billy boen

When Perfect Beauty Has A Whole New Meaning

October 25, 2010, by JIM-DARE. read: 4,729

When you look in the mirror, what do you see?

Do you like your own reflection?

Let us share our little secret…

Looking back, we all have gone through a lot of physical transformations. Sebagai fashion consultants, kami bertiga tidak terlahir dengan bentuk tubuh ideal, flawless skin, dan rambut indah. We were all ugly ducklings.

Sedari kecil, Susan memiliki masalah dengan berat badannya. Terlahir dengan berat 3.0 kilo tidak jadi jaminan ketika beranjak dewasa, Susan gak akan menjadi gemuk. Sejujurnya ketika menginjak usia balita, bobot tubuhnya selalu di atas rata-rata. Dokter menyarankan agar Susan dikurangi jatah susu formulanya dan jangan kasih gula ke dalam susu formulanya. Beranjak ke usia remaja, kira-kira masa SMP kelas 2, Susan selalu overweight. Saat pelajaran menjahit misalnya, kami semua belajar membuat rok sepan dari scratch, dan pastinya harus mengukur lingkar badan bukan? Saat itu, Janete dan Ruth seperti kebanyakan gadis remaja rata-rata, lingkar badannya di range 70-an cm. Okay, gimana dengan Susan? Saat itu Susan lingkar perutnya hampir 90 cm! Padahal tingginya cuman 158-an cm lho. Kebayang kan, gimana chubbynya?

Lain lagi dengan halnya Janete. Janete adalah sosok atletis, jago olahraga. Tubuhnya menjulang tinggi ke atas, seperti model. Saat anak SMP kelas 1 tinggi badannya 150-an cm, Janet sih udah 160-an. Janete bukan hanya seperti tiang listrik, karena tubuhnya yang super skinny dan tinggi, tetapi juga diejek oleh teman-teman sekelas karena rambutnya yang seperti Sphinx di Egypt. Itu loh, bentuk kepala manusia berbadan singa di atas piramid. Kenapa nickname itu melekat pada Janete? Yah, karena rambut Janet yang wavy (alias keriting) dan mengembang. Maklum, jaman kami kecil dulu, belum nge-trend yang namanya “smoothing”. Ada sih “rebonding”, tapi Janete juga ga mau rambutnya lurus persis kaya papan seluncuran. Aneh banget pasti ga cocok di wajah Janete yang mungil.

Kalau Ruthie paling gak pede dengan giginya. Dari kecil, dia selalu jadi bahan celaan “opung” di keluarga Bataknya. Gigi Ruthie memang tongos waktu kecil, dan karena warna kulitnya juga gelap, yahh dicela abis-abisan deh sama Opung. Menurut Opung, Ruthie kecil seperti monyet. Hii…jahat memang. Akhirnya Ruthie memutuskan untuk pakai kawat gigi. Jangan dikira enak pakai kawat gigi, sakit tau! Berapa banyak gigi yang dicabut dokter? Hmm, banyak deh pokoknya! Bukan hanya itu aja penderitaannya, pas di sekolah, pakai kawat gigi juga jadi bahan celaan teman-teman. Apalagi karena sampai SMA, Ruthie juga masih pakai kawat gigi.

Masa SMP memang sungguh-sungguh berat! Hehe…engga deh, namanya juga anak-anak, semua jadi bahan celaan. Tapi itu dulu, sekarang semuanya berubah! :)

Saat ini Susan engga lagi bermasalah dengan bobot tubuhnya, dengan bantuan nutritionist dia menemukan cara diet yang paling tepat. Okay, mungkin Susan bukan tipenya yang skinny like wafer thin. Tapi, sekarang berat badannya cukup ideal kok dengan tinggi badannya. Kalau chubby di pipi sih, emang ga bisa hilang ya…hahaha…sudah bawaan. Toh, ada shading make-up untuk meniruskan pipi kalau dirasa perlu.

Begitu juga dengan Janete, sekarang dia tau bahwa potongan rambut yang paling ideal untuknya adalah short-crop. Modelnya memang ga jauh-jauh dari bob pendek, tapi dengan “catok” dan kesiap-siagaan Janete yang bela-belain bangun jam 5 pagi untuk “nyatok” rambutnya supaya lurus, toh masalah bisa diatasi.

Kalau Ruthie lain lagi ceritanya, sejak kawat giginya dilepas pas kelas 3 SMA, penampilannya makin prima. Juga pedenya makin bertambah, karena dia bisa sekolah di ESMOD sebagaimana impiannya sejak kecil yaitu jadi Fashion Designer. Mengenai kulitnya yang dulunya hitam, sekarang ga terlalu hitam ah, dengan pemilihan warna pakaian yang tepat, waxing dan threading, warna kulitnya cenderung lebih terang.

Intinya, kalau kita mau berusaha, kita pasti bisa tampil lebih baik lagi. Jangan hanya berdiam diri menatap bayangan di kaca, menyesali bentuk tubuh yang sudah dikarunai Tuhan. Memang kami perlu akui bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang merasa “puas” dengan “mirror-reflection”nya. Maybe when you look in the mirror and a thousand voices echo in your head. This is too big, that’s not big enough. You criticize too much! Images swirl through your mind’s eye. Bone-thin models and drop-dead gorgeous celebrities and singers. Every one of them telling you the same thing. You don’t measure up.

Tetapi percayalah bahwa definisi perfect juga relatif. The truth is we all had been suckered into upholding modern society’s notion of “perfect beauty”. Apakah dengan size L, lantas kamu dianggap gak “perfect”? Lalu, apakah definisi perfect itu adalah size 0 (XS), kulit putih, mata besar, tubuh kurus, rambut lurus, dan tinggi minimal 165 cm? Kalau iya, betapa boringnya dunia ini karena semuanya mirip-mirip! Bukan hanya itu saja, kebayang ga sedihnya Tuhan ketika mendengar putra-putrinya selalu mengeluh mengenai kekurangan fisiknya? Perhaps God longs to break those mirrors and shred our silly fashion magazines! Why? Because God designed you in your mother’s womb…every pore of your being crafted according to His flawless blueprint. You are His and He loves you. You are His child and you are beautiful.
Jadi, kalau Sang Pencipta mengatakan bahwa kamu indah sebagaimana kamu diciptakanNya, lalu apakah pantas jika kita terus-menerus mengeluh, berusaha merekonstruksi ulang hasil karyaNya (plastic surgery, nip tuck, dan sebagainya)?

Mungkin setelah membaca artikel ini, kamu tetap membandingkan dirimu dengan model yang kamu kagumi. Mungkin juga, kamu masih berharap kamu memiliki tubuh lebih tinggi atau bahkan lebih curvy dari yang sekarang. Tetapi sebenarnya, walaupun dari luar model itu terlihat sangat attractive, kenyataannya yang membuat kamu tertarik kepadanya adalah kepribadiannya: kepercayaan dirinya, energetic-nya, dan lain-lain.

Nigel Barker, a world-class photographer and jury of America’s Next Top Model once said, “True beauty comes from the way you smile and sound and shimmy. We are made to be unique; our imperfections make us special. Real beauty–and this comes from years of searching for it and trying to photograph it–exists in everyone.”

Pernyataan bahwa “beauty is only skin-deep” sebenarnya mengandung makna yang jauh lebih luas dari itu. Kita semua melihat kenyataannya di kehidupan keseharian kita: ketika kamu melihat seseorang tertawa terbahak-bahak, menjadi dirinya sendiri di suatu ruangan yang penuh dengan beragam orang, that moment, you’re attracted to them because of their “effortless beauty”.

So learn to love yourself, just show people the way you are and as you go on, you might find that your perception of what it means to look, feel, and be beautiful has changed.

Good luck!

No related posts.

2 Responses to “When Perfect Beauty Has A Whole New Meaning”

  1. i believe of which,On the whole, we should instead put emphasis on this trouble and then make this the highest level of involvement to assist them shell out most of the to begin with event in environs quietly.

  2. Nice post. I be taught something tougher on totally different blogs everyday. It’ll at all times be stimulating to learn content material from other writers and practice a little bit something from their store. I’d desire to make use of some with the content on my weblog whether or not you don’t mind. Natually I’ll offer you a hyperlink in your web blog. Thanks for sharing.

Leave a Reply