billy boen

Visi, Langkah Awal Menuju Akhir Perjalanan

August 1, 2011, by YOTCA. read: 1,087

NOTES from JONATHAN CS (YOT CA LSPR)

Tak terasa Young on Top Campus Ambassador telah memasuki perjalanannya di tahun yang ke-2. Angkatan baru ini resmi memulai kegiatan formalnya pada hari Sabtu, 30 Juli 2011 dimana ini merupakan Monthly Meeting (MM) edisi perdana bagi para YOT CA.

Kurang lebih ada sekitar 36 orang yang hadir pada MM perdana ini. Kekaguman saya semakin menjadi setelah mengetahui bahwa ada beberapa YOT CA yang datang dari Bandung, Semarang, bahkan Malang dalam MM kali ini. Sungguh saya melihat sebuah determinasi dan perjuangan yang luar biasa dari mereka.

MM kali ini mengambil tema mengenai Vision, Purpose, and Goals. Yup, saya pikir ini merupakan tema yang sangat tepat untuk memulai edisi kedua ini. Mengapa visi itu menjadi sangat krusial, karena tanpa adanya visi maka kita tidak akan pernah tahu akan pergi ke arah mana atau sudah seberapa jauh usaha kita dalam mencapai sesuatu.

Seperti biasa untuk memulai MM, maka dilakukan suatu “ritual” terlebih dahulu, yakni menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bagi saya, ini adalah keunikan dari YOT. Disini para YOT CA tidak hanya dibina secara baik oleh para mentor, namun disini YOT CA juga diharapkan memiliki jiwa nasionalisme yang baik terhadap Indonesia. Karena pintar tanpa nasionalisme juga yang terjadi sama saja seperti para koruptor saat ini. Mereka pintar, tapi mereka tidak cinta dengan bangsa ini.

Tidak seperti biasanya, kali ini mentor kami mas Yan @rYanHendryJ yang memimpin MM kali ini. Mas Yan membawakan presentasi dengan judul “Choosing to See”. Kata-kata yang begitu melekat di benak saya adalah ketika beliau mengatakan “Kenapa mata kita ada di depan? karena untuk kita melihat tujuan yg ada di depan kita”. Itulah Visi, visi hendaknya selalu berada di depan kita, jangan sampai visi itu berada sejajar atau justru berada di belakang kita atau dengan kata lain visi itu sudah kadarluasa atau sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman yang ada.

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah visi! Itu pesan yang ingin disampaikan mas Yan kali ini. Jika kita melihat perkembangan sepeda motor, mobil hingga pesawat dari awal pertama kali ditemukan hingga saat ini, kita dapat melihat perubahan visi yang berevolusi mengikuti perkembangan jaman. Yup, visi itu selalu bervolusi untuk menjawab setiap persoalan kita.

Kemudian sesi semakin seru ketika masing-masing YOT CA ternyata menyimpan hasratnya untuk mempresentasikan mengenai visi menurut versinya masing-masing. Sebelum sesi presentasi dari mas Yan, terlebih dahulu 2 YOT CA yang beruntung yakni Atika Larasati (UNPAD) dan Fatimah (FKG UI) menyampaikan presentasi mengenai visi menurut versi mereka masing-masing.

Pada saat sesi Tanya jawab, ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika Waldo (Trisakti) menyebutkan bahwa dalam membuat visi, kita harus berpikir dan memulainya dari akhir. Hal ini merupakan value yang dosen PR saya (Babeh Ermiel Thabrani) ajarkan berulang-ulang kali di dalam kelasnya untuk kita mencoba berpikir dari hasil akhir yang mau kita capai.

Banyak orang yang sampai saat ini masih berpikir bahwa kita harus memulai perjalanan dari awal kemudian menuju akhir. Namun karena banyak sekali faktor x dan penghalang yang ada, maka sering kali hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan di awal Hal ini akan menjadi berbeda ketika kita memulai goal kita dari hasil akhir. Hasil akhir apa yang kita ingin capai kemudia diuraikan dan dijabarkan hingga akhirnya kita tahu langkah-langkah apa yang harus kita ambil. Hal ini menurut saya masuk akal, karena jika kita masuk ke dalam taksi pasti kita sudah menentukan dulu kemana nantinya perjalanan kita akan berakhir bukan?

So hal ini penting untuk kita semua, cobalah untuk berpikir hasil akhir yang ingin kita raih kemudian tarik mundur untuk membuat perencanaan kita-kita untuk mencapai hal itu dibutuhkan langkah apa saja. Kemudian mas Yan sempat bertanya kepada saya, kira-kira Indonesia 10-20 tahun lagi akan seperti apa di mata saya. Dengan sangat yakin saya menjawab bahwa “Masa depan Indonesia adalah generasi  yang penuh harapan karena berkat mereka-mereka ini (YOT CA)”.

Nah untuk akhir dari cerita ini, maka saya akan tutup dengan sebuah cerita yang menggambarkan mengenai visi yang saya bawakan bersama mentor Ricky Setyawan (@onlyricky) pada saat MM kemarin mengenai sepak bola Jepang.

captain tsubasa

Saya rasa kita semua tahu akan kartun “Captain Tsubasa” , sebuah kartun yang menceritakan mengenai sepak bola dari anak-anak Jepang yang memiliki kelebihan luar biasa dimana ada tendangan Naga, tendangan harimau dan tendangan-tendangan super lainnya. Tapi tahukah kalian kapan kartun itu diciptakan oleh Yoishi Takahashi??

Menurut salah seorang teman saya, kartun ini diciptakan pertama kali di tahun 1980. Dimana saat itu timnas sepak bola Indonesia masih dapat dikatakan menjadi MACAN ASIA karena merupakan salah satu tim kuat di Asia. Kita bahkan masih menganggap bahwa Jepang masih dibawah kita, karena orangnya yang tidak terlalu tinggi alias kuntet.

Namun  sungguh luar biasa, Yoishi Takahashi memiliki visi yang kuat mengenai sepak bola negerinya. Hampir 2 dekade berselang atau lebih tepatnya 18 tahun setelah munculnya kartun Tsubasa, Jepang yang tadinya hanya dianggap negara lemah berubah menjadi persis seperti yang digambarkan oleh kartun Tsubasa, mereka lolos ke putaran Piala Dunia tahun 1998 di Perancis.

Walalu Jepang pada saat itu tidak berhasil mendapatkan 1 poin pun tapi ini merupakan lompatan jauh dari Jepang, bahkan di edisi Piala Dunia berikutnya yakni di tahun 2002, Jepang berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Korea Selatan. Sungguh Jepang membuktikan bahwa mereka mempunya visi yang kuat mengenai sepak bola negaranya, tidak peduli walau banyak yang berusaha mematahkan mentalnya.

Kejutan tidak berhenti sampai disana, di tahun 2011 ini Jepang kembali membuat kejutan dan sejarah di dunia sepak bola. Tim nasional wanitanya berhasil menjadi JUARA di Piala Dunia Wanita! Sekarang apakah kalian berani menertawakan kartun Tsubasa yang mungkin dulu kita anggap hanya mimpi gila dari pengarangnya saja?

Bandingkan dengan negara kita, nada optimis apa yang pernah kita dengungkan untuk sepak bola kita? Hampir semuanya mengatakan bahwa mimpi Indonesia mau masuk piala dunia atau bahkan menjadi tuan rumah piala dunia. Semuanya pesimis karena realistis melihat kondisi. Inilah buruknya Indonesia, mereka hanya melihat kondisi yang terjadi saat ini tanpa berusaha mengembangkan visi nya untuk jangka panjang. Sekalinya ada kartun sepak bola buatan Indonesia judulnya “Bola Kampung”. Kemudian sinetron judulnya Tarkam, ya tidak heran makanya sepak bola kita memang kaya pertandingan tarkam karena orang-orang kita saja pemikirannya demikian.

So mulai dari sekarang masihkah kalian pesimis melihat timnas kita masuk piala dunia? Kalau jawabannya adalah IYA, yaahh pesan saya sih silahkan pergi ke Glodok lalu beli serial Captain Tsubasa untuk mengubah mindset kalian. Timnas kita bisa! Timnas kita juara!

“Vision are born in the soul of man/woman who is consumed with the tension between what is and what could be.” -Andy Stanley

“The most pathetic person in the world is someone who has sight but has no vision.” -Helen Keler-

“Vision is the art of seeing things invisible” -Jonathan Swift-

Follow me on Twitter di @trapjovers89

www.guejojo.com

Related posts:

  1. Visi, Misi, Perjanjian & Komitmen
  2. Studentpreneur : Pilihan menuju sukses
  3. Oase Kecil Sebuah Perjalanan

Leave a Reply