billy boen

WAKTU

October 6, 2011, by devi_syahdina. read: 1,367

“Ngaret Is Our Culture … budaya bangsa tuh, ayo kita lestariin..nanti keburu diclaim negara tetangga…ahahahhahahaha…….”

Itu adalah jokes yang saya ucapkan ketika menunggu rapat yang ngaret selama hampir 3 jam. Kejadian itu sendiri terjadi sekitar 1.5 tahun yang lalu. Saat itu saya ikut tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman saya, tapi sejujurnya hati saya agak kaget mendengar jokes yang spontan keluar dari mulut saya tersebut.

Sudah seburuk itukah kita dalam menghargai waktu?

Ada ungkapan yang mengatakan

“Untuk mengetahui nilai suatu milidetik..tanyakanlah

kepada peraih medali perak olimpiade”

Dahulu, saya termasuk orang yang tepat waktu. Saat perkuliahan baru dimulai pukul 07.30, saya telah berada di kampus pukul 06.30

Saat kegiatan ekstra dimulai pukul 16.00 saya telah siap pukul 15.00

SEKARANG

Kelas dimulai pukul 07.30, saya baru masuk pukul 09.00 gara-gara keasyikan nonton infotainment pagi.

Kegiatan ekstra dimulai pukul 16.00 saya baru muncul pukul 17.00 karena kebablasan tidur siang

Jika saya ingat-ingat, mungkin itu semua karena saya menganggap, “toh, yang lainnya juga ngaret..tepat waktu juga percuma..buang-buang tenaga” Saya akui, lingkungan sekitar memiliki faktor sangat kuat dalam mempengaruhi kemampuan kita untuk menghargai waktu.

SAMPAI PADA AKHIRNYA

Pengalaman hidup telah menuntun saya pada suatu pemahaman bahwa

Time is a Mistery, For Those Who Wait For It

Saat saya bersikap acuh, “lihat saja besok”, saya sedang membuat diri saya dalam ketidakpastian sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan paling sederhana, seperti  “apa saja kegiatan selanjutnya?”

Time is a Boundary, For Those Who Can’t Deal With It

Saat saya “tidak mampu mengelola” waktu minggu tenang, saya cukup kalang kabut dan akhirnya nilai ujian saya amburadul

Time is a Luxury, For Those Who Can’t Buy More Of It

Saat dokter memvonis bahwa waktu yang tersisa untuk kakek saya kemungkinan tinggal sedikit lagi, saya bertekad “memberikan apapun” untuk membuatnya memiliki lebih banyak  waktu, tapi saya tidak mampu..tidak juga seluruh anggota keluarga yang lain.

Time is the Key, For Those Who Set Priority To It

Saat saya dapat “menentukan prioritas” maka saya dapat menyelesaikan seluruh tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada saya baik dalam lingkup keluarga, kuliah, dan kegiatan lainnya.

“Waktu” adalah hal yang sangat unik, ia tidak dapat diulang..tidak dapat dibeli..tidak dapat dilawan..yang dapat kita lakukan hanyalah menjalaninya sebaik mungkin.”

Agar pemahaman tersebut tidak hanya mengendap menjadi WACANA, namun juga TINDAKAN NYATA, beberapa hal telah saya terapkan bagi diri saya untuk menghargai waktu:

  • TO DO LIST : Merencanakan apa saja yang akan saya lakukan, baik jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek seperti kegiatan esok hari. Bagi saya, hal ini penting untuk dilakukan sehingga waktu 24jam benar-benar dapat saya alokasikan bagi apa dan siapa saja yang memang sudah sepantasnya saya prioritaskan.

  • PENALTI : Saya berprinsip untuk mentraktir teman saya jika saya terlambat menepati waktu janjian, dengan demikian saya memiliki dorongan lebih besar untuk datang tepat waktu,

  • LIVING THE MOMENT : When I’m with you, I Belong to you. Saat ini, Gadget, terutama Blackberry adalah distraction utama ketika kita sedang bersama orang-orang yang kita sayangi sehingga menurunkan kualitas waktu kita bersama mereka. Seringkali saya mematikan BB (kecuali benar-benar urgent) untuk memastikan bahwa mereka mendapat perhatian penuh ketika bersama saya

Saya pernah berpikir, jika saya tidak memiliki uang..saya akan mendonorkan darah untuk membantu sesama..jika saya tidak sanggup mendonorkan darah maka saya akan memberikan perhatian untuk mereka yang membutuhkan, tetapi pernahkah terlintas di benak teman-teman bahwa pemberian paling sederhana seperti perhatian pun memerlukan “waktu”. Kita memerlukan “waktu” untuk berpikir siapa orang yang akan kita perhatikan dan dengan cara apa. “Waktu” merupakan elemen dasar, hal paling sederhana yang pasti dimiliki oleh mereka yang masih hidup. Hargailah waktu, karena tanpa waktu, sesungguhnya kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa.

Devi Syahdina-Universitas Bakrie

Related posts:

  1. Di dalam waktu terselip waktu, time management!
  2. Falsafah Shalat 5 waktu

Leave a Reply