billy boen

Ugly or Pretty: Which One is You?

May 26, 2011, by YOTCA. read: 445

Ugly or Pretty: Which One is You?

May 26, 2011 by David Immanuel Sihombing (Universitas Indonesia)

sumber: http://www.davidsihombing.wordpress.com

(Kampus UI Depok, Selasa, 17 Mei 2011)

You know what?” someone who was sitting close to me opened a conversation, “When noon comes, you’re gonna only see a sun, but honestly… there’s also a moon up there.”

Dia melanjutkan sebelum membuat saya terperangah, “When you feel pretty with yourself, you just ignite your ‘light’, make it as shine as sun, but those who feel different will live like the moon, shining at nite only, when all people have snored on bed.

ooo

UGLY vs PRETTY?

(sepuluh tahun silam…)

“Si hitam!” saya tidak bergeming saat sebagian anak-anak lainya menghina saya dan warna kulit saya yang gelap. Saya hanya mengambil tas dari kursi dan beranjak pulang.

Sore itu… awan kembali menampakkan wajah kelamnya, tanda hujan sebentar lagi datang dan sang pawang tengah dalam hibernasinya yang khusuk dan panjang. Hujan kali ini akan sangat deras.

“Hati-hati kalau hujan jangan dekat-dekat David!” cetus salah seorang teman saya kala di SD dulu. Dia bertubuh gempal, masih sama gempalnya hingga detik ini, “Nanti hitam-nya luntur, terus kita semua ketularan dan jadi ikutan hitam. Hiiiiiiiiihhh!!!” sambungnya, lagi.

Dia paling gemar mengolok-olok saya di depan umum. Derai tawa kawan-kawan sekelas adalah momen favoritnya, setelah tentunya mengintip bagian dalam rok perempuan dengan meletakkan cermin rautan bundar yang diselipkan di tali sepatu kanannya.

Seperti biasa, saya pulang sendiri. Hanya ditemani air hujan yang terus menetes deras dan sesekali olokan teman-teman yang berlalu begitu cepat melewati saya.

Apapun yang ada di diri saya menjadi kelemahan, sekalipun itu kelebihan saya. Mereka menganggap saya ini bencana. Entah bagaimana, tetapi cerita tentang sebuah kutukan mulai merebak di sekolah dan mereka mulai mengkaitkannya dengan saya, semenjak hari pertama saya pindah ke sekolah tersebut dan mengenakan sepatu berlapis tanah basah di bawahnya.

Belum lagi, saya lahir bukan dari kalangan borjuis. Rumah sepetak yang saya tinggali dulu hanya mampu memuat 1 kamar tidur tempat saya tidur bersama kedua orang tua saya, sedangkan kakak saya harus rela tidur di atas tempat tidur kecil di sebuah ruangan yang dulunya gudang meyakinkan saya bahwa darah yang mengalir di tubuh saya merupakan warisan kaum proletar dari zaman koloni Belanda dulu.

Saya harus puas hanya bisa memandang anak-anak seumuran saya mengenakan pakaian terbaik berlabel kelas satu. Bahkan, beberapa sengaja tidak mencopot gantungan harga di baju yang dikenakan agar orang seperti saya tahu seberapa kali lipat harga baju itu dibanding gaji kedua orang tua saya yang hanya kuli pemerintah dan dengan siapa kini saya berhadapan di sekolah.

Saya masih ingat, setiap kata yang dia lontarkan saat kami berencana untuk menghabiskan siang di salah satu Mall elit. Saya ingat itu semua, termasuk ekspresi tawanya yang memuncak saat saya datang dengan kaoscubitus, kaos mahal satu-satunya yang saya punya yang saat itu di bagian depannya terlihat memudar setelah dipakai bertahun-tahun. Saya berusaha menutupi potongan siluet snoopy yang masih tersisa di kaos itu, agar tidak terlihat jauh berbeda dengan karikatur rockstar di kaos yang dikenakan teman-teman saya.

Saya masih ingat, sebelum sekolah berlangsung, saya rutin mampir ke rumah salah seorang teman saya, pura-pura beralasan ingin belajar bersama, nyatanya mengharapkan jatah makan siangnya dibagikan ke saya.

Saya masih ingat, sebelum mobil jemputan datang, saya masuk ke rumah tetangga depan saya yang tentu rupa dan bentuknya tampak lebih baik dan manusiawi ketimbang rumah saya dan saya selalu keluar dari dalam sana tepat di saat mobil jemputan membunyikan klaksonnya, menunggu saya di depan.

Saya menunjukkan gelagat seolah-olah rumah itu adalah kediaman saya. Berteriak “Mama, pergi dulu!”, padahal Ibu saya tinggal di rumah seberang, rumah sepetak dimana saya sesungguhnya tinggal dan besar.

Semua kondisi di atas membuat saya menyadari betapa asingnya saya, bahkan saat saya hanya dengan bayangan saya di cermin sekalipun. Saya kehilangan kepercayaan diri, membuat saya sendiri bahkan merasa tak pantas menginjakkan kaki di atas bumi ini, membuat saya sendiri merasa tidak pantas untuk bahagia dan bersekolah disana.

Tidak heran, selama di sekolah, saya hanya berteman dengan satu – dua orang saja. Itupun, karena kami bernasib sama: menjadi bahan olokan teman-teman.

ooo

(beranjak dewasa…)

Dia salah seorang tercantik yang saya kenal. Saat baru mengenalnya, ternyata bukan hanya saya seorang, cowok yang berusaha menarik perhatiannya, namun ratusan pejantan sudah mencoba mati-matian untuk setidaknya dapat tampak oleh kedua bola matanya yang besar.

Pribadinya yang ramah dan humoris membuat semua pria tergila-gila dan mati-matian berupaya keras mengeluarkan amunisi terbaik untuk bisa mengajaknya jalan; dari sederet koleksi mobilnya, lokasi-lokasi hang out gaul-nya hingga jumlah saldo terakhir yang ada di buku rekeningnya yang siapapun kalau melihatnya bisa bernafas lega karena tidak lagi harus memikirkan nasib di masa mendatang. Namun ternyata, semua itu berakhir sia-sia.

Tidak mereka, tidak juga saya, yang mendapatkannya. Tidak siapapun, kecuali satu hal disana yang kini membuatnya terjerumus dalam lingkaran setan tanpa akhir: drugs.

Ya, obat-obatan berbahaya itu yang berhasil memikatnya bahkan hingga membuat ia rela menukar nyawanya.  Nyawa satu-satunya…

ooo

WERE WE BORN THIS WAY??

Alis mata tebalnya, hidung mancungnya, pipi tirusnya dan wajah berbentuk hati-nya belum cukup membuatnya merasa seperti yang selama ini dikatakan oleh banyak pria melalui kalimat sapa di wall facebookatau pesan yang masuk ke inbox HP.

Saat ia menerima pesan bertuliskan, “Hai, cantik… boleh kenalan?”, justru ia merasa sebaliknya. Di pikirannya, kata cantik itu justru mengarah untuk menghina rupanya yang masih ia rasa jauh dari sempurna.

Ia pun melakukan berbagai macam suntik dan operasi untuk memperindah bentuk hidungnya, memperpanjang rambutnya, memperuncing garis alis matanya dan membentuk lesung di kedua pipinya saat senyumnya mengembang.

Ia akan melakukannya lagi dan lagi, saat ia melihat seseorang tampak lebih menarik dibanding dirinya. Dan sewaktu ia melihat seseorang tampak memiliki bentuk hidung yang lebih sempurna ketimbang dirinya di sebuah majalah fashion, ia pun merobek potongan gambar gadis tersebut, membawa gambar itu ke dokter bedah dan mengatakan, “Saya mau seperti ini.”

000

Sampai akhirnya, operasi itu pun mengawali malapetaka berkepanjangan di hidupnya. Dokter yang menanganinya sudah memperingati resiko besar yang akan terjadi dari tindakan operasi ini sebelumnya. Ia sendiri pun telah menandatangani surat kesediaan operasi atas dasar kesadaran pribadi tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, sehingga saat operasi itu berubah menjadi bencana, ia tidak punya pilihan untuk menyalahkan dan menuntut siapapun, kecuali dirinya sendiri.

Saat hidung mungilnya berubah bentuk menyerupai sebuah terong besar, dan ternyata itu berdampak pada hasil operasi dan suntik di beberapa bagian di wajahnya, dimana secara mendadak pipinya menggembung ke bawah dan garis batas bibir atas dan bawahnya mengembang. Operasi tersebut justru membuatnya benar-benar tampak seperti badut.

Kejatuhan ini membuat dirinya takut bertemu dengan orang banyak. Ia selalu bersembunyi untuk menghindari pandangan orang, bahkan pandangan dirinya sendiri saat ia berpapasan dengan cermin.

Bagaikan sebuah raksasa mengerikan, itulah yang ia rasakan setiap ia mendapati bayangan dirinya terpantul di kaca. Ia pun kehilangan akal sehatnya, hingga kemudian ia mengenal beberapa jenis obat-obatan yang mampu membuatnya melupakan kenyataan hidup sesaat dan membawanya terbang ke dalam imajinasinya, berpenampilan tak terkalahkan cantiknya dengan garis wajah dan lekuk tubuh yang sangat sempurna, sama persis seperti yang ia cemburui.

Dan, pada akhirnya… obat-obatan itu pula yang juga menghantarkan dirinya ke titik akhir tak berkesudahan dalam tingkatan kehidupan, yaitu… kematian.

Ia meninggal secara naas. Hidupnya berakhir hanya karena satu hal: She doesnt deserve to rule her life just because she think she’s unpretty.

ooo

WE ARE ALL BORN SUPERSTARS..

Cause you’re amazing, just the way you are…

(The Way You Are – Bruno Mars)


Kenangan hidup saya saat sepuluh tahun silam kembali menguak sebuah perjalanan panjang yang saya telah lakukan hanya untuk bisa diterima di dalam pergaulan… untuk bisa bercengkrama dengan yang lain… dan yang paling penting, untuk bisa ‘berdamai’ dengan diri saya sendiri.

But… at the time, I started to notice. Whatever I wear, whatever I say, or whatever I do would be such a jest for them.

I started to notice. They said something bad to make me feel like life was unfair, to make me feel insecure and like a waste of space, but more importantly… They hurt me to make them feel great.

And… at the end, I notice, I should have myself to blame. I made myself such a mess, because I thought that way I was ugly because I believed so.

I can fix every single bad thing I have that makes me feel so terrible, but what does it mean to me?

I’ve asked my parents if it’s wrong to be like this, and they just replied, “You’re the best son we’ve ever known!”

So, what else I need to worry about?

ooo

WE’RE INCREDIBLE IN OUR OWN WAY!

Saya memulai lembaran baru dalam hidup saya. Menjadi pribadi yang tangguh dan pekerja keras saat beranjak 18 tahun. Saya mulai tampil percaya diri dan mengatakan “Sanggup!” untuk semua hal yang saya sadar bahwa saya tidak akan sanggup melakukannya. Bersama Tuhan, saya percaya bahwa saya dilahirkan untuk menaklukkan setiap tantangan di dalam hidup saya hingga saya berhasil mencapai impian terbesar dalam hidup: menjadi figur sukses di usia muda.

Saya berhasil membuktikan kemampuan saya kepada semua orang menganggap saya tidak lebih baik dari dahak, dengan diterimanya saya di salah satu kampus terbaik di Indonesia yaitu Universitas Indonesia. Saya mampu meraihnya, di saat orang-orang bermulut besar di sekitar saya meragukan kemampuan saya. Saat mereka berupaya keras hingga mengikuti ujian seleksi masuk PTN dua kali, namun sebanyak dua kali pula mereka meraih kepahitan yang sama.

Di usia menjelang 19 tahun, saya mampu melakukan sesuatu yang SANGAT DICITA-CITAKAN orang-orang bermulut besar yang saya kenal saat di bangku SD, SMP dan SMA dan tidak sekalipun pernah terpikirkan oleh mereka bahwa saya akan mampu melakukannya: menginjakkan kaki saya di benua Amerika dan mengunjungi kampus terbaik di seluruh dunia: Harvard University.

Saya menapaki jenjang yang lebih tinggi dalam kehidupan. Pada tingkat ke II dalam studi saya selama di UI, saya telah medapatkan kesempatan untuk mengunjungi sedikitnya 8 negara di seluruh dunia secara GRATIS, dari Malaysia, Viet Nam, Korea, Jepang, Jerman, Hungaria, Amerika, dan masih banyak lagi.

Pencapaian ini justru bukan karena saya memiliki kemampuan yang hebat atau bakat yang membanggakan, namun karena satu hal: “I FEEL PRETTY WITH MYSELF!”

Do you know that there’s still a chance for you
Cause there’s a spark in you

You just gotta ignite the light
And let it shine
Just own the night
Like the Fourth of July

(Firework – Katy Perry)

ooo

?

“When you feel pretty, it makes you witty;

but when you feel ugly, it just makes you pity.”

David Immanuel Sihombing

Related posts:

  1. Be Sportif
  2. Perlunya Kejujuran
  3. Passion. What’s yours?
  4. KADAL YANG TERJERAT

Leave a Reply