Who Are We To Judge?
August 2, 2011, by YOTCA. read: 1,651
Ditulis Oleh: Iman Usman – YOT CA Universitas Indonesia
Tulisan ini sempat saya tampilkan di blog saya ( http://imanusman.com ), dan seringkali saya bahas dalam berbagai kesempatan. Kenapa? Karena menurut saya topik ini cukup penting. Tidak selamanya apa yang kita anggap baik dilakukan, juga baik menurut pandangan orang lain. Bagi sebagian orang yang tidak mau peduli dengan apa kata orang, mereka akan terus tetap jalan, karena mereka percaya dengan apa yang mereka lakukan. Tapi banyak juga cerita dan pengalaman dimana hal-hal seperti ini membuat orang jadi down, dan berhenti untuk berkarya. I repost this blog, simply to remind us (including me). Saya selipkan juga beberapa tambahan, dari post sebelumnya.
Kita sering kali melihat banyak orang yang mencoba melakukan perubahan. Perubahan apapun itu, apakah itu untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, atau bahkan masyarakat luas. Caranya pun beragam, ada yang hendak menghijaukan kota dengan menanam pohon, ada yang membuat panti asuhan untuk menampung anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya, membagi-bagikan makanan kepada anak jalanan, dan masih banyak lagi. Tapi bukan itu yang hendak jadi fokus bahasan saya kali ini.
Mereka yang melakukan hal tersebut, sering kali mendapatkan pujian, dipandang sebagai ‘manusia baik berhati mulia’, tapi juga tak sedikit yang memberi cap jelek. Misalnya, selebritis yang aktif menyantuni anak yatim ketika bulan Ramadhan, dianggap melakukan hal tersebut untuk meningkatkan citranya. Atau seorang politikus yang menyumbang untuk mesjid atau gereja dianggap melakukannya supaya orang memilihnya dalam pemilu.
Contoh lain, beberapa bulan yang lalu, saya sempat hadir dalam roadshow Indonesia Mengajar, program pengiriman lulusan muda Indonesia untuk mengabdi mengajar anak-anak di pelosok Indonesia selama 1 tahun. Seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada Anies Baswedan (pendiri dari Indonesia Mengajar): “mengapa anda melakukan ini? Apakah anda menggunakan ini untuk kepentingan politik? Saya melihat ada kepentingan tertentu di balik ini”.
Saya juga sempat membaca blog salah satu sahabat saya yang mengungkapkan betapa banyak orang di sekelilingnya yang melakukan aktivitas sosial untuk popularitas, dan sejenisnya.
Saya sendiri juga sering menerima komentar miring, baik secara langsung, atau kadang dari pihak ketiga. Ada yang menganggap saya melakukan aktivisme sosial untuk kepentingan pribadi, untuk mendapatkan penghargaan, atau untuk terlihat hebat, dan sejenisnya. Atau ketika misalnya saya melakukan roadshow ke beberapa daerah sering kali saya ditanyakan, “apa tujuan saya melakukan ini semua? siapa “orang besar” yang ada di belakang saya? apa kepentingan saya dibalik semua aktivitas ini, dll?
Contoh, pada saat melakukan roadshow program Parlemen Muda ke Yogyakarta, terlontar pertanyaan dari salah seorang peserta “Kepentingan siapa yang anda bawa? Tidak mungkin membuat kegiatan sebesar ini tanpa dukungan “orang besar”. Kita jangan mudah percaya kawan-kawan, ini pasti gerakan dari pemerintah” — kira kira begitu nada pertanyaannya.
Saya jawab: “……, saya rasa teman-teman mungkin perlu tahu asal dana dari kegiatan ini. ….., teman-teman mungkin tidak tahu bahwa para relawan yang ada bersama kita saat ini, datang dengan uang sendiri, mereka tidak dibayar, tidak mengharapkan apapun. Jadwal dan uang untuk liburan mereka, mereka pergunakan untuk beraktivitas di program ini. Karena mereka percaya bahwa pengorbanan dan usaha yang mereka lakukan bisa memberi manfaat buat orang lain”.
Bayangkan bagaimana perasaan para relawan yang terlibat, yang sudah berkorban (mereka tidak berharap untuk disebut pahlawan, atau diungkap jasa-jasanya di depan publik), tetapi justru masih dicurigai, dipandang sebelah mata, dll. Kadang bagus untuk bersikap kritis, dan tidak menerima begitu saja, dan saya hargai itu. Tapi ada saatnya kita membedakan antara kritis dan sinis.
Teman saya Dina pernah bilang “memang ada sebagian orang yang menganggap dirinya bersikap kritis dengan memberikan penilaian/nasihat (yg justru kadang tidak membangun, namun menjatuhkan), kadang mereka ga sadar, bahwa mereka bukanlah bersikap kritis, melainkan sinis. Tapi, kadang saya juga adalah salah satu dari mereka. Smoga bisa terus memperbaiki diri”
Pertanyaan saya, sebenarnya siapa kita sih? Sehingga berhak memberikan penghakiman tertentu terhadap sesuatu, yang mana yang tahu jawabannya hanyalah orang yang bersangkutan dan Tuhan. Kita juga bukan orang tuanya mungkin, yang hidup bertahun-tahun bersama, dan mengenal dengan persis karakter mereka. Bahkan sepasang suami istripun kadang masih tidak dapat memahami apa yang ada dalam hati pasangannya.
Kalaupun (seandainya) mereka punya niat tertentu di dalam hatinya, menurut saya itu urusan mereka dengan Tuhan. Kita di dunia, hanya dapat melihat, apa yang dilakukannya bermanfaat bagi orang lain. Kalaupun seorang Anies Baswedan menggagas Indonesia Mengajar, karena kepentingan tertentu, saya tidak terlalu peduli. Yang saya tahu, ada ribuan anak di pelosok negeri ini yang terbantu oleh para pengajar muda yang dikirim ke berbagai daerah. Yang saya tahu apa yang dilakukannya membuka ruang bagi para mahasiswa untuk memiliki pemahaman hingga ke grass root, dan siap jadi pemimpin berkualitas.
Terlepas dari apakah sang selebritis mau mendapatkan pamor atau tulus membantu, mungkin yang dilakukannya telah menyelamatkan anak jalanan yang hampir mati kelaparan atau kedinginan.
Bagi saya, apapun niat mereka, selama yang dilakukannya baik untuk orang lain, itu masih jauh lebih baik dari mereka yang hanya gemar memberi label dan berpraduga, tapi masih berdiam diri di rumah, dan tak melakukan apa-apa. Kalaupun pada akhirnya ada hal-hal yang bersifat materiil yang diterimanya, saya menganggap itu adalah balasan dari Tuhan atas apa yang diperbuatnya.
Saya sendiri berada pada titik tidak mau ambil pusing dengan apa kata orang tentang saya. Saya merasa berada pada jalan yang benar, dan masalah niat, itu urusan saya dengan Tuhan. Betapapun saya mencoba meyakinkan teman-teman juga tidak akan ada gunanya, karena itu persoalan niat, bagian dari hubungan saya dengan Tuhan.
Siapa kita sih?
Saya teringat dengan pesan dari Dino Patti Djalal sewaktu kunjungan saya ke Washington DC beberapa waktu silam, “Changemakers are never easy, people often give you labels, names. But the people who make difference are the peope who have courage. They give us labels because they do not have concept, and that is the way that they can do”
Jadi bagi teman-teman yang mau jadi bagian dari perubahan, ingin melakukan sesuatu yang baik, jangan gentar. Jadikan kritik sebagai. Be open minded, follow your hearts, build your future. The one who will win are those who love to explore and beyond borders.
Related posts:


