Yang Muda yang Berkarya yang Merdeka
August 15, 2011, by YOTCA. read: 1,106
Kenny Lischer – YOT CA UI
Sudah tidak lagi menjadi rahasia, bahwa sudah banyak pemuda-pemuda yang mereka menggagas karya-karya mereka bahkan hingga karya-karya tersebut dipakai oleh banyak masyarakat. Pemuda-pemuda yang berani bermimpi mengasah inovasi dan kretivitas. Bermula dari bayangan abstrak sebuah ide, yang dituangkan menjadi karya nyata.
Tentunya, sudah kalian sudah tidak asing lagi dengan nama-nama pemuda-pemuda yang berhasil mengangkat inovasi dan kreativitas menjadi hal yang bermanfaat untuk masyarakat bahkan menjadi Tren ini. Sebut saja seperti Bill Gates (Microsoft), Mark Zuckenberg (Facebook), Sergery Brin & Larry Page (Google). Mereka adalah orang yang mampu menjawab tantangan zaman, bahkan dengan sukses membuat sebuah zaman baru yaitu zaman informasi. Zaman dimana informasi dapat diakses dengan mudah, cepat, dan pengembangan yang signifikan.
Ketiga orang tersebut menjadi contoh bahwa seorang pemuda bisa mengubah dunia. Seorang pemuda dapat menghasilkan sebuah mahakarya dahsyat. Meneropong apa yang telah mereka lakukan, mereka berkiprah dibidang teknologi. Mereka dapat menciptakan sebuah teknologi yang mumpuni. Di bidang inilah para pemuda dapat menyumbangkan ide segar mereka untuk membuat suatu karya yang kreatif dan inovatif.
Bulan Agustus tahun 2011 ini sangat spesial. Bulan kemerdekaan yang dibarengi dengan bulan suci ramadhan. Semangat dan kesucian untuk kembali memperjuangkan Indonesia yang lebih baik lagi. Namun, apakah kita sudah merdeka? Jawabannya Ya secara historis, tetapi belum secara menyuruh. Apalagi dalam segi teknologi. Merdeka? BELUM. Kita masih memiliki depedensi terhadap teknologi luar. Bahkan bersifat adiktif.
Secara teknologi, Indonesia belum merdeka! Kita bukan dijajah oleh bangsa-bangsa asing; kita dijajah oleh keterbelakangan kita sendiri. Oleh ketidakpedulian kita terhadap perlunya melakukan investasi besar-besaran di bidang Iptek. Bahkan riset belumlah menjadi kebutuhan di negeri ini karena dianggap sebagai kegiatan yang tidak langsung menghasilkan uang.
Inilah sebabnya maka di APBN alokasi anggaran untuk riset hanya 0,08%. Itu pun disebar ke berbagai kementerian dan lembaga sehingga tidak tampak fokus yang ingin dituju. Inilah juga sebabnya maka bangsa ini kurang mampu membuat panggung yang memadai untuk menampung generasi muda lulusan perguruan tinggi yang memiliki potensi amat besar di bidang pengembangan iptek.
Siapakah yang salah dalam ini? Mari sama-sama direnungi kembali.
Pesan untuk para pemuda, mari tingkatkan kapabalitas dalam segi IPTEK. Sudah tahukan, bahwa sudah ada pemuda-pemuda yang mampu mengubah dunia ini menjadi lebih baik karena mereka memiliki kecintaan terhadap dunia ini. IPTEK sudah menjadi keharusan untuk selalu dikembangkan setiap saat. Guna mencapai teknologi Indonesia yang merdeka
Related posts:
- Peran Jejaring Sosial membantu Enterpreneur Muda
- “Young On Top” – 30 Rahasia Sukses di Usia Muda
- KADAL YANG TERJERAT
- “Pengalaman bukanlah guru yang baik”
- Bangsa-bangsa Terhebat dan Kenikmatan Dunia yang tidak Terjaga


