terima kasih ya Pak”. Terima kasih karena apa? Harusnya dia dong yang bilang terima kasih karena saya sudah membayar dia? Well bukan itu kasusnya. Saya bilang terima kasih karena dia sudah mengantarkan saya dengan selamat sampai tujuan. Biasanya mereka akan membalas “terima kasih kembali neng” atau “sama-sama mbak”. Saya senang mendengar balasan mereka. Mungkin juga kepada pembantu rumah tangga di rumah, misalnya si bibi membuatkan makanan untuk kita, walaupun itu memang tugasnya tapi pasti si bibi merasa senang kalau kita menghargai apa yang dia lakukan untuk kita. Tapi lain lagi ceritanya kalau saya bilang terima kasih tapi lawan bicara saya malah diam atau tidak menggubris saya. Itu bisa membuat saya kesal sepanjang hari. Jadi pastikan ketika menerima ucapan terima kasih, balas ucapannya ya
.
Balik lagi ke kasus teman saya tadi, sering mengalami hal seperti dia? Saya sering sekali malah. Berhubung sekarang sedang Global Warming, alangkah baiknya kalau kita menghasilkan lebih sedikit sampah. Kalau kita merasa tidak enak lalu menerima selebaran yang ditawarkan padahal kita tidak berminat pada apa yang ditawarkan, lebih baik tolak saja. Tips dari saya, kalau mau menolak gunakan tangan seperti posisi mau menolak, lihat kearah orang tersebut, SENYUM, lalu bilang maaf ya. Simpel kok, gak susah tapi saya lihat banyak sekali orang yang tidak melakukan ini dan malah ngeloyor pergi nyuekin orang yg memberi selebaran. Tips ini Gampang, simple, tidak nambahin sampah dan orang yang menawarkan juga tidak sakit hati karena ditinggal dan merasa lebih dihargai.
Maaf
Saya juga sering sekali bilang maaf, bukan karena saya banyak salah juga. Tapi kalau saya memang salah dan perlu minta maaf, saya pasti akan minta maaf. Mungkin aneh tapi saya sering merasa bersalah kalau lewat di atas lantai yang baru di pel atau masuk di lift yang sedang dilap oleh Cleaning Service. Saya kesal kalau melihat lantai yang baru dipel (masih basah) dilewati oleh seseorang lalu orang itu main nyelonong saja. Cuma menyisakan jejak kotor yang harus dipel lagi. Kan kasihan Cleanernya. Meskipun itu memang tugas mereka, hargai mereka dan hargai juga pekerjaan mereka, siapapun itu. Jangan selalu melihat keatas, lihat juga kebawah atau kesamping, bayangkan kamu ada di posisi mereka. Kalau terpaksa harus lewat, biasakan bilang “maaf mas/mbak, permisi ya numpang lewat”.
Tolong
Kapan sih kita harus bilang tolong? Dengan adanya kata tolong bisa merubah suatu kalimat lho. Kata tolong membedakan saat kita meminta bantuan atau menyuruh
“Tolong ambilkan pulpen itu”
“Ambilkan pulpen itu”
Coba bandingkan dua kalimat diatas. Artinya sih tetap sama, tapi terasa berbeda nggak? Kalimat pertama dengan kata tolong lebih terasa lembut sedangkan kalimat dibawah lebih terkesan Bossy karena kita kesannya menyuruh orang yang kita mintai bantuan. Padahal kalau dipikir-pikir kan kita yang perlu bantuan?
Tidak usah malu dianggap tidak mandiri kalau minta tolong orang lain, Kita ini makhluk social jadi kita tidak bisa hidup sendiri. Kita memerlukan kehadiran orang lain di hidup kita. Dalam hidup berdampingan kita harus saling menghargai untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Hargailah orang lain kalau kita mau dihargai. Tiga kata diatas gampang dan tidak susah untuk diterapkan, tapi yang pasti berdampak besar kalau diucapkan. Jadi yuk mulai biasakan dari sekarang!
Terima Kasih sudah membaca
Related posts:



@Felicia Astrid
aku sih gak setuju, yang dsbut satpam buat saya, orang yang cukup 20 ribu buat dpt cewe murahan di komplek, knp saya tau? knp sy bilang? krn emang spt itu, saat ini jg bisa sy buktiiin, tp dr gaya bicara sy skrg ini pasti kamu ga percaya, itu krn saking malesanya jelasin.
yg jelas sy tinggal ke komplek mewah, ajak temen sy yg dowan cewe “GA JELAS” < baca, lalu bayar sekutip uang, bisa dipake, dan itu berlaku sampai saat ini 05 Feb 2012.
Gw benci satpam di komplek, dan gw benci org murahan spt itu. jgn terlalu polos kl blom tau apa2. gw benci tmn gw yg baek aja di sangka ayam kampus hahahaha…. trik2 mereka buat si cewe ga ada cacat saking percayanya.
kl buat tmn gw masih untung gw masih ada buat mereka, mereka uda sadar duluan.
Ga setuju apa kata gw? silahkan koment, gw males baca koment2 u pada kl mau koment jg, idiot aja yg ga ngerti apa kata gw. gw 20 taun, ini perdana gw cerita gini secara kebetulan pas browsing, kl pun gw salah alamat, yg gw baca cuma reply dari yg pny site / yg nulis Felicia Astrid. So long asshole!