Realitas Bisnis yang Ngga Ada di Sosmed

#BBNote62

Sosmed dipenuhin sama hal-hal yang indah, kita semua tau ini. Alasannya macem-macem, ada yang memang flexing dan dengan tujuan untuk menginspirasi orang lain, untuk bikin orang lain envy/jeles/iri, ada juga yang posting untuk jadi semacam album kenangan yang bisa diliat-liat lagi suatu hari nanti, makanya yang diposting yang indah-indah aja. Ada juga yang mikir, masa posting yang sedih-sedih… ngapain sebar kesedihan dan minta dikasianin? Terlepas apapun alasannya…

Kalau bahas dunia bisnis, kita juga semua tau bahwa jadi entrepreneur itu ngga gampang. Statistiknya 90% bisnis mati di beberapa tahun pertama, dan 50%nya yang berhasil lewatin masa itu akan mati sebelum tahun kelima. Dan hanya sedikit banget yang bisa bertahan dan ngelewatin 10 tahun, 15 tahun, dan lebih dari 20 tahun.

Ngebangun bisnis itu banyakan susahnya daripada gampangnya. Lebih banyak sedihnya daripada hepinya. Makanya, jumlah karyawan akan selalu lebih banyak dibanding jumlah bisnis owner di dunia ini. Susahnya apa aja?

  • Jadi founder itu sering kesepian. Karena jumlah founder dikit, jadi memang susah untuk bisa punya sahabatan sesama founder yang bisa kita curhatin dan tuker pikiran sesering yang kita mau. Kalo kita curhatnya ke temen kita yang karyawan, seringkali frekuensinya ngga dapet. Mereka tau apa kesulitan yang kita hadapi, tapi mereka ngga akan pernah bisa ngerti apa yang kita rasain dan pressure yang kita hadapin.
  • Semua orang bilang untuk bikin bisnis, perlu plan yang matang. Selama saya jadi corporate executive dan akhirnya jadi entrepreneur dan investor, memang bisnis plan itu penting, tapi believe it or not, saya belum pernah liat ada bisnis plan yang 100% akurat. Seringkali bisnis itu bisa bertahan karena berhasil merevisi bisnis plannya ditengah jalan, dan trial error terus sampe dapetin “formula yang tepat”.
  • Bisnis banyak yang akhirnya mati karena cash-nya akhirnya kering. Terlepas karena produknya ngga bagus, target marketnya salah, atau apapun itu, tapi saya seringkali hal-hal tersebut dikarenakan si founder/CEO-nya ngga berani ambil keputusan. Yes, being decisive, berani ambil keputusan secara cepat adalah salah satu skill yang harus dipunyai seorang founder/CEO. Seringkali, keputusan itu harus diambil tanpa adanya data yang cukup. Yes, kalau ini yang dihadapi, sang founder/CEO harus berani ambil keputusan berdasarkan gut feeling/instinct-nya.
  • Ada pepatah: “Entrepreneur tuh adalah orang-orang yang ngga mau kerja 40 jam per minggu untuk orang lain, dan milih untuk kerja 80 jam per minggu untuk dirinya sendiri”. Kalo dipikir-pikir bener juga. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa jadi entrepreneur tuh kerjanya santai. In fact, our mind muter terus “24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun”, mikirin: Apalagi yang harus saya lakuin biar perusahaan saya bisa berkembang, bisa lebih efisien, bisa lebih cuan, dsb.

Tentunya, kalau bisnisnya bisa bertahan dan berkembang, yes… rewardsnya “berjuta kali” dibandingin yang didapat kalau kamu memilih untuk jadi karyawan. Apakah jadi karyawan ngga bisa kaya? Bisa, kalau gaji yang kamu dapetin kamu investasiin dan investasinya sukses. Jadi apakah semua orang harus jadi entrepreneur? Jawaban saya dari dulu hingga sekarang dan selamanya: Ngga.

See You ON TOP!
Billy Boen

X/Youtube: @billyboen, IG/Thread: @billyboenYOT, Linkedin: Billy Boen